Kajian SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) yang digelar di Masjid Kampus UGM pada Ahad (1/3) menghadirkan Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. sebagai narasumber. Dalam kajian bertajuk “Peran Kita dalam Pembangunan Berkelanjutan”, ia menekankan pentingnya pembentukan karakter, penguasaan ilmu, serta kerja sama dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
RDK UGM kembali menggelar Ramadan Public Lecture (RPL) pada Sabtu (28/2) di Masjid Kampus UGM. Kajian yang berlangsung selepas salat isya ini menghadirkan dosen Hubungan Internasional FISIP UI, Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D., dengan tema “Jalan Panjang Perdamaian: Hubungan Multilateral dan Peran Strategis Indonesia dalam Misi Perdamaian Dunia.”
Dalam paparannya, Shofwanmengajak jemaah melihat dinamika konflik global melalui perspektif sejarah dan politik internasional. Ia menekankan bahwa berbagai gejolak dunia hari ini tidak dapat dilepaskan dari perebutan pengaruh global serta upaya sebagian kekuatan besar membentuk ulang tatanan internasional.
Ramadan datang setiap tahun, tetapi tidak selalu menghadirkan perubahan dalam diri manusia. Padahal, dalam sejarah Islam, bulan suci ini justru menjadi momentum pembentukan karakter umat yang paling kuat. Hal inilah yang disampaikan oleh Dosen Perbankan Syariah UAD, Ahmad Arif Rifan, S.H.I., M.S.I. dalam Mimbar Subuh pada Sabtu (28/2).
Dalam pemaparannya, Arif mengajak jemaah menengok kembali karakter generasi awal Islam, khususnya para sahabat Nabi Muhammad saw. Ia mengutip riwayat sahabat Abdullah bin Mas’ud yang menjelaskan bahwa generasi sahabat memiliki kualitas spiritual yang istimewa karena sikap mereka terhadap dunia dan akhirat.
Ia menjelaskan bahwa para sahabat dikenal memiliki dua karakter utama, zuhud terhadap dunia dan memiliki orientasi kuat terhadap akhirat. Menurutnya, karakter ini menjadi fondasi yang membentuk sikap hidup mereka, termasuk dalam hal berbagi dan bersedekah.
“Generasi sahabat itu memiliki karakter kuat. Mereka sangat zuhud terhadap dunia dan sangat bersemangat terhadap akhirat,” jelasnya.
Mengapa hukum di Indonesia sering terasa hadir secara formal tetapi gagal menyelesaikan persoalan masyarakat? Pertanyaan ini menjadi kegelisahan publik ketika berbagai regulasi terus dibuat, namun problem sosial dan ketidakadilan tetap bermunculan.
Menjawab kegelisahan tersebut, program SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) menghadirkan Guru Besar Fakultas Hukum UGM, Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M. sebagai pembicara dalam kajian yang digelar di Masjid Kampus UGM, Sabtu (28/2). Kajian yang dimoderatori Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, ini berlangsung selepas salat Asar dan diikuti ratusan jemaah.
Dalam pemaparannya, akademisi yang akrab disapa Uceng itu menyoroti hubungan erat antara hukum dan moralitas serta dampaknya terhadap kualitas penegakan hukum di Indonesia.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Prof. Dr. Zuly Qodir, S.Ag., M.Ag. menegaskan bahwa keberagaman merupakan fondasi utama dalam membangun manusia Indonesia yang inklusif dan harmonis. Hal ini ia sampaikan dalam Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM pada Jumat (27/2).
Dalam pemaparannya, Zuly menjelaskan bahwa pluralitas Indonesia, baik dari sisi agama, etnis, kelas sosial, maupun ekspresi sosial adalah sunatullah yang tidak dapat diingkari. Upaya menyeragamkan masyarakat dalam satu identitas tunggal justru bertentangan dengan prinsip penciptaan yang telah digariskan Allah dalam Alquran, khususnya Surah Al-Hujurat.
“Kalau Allah menghendaki manusia seragam, tentu tidak diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Perbedaan itu untuk saling mengenal dan saling menolong,” ujarnya.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Prof. Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc. menegaskan pentingnya generasi muda memahami prinsip keuangan syariah sebagai landasan dalam mengelola keuangan secara adil, aman, dan sesuai dengan nilai Islam. Hal ini disampaikan dalam kajian SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) di Masjid Kampus UGM, Jumat (27/2).
Dalam pemaparannya, Anggito menekankan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan penguatan literasi keuangan syariah, khususnya bagi mahasiswa. Ia menyebut generasi muda saat ini memiliki kecenderungan mencari keuntungan secara instan, termasuk melalui investasi berisiko tinggi.
“Prinsip mengelola keuangan itu sudah jelas diatur dalam Alquran, hadis, dan fatwa ulama. Kita harus memahami apa yang halal, apa yang haram, dan apa yang membawa maslahat,” ujarnya.
Ramadan Public Lecture (RPL) yang digelar pada Kamis (26/02) di Masjid Kampus UGM menghadirkan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Ibnu Basuki Widodo, S.H., M.H. Mengangkat tema “Quo Vadis Pemberantasan Korupsi Indonesia, Masih Adakah Ruang bagi Optimisme?”, ia mengajak jemaah menimbang kembali arah perjuangan melawan korupsi di tengah tantangan yang kian kompleks.
“Di akhirat kelak, setiap orang akan berdiri di atas kakinya sendiri. Tidak ada bantuan yang datang, dan tidak ada hakim yang bisa disuap.”
Dalam kajian SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan), Dahliana Hasan, S.H., M.Tax., Ph.D., Dekan Fakultas Hukum UGM, memaparkan topik “Merestorasi Budaya Hukum Indonesia” pada Kamis (26/02).
Kajian yang berlangsung menjelang waktu berbuka ini membedah berbagai persoalan hukum nasional, mulai dari lemahnya integritas hingga merosotnya moralitas dalam penegakan hukum.
RDK UGM 1447 H menghadirkan ruang refleksi dan diskusi khusus perempuan melalui agenda Women Inspiring Talk (WIT) pada Jumat (27/2). Kegiatan ini mempertemukan perempuan-perempuan inspiratif untuk berbagi gagasan mengenai peran perempuan dalam menghadapi berbagai tantangan sosial sekaligus berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Acara ini menghadirkan dua narasumber, yakni sastrawan sekaligus sosiolog Okky Madasari, Ph.D. serta sastrawan Sasti Gotama, dengan moderator Dosen Fakultas Psikologi UGM, Fakhirah Inayaturrobbani, S.Psi., M.A. Diskusi mengangkat tema “Perempuan Berdaya, Membangun Bangsa yang Digdaya” yang menyoroti realitas sosial yang dihadapi perempuan serta pentingnya keberanian menyuarakan keadilan.
Dalam pembukaannya, moderator menegaskan bahwa kehadiran peserta dalam forum ilmu merupakan bentuk ikhtiar intelektual yang bernilai ibadah. Ia mengajak peserta untuk menjadikan ruang diskusi sebagai sarana mencari solusi bagi persoalan masyarakat yang lebih luas.
Ibadah puasa di bulan Ramadan sejatinya bukan hanya rutinitas menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum krusial untuk melakukan transformasi diri secara fundamental. Pesan ini mengemuka dalam kajian Mimbar Subuh yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pakar ICMI Sleman, Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, M.M., pada Kamis pagi (26/2).
Di hadapan jemaah, Heru menjabarkan empat pilar transformasi yang harus diraih umat Muslim agar ibadah puasa bermuara pada derajat ketakwaan (la’allakum tattaqun). Keempat pilar tersebut mencakup transformasi spiritual, emosional, moral, dan sosial.