• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Sakinah Academy
  • Doom Scrolling Perparah Kecemasan Mahasiswa, Psikolog Jelaskan Penyebabnya

Doom Scrolling Perparah Kecemasan Mahasiswa, Psikolog Jelaskan Penyebabnya

  • Sakinah Academy
  • 12 Juni 2026, 13.22
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0
Wirdatul Anisa di Maskam UGM

Kajian Kamis Sore yang diselenggarakan oleh Masjid Kampus UGM pada Kamis (11/6) menghadirkan Wirdatul Anisa, M.Psi., Psikolog. sebagai pemateri dengan tema “Doom Scrolling sebagai Pelarian dari Tekanan Akademik”. Kegiatan yang berlangsung di ruang utama Masjid Kampus UGM tersebut diikuti mahasiswa dan masyarakat umum sebagai ruang refleksi mengenai kesehatan mental di era digital.

Dalam pemaparannya, Anisa menjelaskan bahwa doom scrolling merupakan kebiasaan menggulir media sosial secara terus-menerus, terutama untuk mengonsumsi informasi negatif, saat seseorang sedang mengalami stres, cemas, atau tekanan emosional. Menurutnya, perilaku tersebut banyak dilakukan mahasiswa sebagai bentuk pelarian dari tuntutan akademik, seperti tugas menumpuk, ujian, hingga tekanan deadline.

“Awalnya hanya ingin istirahat lima menit, tetapi tanpa sadar bisa berlangsung setengah jam bahkan lebih. Setelah selesai pun, rasa cemas justru bertambah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut bukan sekadar persoalan kurang disiplin, melainkan bentuk coping mechanism atau mekanisme pengalihan dari perasaan tidak nyaman. Aktivitas menggulir media sosial memberikan sensasi nyaman sementara sehingga seseorang terdorong untuk terus mengulanginya meskipun menyadari dampaknya kurang baik.

Anisa juga memaparkan bahwa doom scrolling berkaitan dengan cara kerja otak, khususnya sistem penghargaan (reward system) dan hormon dopamin. Rasa penasaran terhadap konten berikutnya membuat seseorang terus terdorong membuka media sosial. Selain itu, manusia cenderung lebih mudah terikat pada informasi negatif dibandingkan informasi positif atau dikenal sebagai negativity bias.

Baca juga: Kepala PSP UGM: Pancasila Harus Menjadi Kompas Etik Pengembangan Ilmu Pengetahuan

“Konten negatif lebih mudah melekat di otak kita. Akibatnya, seseorang menjadi lebih cemas, sulit rileks, dan terus mencari informasi lain tanpa sadar,” jelasnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental maupun fisik, seperti meningkatnya stres dan kecemasan, gangguan tidur, menurunnya produktivitas, hingga ketergantungan terhadap media sosial. Ia menambahkan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan pada malam hari juga dapat menurunkan kualitas tidur meskipun durasi tidur terlihat cukup.

Dalam sesi diskusi, peserta turut membagikan pengalaman terkait kebiasaan menonton konten secara berlebihan sebagai bentuk pelarian dari stres. Menanggapi hal itu, Anisa menyarankan agar seseorang mulai mengenali aktivitas alternatif yang lebih sehat untuk membantu mengelola emosi, seperti olahraga, journaling, mengikuti kajian, atau melakukan kegiatan yang memberi efek menenangkan.

Ia juga mengingatkan pentingnya membatasi screen time, memilih informasi yang dikonsumsi, serta menunda dorongan impulsif untuk membuka media sosial. Menurutnya, langkah kecil seperti menanyakan tujuan saat ingin membuka media sosial dapat membantu seseorang mengontrol perilakunya dengan lebih sadar.

“Yang kita butuhkan bukan distraksi terus-menerus, tetapi keberanian untuk menghadapi kecemasan dan mencari strategi coping yang lebih sehat,” tuturnya.

Kajian ditutup dengan ajakan kepada peserta untuk mulai mengurangi kebiasaan doom scrolling secara perlahan melalui peningkatan regulasi emosi dan pengelolaan penggunaan media sosial yang lebih bijak.

Penulis: Aulia Mahdini

Editor: Indra Oktafian Hidayat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Post Views: 97
Tags: doom scrolling Kajian Jogja kajian maskam wirdatul anisa

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Cuma Modal Penampilan Belum Tentu Muslim Sejati? 5 Hal Penting Ini Malah Sering Dilupakan!
  • Salah Kaprah Selama Ini! Guru Besar UGM Sebut Konsep ‘Islamisasi Ilmu’ Ternyata Keliru?
  • Rakyat Cuma Jadi Korban! Dosen HTN UGM ‘Kupas Tuntas’ Kenapa Hukum Selalu Tunduk pada Kekuasaan
  • Gara-Gara Kejar Gengsi, Keberkahan Nikah Bisa Hilang? Pengasuh PPTQ Az-Zakiyyah Ungkap Faktanya
  • Amanah Keadilan Terancam? Pesan Menohok Media Askar untuk Seluruh Anak Muda Indonesia
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY