Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari Yogyakarta, Afifi Abdul Wadud, B.A., mengajak umat Islam untuk memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai momentum meningkatkan kesungguhan ibadah sekaligus membersihkan hati dari berbagai penyakit spiritual. Hal tersebut disampaikan dalam kajian Mimbar Subuh bertajuk “Menjaga Diri dari Penyakit Hati” pada Selasa (10/3).
Dalam pemaparannya, Afifi mengingatkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan fase yang sangat istimewa. Rasulullah ﷺ, menurutnya, memberikan teladan dengan meningkatkan kesungguhan ibadah pada periode tersebut, bahkan melebihi hari-hari sebelumnya.
“Ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Nabi menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, mengurangi waktu tidur, dan membangunkan keluarganya agar tidak tertinggal meraih keutamaan Ramadan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kesungguhan tersebut berkaitan dengan kaidah penting dalam Islam bahwa amal dinilai dari akhirnya. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan menutup Ramadan dengan amal terbaik agar kekurangan pada hari-hari sebelumnya dapat tertutupi.
Keutamaan Lailatul Qadar
Afifi juga menjelaskan bahwa pada sepuluh malam terakhir terdapat malam yang sangat agung, yaitu Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Menurutnya, nikmat tersebut merupakan karunia besar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ yang rata-rata memiliki umur lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu.
“Seribu bulan itu setara lebih dari 83 tahun. Maka orang yang mendapatkan Lailatul Qadar seakan-akan memperoleh kesempatan beribadah dalam waktu yang sangat panjang,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan agar umat Islam tidak justru lalai pada akhir Ramadan karena disibukkan dengan urusan dunia, seperti berbelanja atau aktivitas lain yang mengurangi kesungguhan ibadah.
Hati yang Selamat sebagai Bekal Akhirat
Dalam kajian tersebut, Afifi mengutip firman Allah bahwa pada hari kiamat kelak harta dan anak tidak lagi memberikan manfaat, kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qalbun salim). Menurutnya, Islam tidak melarang seseorang memiliki kekayaan, jabatan, ataupun kedudukan tinggi. Namun semua itu tidak boleh membuat manusia melupakan Allah dan melanggar batas-batas agama.
“Yang menjadi masalah bukan harta atau kekuasaan, tetapi ketika seseorang diperbudak oleh keduanya hingga mengabaikan halal dan haram,” jelasnya.
Afifi menjelaskan bahwa secara umum penyakit hati dapat dirangkum dalam dua jenis utama, yaitu syahwat dan syubhat.
Penyakit syahwat berkaitan dengan hawa nafsu yang merusak niat dan orientasi seseorang. Dorongan tersebut dapat berupa kecintaan berlebihan terhadap kenikmatan dunia, seperti harta, kekuasaan, popularitas, maupun keinginan dipuji melalui amal yang seharusnya dilakukan karena Allah.
Sementara itu, syubhat merupakan penyakit yang merusak pemahaman dan keyakinan seseorang. Ketika syubhat menguasai hati, seseorang dapat mengalami kerancuan dalam berpikir sehingga sulit membedakan antara yang benar dan yang salah.
Afifi menilai bahwa syubhat lebih berbahaya karena sering kali membuat seseorang merasa sedang berada di jalan yang benar, padahal sebenarnya menyimpang.
Cara Menjaga Kesehatan Hati
Untuk menjaga hati dari penyakit tersebut, Afifi mengibaratkan perawatan hati seperti merawat tubuh. Hati harus diberi asupan yang baik berupa amal ketaatan, dijauhkan dari racun berupa kemaksiatan, dan dibersihkan melalui taubat apabila telah terjatuh dalam dosa.
“Hati adalah penentu perjalanan seorang hamba menuju Allah. Semakin sehat hati seseorang, semakin mudah ia berjalan menuju kemuliaan di sisi-Nya,” ungkapnya.
Ia menutup kajian dengan mengajak jemaah memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak ibadah, menjaga kebersihan hati, serta berdoa agar diberi kesempatan meraih Lailatul Qadar.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat