Halal Class kembali digelar di Ruang Utama Masjid Kampus UGM pada pada Kamis sore (14/5). Kajian yang disiarkan langsung melalui YouTube ini menghadirkan Wakil Ketua Halal Center UGM, Ir. Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. dengan pembahasan seputar fikih kurban dan pentingnya memahami syariat penyembelihan hewan secara benar menjelang Iduladha.
Ada momen dalam hidup ketika dada terasa penuh, pikiran tak bisa fokus, dan nama seseorang tiba-tiba hadir tanpa diundang di setiap sudut hari. Situasi tersebut sering kali membawa seseorang pada persimpangan dilematis untuk menimbang, apakah perasaan sebaiknya tetap tersimpan rapat atau diutarakan secara terbuka?
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia pada berbagai capaian intelektual yang luar biasa. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan kecerdasan akademik, manusia kerap melupakan satu hal penting, yaitu kebersihan hati. Tidak sedikit orang yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual. Dalam kondisi inilah, Al-Qur’an menghadirkan konsep hati bukan sekadar sebagai pusat emosi, melainkan juga pusat kesadaran, pemahaman, dan keimanan.
Menyambut Iduladha 1447 Hijriah bukan hanya soal menyembelih hewan kurban, tetapi juga memahami makna ibadah kurban dan melaksanakannya dengan benar. Hal tersebut disampaikan dalam kajian Halal Class Masjid Kampus UGM bertajuk “Fikih Penyembelihan Hewan dan Penanganan Daging Kurban yang Higienis” menghadirkan Wakil Ketua Halal Center UGM, Ir. Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., Kamis (7/5).
Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, profesionalitas, dan daya saing global. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng. dalam kegiatan Webinar Serial Integrasi Ilmu–Agama: Seri Kajian Buruh yang diselenggarakan oleh Masjid Kampus UGM pada Rabu (6/5). Dalam pemaparannya, Rektor UGM periode 2017-2022 tersebut menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus tetap berlandaskan nilai-nilai akhlak dan kebangsaan.
Banyak orang sibuk mencari pasangan dengan label green flag dan menghindari red flag. Namun, tidak banyak yang benar-benar berhenti sejenak untuk bertanya: apakah diri ini sudah siap untuk sebuah hubungan yang serius?
Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang pernah mengalami dua fase yang datang silih berganti, yakni masa ketika rezeki terasa lapang dan masa ketika keadaan justru terasa sempit. Ada saat ketika usaha berjalan baik, kebutuhan terpenuhi, dan harapan seolah terbuka lebar. Namun, ada pula masa ketika pengeluaran datang beruntun, pemasukan melambat, dan kegelisahan tentang masa depan mulai menguat. Pada titik-titik seperti inilah, manusia kerap diuji bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara batin.
Ketegangan antara Iran dan Israel-Amerika Serikat kembali menempatkan Indonesia pada posisi yang tidak sederhana dalam percaturan global. Dalam Polemology Forum di Masjid Kampus UGM, Kamis (30/4), Drs. Muhadi Sugiono, M.A. menegaskan bahwa konflik ini bukan sekadar krisis regional, melainkan test case penting untuk menguji sejauh mana Indonesia mampu memainkan peran sebagai kekuatan menengah di dunia internasional.
Pemerataan layanan kesehatan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, khususnya bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di tengah berbagai persoalan akses dan pemahaman masyarakat mengenai sistem jaminan kesehatan nasional, konsep gotong royong dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif bagi seluruh warga negara.
Memahami pentingnya memilih pasangan menjadi hal mendasar karena pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup. Berangkat dari kegelisahan akan keraguan dan ketidaktahuan, Sakinah Academy pada Senin (27/4) mengangkat tema “Choosing the Right One: Menyusun Kriteria Pasangan yang Tepat”. Kajian ini membahas bagaimana menentukan pasangan yang tepat dengan keyakinan melalui institusi pernikahan. Tanpa interaksi panjang sekalipun, bahkan dalam hubungan intens, fase pernikahan tetap kerap menghadirkan perbedaan.