• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Zakat sebagai Instrumen Keadilan Ekonomi: Ketua DMI DIY Tekankan Urgensi dan Manfaat Berzakat

Zakat sebagai Instrumen Keadilan Ekonomi: Ketua DMI DIY Tekankan Urgensi dan Manfaat Berzakat

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 24 Maret 2025, 14.53
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Mimbar Subuh yang diselenggarakan pada Ahad (23/3/2025) menghadirkan Prof. Dr. Muhammad, M.Ag., Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Dewan Masjid Indonesia (DMI) DIY, sebagai pembicara. Dalam tausiah bertema “Distribusi Kekayaan Melalui Zakat: Tafsir Al-Qur’an tentang Keadilan Ekonomi,” beliau menyoroti pentingnya zakat sebagai instrumen keadilan sosial yang berperan dalam menyeimbangkan perekonomian masyarakat.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Muhammad, M.Ag. menjelaskan hakikat harta dalam perspektif Islam. “Harta adalah sesuatu yang paling disukai (dan) paling dicintai,” ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa kepemilikan harta harus diarahkan sesuai tuntunan syariat. “Tentang hartanya didapat dari mana dan digunakan untuk apa,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menguraikan tiga kategori penting dalam memperoleh harta. Pertama, harta yang halal secara zat. “Yang pertama harus kita perhatikan, bagaimana harta yang kita dapatkan itu, dia halal secara zat atau tidak?” katanya. Ia menjelaskan bahwa benda seperti bangkai, darah, babi, dan minuman beralkohol termasuk dalam kategori yang diharamkan secara zat.

Kedua, beliau membahas harta yang haram bukan karena zatnya, tetapi karena cara memperolehnya yang tidak adil, seperti praktik kecurangan dalam timbangan. “Perilaku ketidakadilan di dalam takaran. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala mengecam keras orang yang curang di dalam takaran,” tegasnya.

Ketiga, Prof. Dr. Muhammad menyoroti pentingnya keabsahan akad dalam transaksi harta. “Kalau rukun transaksi, ada yang bertransaksi atau objek transaksikan kemudian ada ijab kabul,” jelasnya, menegaskan bahwa transaksi yang sah harus memenuhi syarat dan rukun yang ditetapkan.

Beranjak ke topik utama, beliau menjelaskan filosofi zakat dan dampaknya pada harta seseorang. “Kenapa kita harus melakukan itu? Padahal secara matematika, bahwa harta yang kita keluarkan untuk zakat sesungguhnya mengurangi harta kita,” katanya. Ia menegaskan bahwa meskipun secara lahiriah zakat tampak mengurangi harta, pada hakikatnya zakat membawa keberkahan dan balasan berlipat ganda dari Allah SWT.

Prof. Dr. Muhammad juga menyoroti peran strategis zakat dalam mengurangi kesenjangan sosial dan kemiskinan. “Kemiskinan tidak bisa dihapus, tapi hanya bisa kita kurangi gap-nya,” jelasnya. Ia berharap zakat dapat meningkatkan perekonomian kelompok menengah ke bawah melalui berbagai skema, seperti pembiayaan usaha, pinjaman modal, dan bantuan produktif lainnya.

Lebih lanjut, beliau menyoroti tanggung jawab perusahaan dalam membayar zakat. “Karena dalam bahasa fikih, perusahaan itu sebagai sesuatu yang mukallaf. Mukallaf itu entitas yang bisa terkena hukum,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa zakat yang dikeluarkan perusahaan justru berpotensi menggerakkan roda perekonomian. “Ketika perusahaan itu mengeluarkan zakat, maka sesungguhnya dia menciptakan permintaan barang. Sehingga semakin banyak zakatnya, maka semakin banyak permintaan yang akan tumbuh,” ujarnya.

Menutup tausiyahnya, Prof. Dr. Muhammad mengajak para jamaah untuk memprioritaskan akhirat sebagai tujuan utama hidup. “Ketika kita mengejar akhirat, pasti dunia akan ikut. Tapi, kalau kita ngejar dunia, insyaallah, akhiratnya dilupakan,” pesannya. (Ilham Gusti Helmy Alamsyah/Editor: Ismail Abdulmaajid/Foto: Ramadhan Di Kampus UGM)

Post Views: 32

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Mengatasi Overthinking Masa Depan ala Pengasuh PP Darush Shalihin
  • Benarkah Filsafat Merusak Iman? Guru Besar Filsafat UGM Ungkap Fakta Sebaliknya
  • Empat Gagasan Memajukan Masjid di Era AI Dibahas dalam Bedah Buku Masjid Kampus UGM
  • Rahasia Manajemen Waktu Menurut Psikolog UGM: Awali Hari dari Magrib agar Lebih Produktif
  • Dokter Spesialis Anak Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pranikah sebagai Bekal Membangun Keluarga Sehat
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY