Nasionalisme Indonesia di era digital menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring berkembangnya teknologi informasi dan maraknya penyebaran narasi kebencian di media digital. Diskusi ini dibahas dalam Webinar Serial Integrasi Ilmu-Agama (WIIA) Seri Studi Pancasila, Rabu (24/6). Kesempatan ini dibersamai oleh Prof. Nyarwi Ahmad, S.IP., M.Si., Ph.D., dalam tema “Masa Depan Nasionalisme Indonesia dalam Menghadapi Narasi Kebencian Digital.”
Ia menyatakan bahwa tema nasionalisme di era digital, khususnya dalam menghadapi maraknya narasi kebencian, merupakan topik yang sangat luas dan rumit. Menurutnya, pembahasan tersebut mencakup konsep nasionalisme itu sendiri, narasi kebencian, disinformasi, hoaks, hingga dinamika media digital yang berkembang saat ini. “Kalau bicara nasionalisme di Indonesia itu ada sudah banyak karya-karya yang menuliskannya. Baik dari pendekatan politik, sosiologi, komunikasi, termasuk komunikasi politik juga ada,” ujarnya di Zoom Meeting.
Salah satu teori yang ia angkat ialah pemikiran Benedict Anderson mengenai imagined community atau komunitas yang dibayangkan. Nyarwi menyatakan bahwa Anderson mempertanyakan bagaimana masyarakat dengan latar belakang suku, agama, ras, dan warna kulit yang berbeda dapat merasa sebagai satu bangsa. Menurutnya, media menjadi salah satu sarana penting yang membangun imajinasi kebangsaan tersebut.
Selanjutnya, Nyarwi menjelaskan bahwa Indonesia secara sosiologis bukanlah satu bangsa tunggal, melainkan terdiri atas banyak bangsa atau multibangsa. Ia menyatakan bahwa hal itu dapat ditelusuri dari sejarah organisasi-organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan berbagai perkumpulan lainnya sebelum lahirnya Sumpah Pemuda. “Indonesia sebagai negara besar itu konsensus politik. Kemudian dalam fase perkembangan sosiologi dan history itu kan bukan hanya konsensus politik, tetapi menjadi fenomena yang berkembang secara sosiologis,” ungkapnya.
Pembicara juga menjelaskan bahwa perkembangan urbanisasi, migrasi, serta perkawinan antarsuku telah memperkuat identitas sebagai bangsa Indonesia. Ia menyatakan bahwa saat ini seseorang bisa lahir di satu daerah, tumbuh di daerah lain, menggunakan bahasa yang berbeda dari bahasa leluhurnya, tetapi tetap memiliki identitas sebagai orang Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki wilayah kepulauan yang sangat luas dengan keberagaman bahasa, budaya, suku, dan agama yang luar biasa kompleks. Meski demikian, Indonesia mampu bertahan sebagai negara bangsa melalui konsensus politik yang telah disepakati.
Pembicara kemudian membahas Pancasila sebagai pondasi ideologi bangsa. Ia menyatakan sepakat bahwa Pancasila menjadi dasar negara, tetapi memilih menjelaskan dari sudut pandang praktik sosial dibandingkan aspek normatifnya. Menurutnya, keputusan para pendiri bangsa untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan pilihan politik yang tepat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan perubahan besar yang terjadi sejak era reformasi hingga berkembangnya teknologi digital. Ia menyatakan bahwa dahulu akses informasi masih terbatas melalui buku, radio, dan televisi sehingga narasi mengenai kebangsaan relatif seragam. Namun, setelah reformasi dan berkembangnya internet serta media sosial, setiap orang memiliki kesempatan memproduksi sekaligus menyebarkan informasi. “Kita saksikan hari ini dulu internet lama sekali aksesnya. Kemudian, muncul media sosial yang seringkali menghadirkan informasi narasi yang sangat pendek dan cepat,” ujarnya.
Nyarwi menyatakan bahwa kondisi tersebut melahirkan tantangan baru berupa maraknya misinformasi dan disinformasi. Menurutnya, disinformasi merupakan informasi yang sengaja diproduksi untuk menyesatkan masyarakat. Ia menambahkan bahwa media sosial menempatkan semua orang pada posisi yang setara dalam menyampaikan informasi. Hal tersebut membuat pendapat seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam seringkali dianggap sama dengan orang yang hanya memperoleh informasi secara singkat melalui media sosial.
Lebih lanjut, pembicara menjelaskan bahwa nasionalisme Indonesia memiliki karakter yang berbeda dibandingkan nasionalisme di berbagai negara lain. Ia menyatakan bahwa nasionalisme Indonesia bersifat inklusif dan sekuler, bukan nasionalisme yang dibangun atas dasar agama, ras, atau etnis tertentu. Menurutnya, kondisi inilah yang menjadi salah satu kekuatan Indonesia dalam menjaga persatuan hingga saat ini. “Nah, itu yang menjadikan pondasi Indonesia sampai hari ini masih kokoh karena tidak muncul misalnya nasionalis Jawa, nasionalis Sunda, atau nasionalisme Islam, Kristen,” paparnya.
Nyarwi juga mengingatkan bahwa narasi kebencian pada dasarnya dibangun di atas eksklusivisme. Ia menyatakan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah seharusnya dibedakan dengan ujaran kebencian. Menurutnya, kritik merupakan bagian dari demokrasi, sedangkan narasi kebencian bertujuan merendahkan martabat kelompok lain sehingga dapat membahayakan kehidupan bersama.
Selanjutnya, pembicara menjelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat masih memiliki kecenderungan hidup secara eksklusif, baik dalam lingkungan tempat tinggal, sekolah, maupun komunitas tertentu. Ia menyatakan bahwa kecenderungan tersebut sebenarnya merupakan tantangan bagi pembangunan masyarakat yang semakin inklusif.
Nyarwi menegaskan bahwa pada era digital, eksklusivisme semakin diperkuat oleh algoritma media sosial. Ia menjelaskan adanya fenomena filter bubble, yaitu kondisi ketika seseorang hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya sendiri sehingga semakin sulit menerima perspektif yang berbeda. Menurutnya, algoritma media sosial juga membentuk kelompok-kelompok yang hanya saling berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa.
Nyarwi kemudian mengangkat contoh polarisasi politik yang terjadi dalam beberapa pemilu di Indonesia. Ia menyatakan bahwa berbagai istilah yang muncul selama kontestasi politik memperlihatkan bagaimana narasi kebencian dapat berkembang dengan sangat cepat melalui media sosial. “Untungnya narasi kebencian itu hanya diamankan pada tokoh. Tokoh itu artinya kalau saya suka A, mencintai B, itu mungkin masih natural. Namun, tidak dipegangkan pada identitas negara bangsa, wilayah, agama, suku,” katanya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa era digital membawa tantangan baru bagi generasi muda. Ia menyatakan bahwa Generasi Z dan Generasi Alpha hidup di tengah melimpahnya informasi yang dapat diakses dengan sangat cepat. Namun, kemampuan untuk memilah, memverifikasi, dan mengolah informasi secara kritis justru menjadi risiko tersendiri. Ia menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis jauh lebih penting daripada sekadar mengakses informasi.
Menurut Nyarwi, media sosial memiliki kecenderungan membentuk kelompok-kelompok yang hanya ingin mendengar pandangan yang sama. Ia menyatakan bahwa fenomena tersebut mempersempit cara pandang masyarakat. Ia mengarahkan untuk penting memiliki multi perspektif dalam melihat dunia dari berbagai dimensi. “Multi perspektif itu penting, melihat dunia dari berbagai dimensi, melihat dari berbagai kebudayaan juga. Saya kira Indonesia itu pondasinya akan kokoh kalau kita punya cara berpikir seperti itu ya,” tekannya.
Penulis: Hanifah
Editor: Muhammad Khanif Samudera