“Menikah itu bukan suatu kondisi yang statis atau stagnan. Ibarat berlayar mengarungi lautan luas, kita akan menghadapi badai, topan, dan ombak. Namun, kita akan tetap bisa melampaui itu semua jika memiliki penghayatan yang mendalam tentang maksud pernikahan itu sendiri,” ujar Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog.
Ungkapan pemantik tersebut disampaikan dalam acara kajian Sakinah Academy bertajuk “Peta Ilmu Pra-Nikah: Membangun Fondasi Kognitif Menuju Pernikahan Berkah” yang digelar pada Senin (15/6). Bertempat di Ruang Utama Masjid Kampus UGM, kajian tersebut mengupas tuntas mengapa generasi muda saat ini tidak boleh hanya bermodalkan emosi saat memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Menurut riset Dr. Radia Bustan dari Universitas Al-Azhar Indonesia yang dipaparkan oleh pembicara, kesiapan kognitif dan pemahaman mendalam atas hakikat pernikahan adalah kunci utama ketahanan keluarga.
7 Fondasi Kognitif Hakikat Pernikahan
Berdasarkan kompilasi ayat-ayat Al-Qur’an, Bagus Riyono menguraikan tujuh maksud dan hakikat pernikahan yang harus dipahami dan dihayati secara mendalam oleh setiap pasangan:
1. Menyempurnakan Agama dan Ujian Hidup
Menikah disebut oleh Rasulullah SAW sebagai separuh dari agama. Hal ini karena dinamika kehidupan setelah menikah sangat berbeda dengan saat hidup sendiri. “Menikah itu menyempurnakan keimanan kita, di sisi lain juga menyempurnakan ujian hidup kita, menguji kesabaran, dan keteguhan iman kita,” jelas Bagus.
2. Mendatangkan Sakinah (Ketenangan)
Pernikahan adalah sarana untuk mendapatkan ketenangan (sakinah). Menariknya, konsep sakan (rumah/home) di sini tidak merujuk pada bangunan fisik atau lokasi geografis. “Namanya home itu sebetulnya bukan bangunan, tetapi hati yang tertaut antara suami dan istri. Di mana pun Anda berada, kalau bersatu dalam keluarga, maka itulah home, tempat Anda pulang dan merasa tenang setelah lelah bekerja,” tuturnya.
Untuk meredam gesekan yang pasti terjadi, Allah mengaruniakan muwaddah (saling mencintai dan berbagi peran) serta rahmah (kasih sayang).
Baca juga: Guru Besar FISIPOL UGM: Krisis Kepercayaan Ancam Stabilitas Bangsa
3. Jalan Menuju Terjaminnya Rezeki
Banyak generasi muda yang menunda pernikahan dengan alasan menunggu mapan secara finansial. Bagus menekankan bahwa mindset kognitif seperti ini justru terbalik jika merujuk pada janji Allah di dalam Al-Qur’an. “Bukannya untuk menikah harus punya rezeki yang cukup dulu, tapi menikahlah, maka insyaallah rezekimu akan cukup. Menikah itu menjadi sebab untuk rezekinya cukup, bukan akibat,” tegasnya.
Ketika hati sudah tenang setelah menikah, seseorang akan jauh lebih konsentrasi dan lancar dalam bekerja maupun belajar.
4. Menjaga Kejelasan Nasab
Dari ranah sosial dan sosiologi, pernikahan berfungsi untuk menjaga kejelasan garis keturunan (nasab). Kejelasan nasab ini penting untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang tertata, jelas posisinya, dan kuat, bukan untuk tujuan nepotisme.
5. Memuliakan dan Melindungi Hak Perempuan
Bagus mematahkan stigma kelompok tertentu yang menganggap pernikahan merugikan kaum perempuan. Dalam ajaran Islam, pernikahan justru sangat memuliakan perempuan. Buktinya secara hukum, perempuan tidak kehilangan identitasnya (tetap menggunakan nama binti ayahnya, bukan melebur ke nama suami seperti budaya Barat). Selain itu, harta pribadi perempuan dilindungi sepenuhnya.
“Nafkah itu hak murni istri. Uang belanja untuk keluarga tetap kewajiban suami, dan uang nafkah khusus istri tidak boleh diminta kembali oleh suami, kecuali jika istri memberikannya secara sukarela atas dasar kasih sayang,” terangnya.
6. Fondasi Peradaban dan Melawan Population Collapse
Secara makro, keluarga adalah fondasi dari sebuah peradaban. Saat ini, banyak negara maju yang sekuler menghadapi fenomena population collapse (penyusutan penduduk secara ekstrem) karena masyarakatnya enggan menikah karena merasa terkekang. Bagus juga mengkritisi tren childfree yang mulai marak di kalangan modern.
“Propaganda childfree itu bisa menjadi agen dari populasi yang kolaps. Menikah tanpa mau punya anak membuat masa depan peradaban bangsa menjadi suram,” kritiknya.
7. Merintis Kebahagiaan Sejati di Akhirat
Hakikat tertinggi dari pernikahan umat Muslim adalah visi jangka panjang yang menembus batas dunia. Pernikahan yang dilandasi kesabaran dan saling mendukung adalah tempat merintis berkumpulnya kembali keluarga yang saleh dan salihah di akhirat kelak, di mana kebahagiaan sejati tanpa masalah baru akan benar-benar nyata.
Di akhir pemaparannya, Bagus Riyono mengingatkan bahwa realitas kehidupan, termasuk dalam berumah tangga, pasti akan selalu mengalami fase naik dan turun. Perasaan kecewa, marah, atau sedih adalah hal yang manusiawi dan pasti akan berlalu layaknya awan badai yang berganti cerah.
Ia mengutip Quran Surat Al-Insyirah untuk menekankan pentingnya ketahanan mental agar tidak terjebak dalam lingkaran trauma:
“Manusia pasti punya masalah, tapi yang penting kita mau ke mana. Lihatlah ke depan, jangan menengok ke belakang terus. Wa ila faroghta fangshob, begitu selesai menghadapi suatu urusan, maka kerjakanlah hal berikutnya dengan sungguh-sungguh, dan hanyalah berharap kepada Allah. Jangan terjebak dan tidak move on.”
Penulis: Isa Maliki
Editor: Indra Oktafian Hidayat