Integrasi antara wahyu dan ilmu pengetahuan dinilai perlu dibangun melalui kerangka keilmuan yang sistematis agar tidak berhenti sebagai gagasan normatif. Dalam konteks Islam, wahyu dapat ditempatkan sebagai salah satu basis dalam membangun ilmu pengetahuan, termasuk antropologi, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip keilmuan.
Gagasan tersebut dibahas dalam Webinar Serial Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi: Antropologi Profetik sesi ketiga yang diselenggarakan Masjid Kampus UGM secara daring pada Rabu (19/8). Kegiatan bertajuk “Paradigma Profetik Islam: Basis Filosofis” tersebut menghadirkan Prof. Drs. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., Ph.D., Guru Besar Antropologi dan Seni Budaya UGM, dengan Dr. Arqom Kuswanjono, S.S., M.Hum. sebagai penanggap.
Dalam pemaparannya, Heddy menjelaskan bahwa pembangunan antropologi profetik masih berada pada tahap awal. Menurutnya, kerangka tersebut perlu dibangun secara bertahap mulai dari basis filosofis hingga nantinya dapat diterapkan dalam penelitian dan menghasilkan teori maupun representasi ilmiah.
Wahyu sebagai Basis Pembangunan Ilmu Profetik
Heddy menjelaskan bahwa salah satu cara strategis untuk mengintegrasikan wahyu dan ilmu pengetahuan adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai basis dalam membangun ilmu profetik. Menurutnya, ayat-ayat Al-Qur’an dapat dikaji untuk menemukan konsep yang memiliki keterkaitan dengan berbagai bidang keilmuan.
Ia mencontohkan ayat-ayat yang berkaitan dengan manusia dan kehidupan sosial sebagai dasar untuk melihat kemungkinan pengembangan antropologi. Pendekatan serupa, menurutnya, dapat diterapkan dalam bidang lain seperti filsafat, psikologi, maupun ekonomi.
Menurut Heddy, pengintegrasian tersebut tidak cukup dilakukan dengan menambahkan ayat Al-Qur’an ke dalam ilmu pengetahuan yang sudah ada. Ayat perlu dikaji secara sistematis untuk menemukan basis pengetahuan yang kemudian dapat dikembangkan menjadi kerangka keilmuan.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat membuka kemungkinan lahirnya berbagai ilmu profetik yang tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga memiliki dimensi transendensi, humanisasi, dan liberasi.
Menafsirkan Konsep Adam dalam Perspektif Antropologi
Dalam sesi diskusi, salah satu pertanyaan membahas teori evolusi manusia dan konsep Adam sebagai nenek moyang manusia. Menanggapi hal tersebut, Heddy mempertanyakan kembali apakah Adam harus dipahami sebagai nama seorang individu atau dapat pula dipahami sebagai sebuah kategori
manusia.
Menurutnya, pemaknaan tersebut perlu dikaji melalui antropologi fisik dan antropologi biologi. Ia menjelaskan bahwa dalam ilmu biologi, evolusi tidak berlangsung pada individu, melainkan pada populasi melalui proses yang berkaitan dengan genetika populasi.
Karena itu, konsep Adam menurutnya dapat ditafsirkan melalui dialog antara teks keagamaan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Penafsiran terhadap ayat, menurut Heddy, dapat berkembang seiring dengan berkembangnya pengetahuan manusia.
Ia menekankan bahwa hubungan antara wahyu dan ilmu pengetahuan tidak harus ditempatkan dalam posisi yang saling bertentangan. Sebaliknya, ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk memperkaya penafsiran terhadap konsep-konsep yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Transendensi dalam Antropologi Profetik
Heddy juga menjelaskan posisi transendensi dalam antropologi profetik. Menurutnya, salah satu perbedaan penting antara antropologi profetik dan antropologi yang melihat agama semata-mata sebagai objek kajian ilmiah terletak pada keberadaan dimensi transendensi.
Dalam antropologi profetik, agama tidak hanya dipelajari sebagai fenomena sosial dan budaya, tetapi juga memiliki hubungan dengan keyakinan terhadap Tuhan. Transendensi menjadi salah satu unsur yang diharapkan dapat memberikan arah bagi pengembangan ilmu.
Menurutnya, persoalan sosial seperti konflik dan kekerasan antarmanusia menunjukkan pentingnya dimensi tersebut. Ia merujuk pada pesan Al-Qur’an mengenai manusia yang diciptakan berbangsabangsa dan bersuku suku agar saling mengenal.
Heddy menilai antropologi profetik dapat berkontribusi dalam memahami persoalan tersebut dengan memasukkan transendensi sebagai bagian dari kerangka keilmuannya. Dengan demikian, antropologi tidak hanya berusaha memahami manusia, tetapi juga mendorong manusia menjadi semakin manusia dan memiliki orientasi kepada Tuhan.
Membangun Inter subjektivitas dalam Ilmu Profetik
Persoalan objektivitas ilmiah juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam sesi diskusi. Heddy menjelaskan bahwa dalam ilmu sosial dan budaya, intersubjektivitas memiliki posisi penting karena tidak semua pengetahuan dapat dibuktikan melalui pengukuran empiris seperti dalam ilmu-ilmu alam.
Menurutnya, sebuah penafsiran dapat menjadi intersubjektif ketika mampu dijelaskan secara logis dan dapat dipahami serta diterima oleh komunitas ilmiah. Ia mencontohkan kajian sastra, struktur bahasa, dan strukturalisme yang memiliki konsep-konsep yang tidak selalu dapat diamati secara langsung, tetapi tetap dapat dikembangkan melalui argumentasi dan pembuktian yang memadai.
Dalam konteks ilmu profetik, koherensi menjadi salah satu dasar penting dalam membangun kebenaran. Heddy mengaitkannya dengan coherence theory of truth, yakni pandangan bahwa suatu gagasan dapat dinilai berdasarkan keterkaitan dan konsistensi logis antarkomponen di dalamnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut tetap dapat diperkuat dengan bukti-bukti empiris apabila memungkinkan. Dengan demikian, ilmu profetik tidak harus meninggalkan prinsip keilmuan, tetapi perlu memperluas cara memahami dan membangun pengetahuan.
Paradigma, Pandangan Hidup, dan Unsur Implisit
Dalam diskusi berikutnya, Heddy membedakan paradigma dengan pandangan hidup. Menurutnya, pandangan hidup dapat menjadi bagian dari paradigma, tetapi keduanya tidak sepenuhnya sama.
Pandangan hidup berada dalam kehidupan sehari-hari dan tidak selalu disertai metodologi maupun teori yang sistematis. Sementara itu, paradigma digunakan dalam kegiatan ilmiah dan memiliki unsur yang lebih lengkap, mulai dari pandangan hidup, asumsi dasar, nilai, model, masalah penelitian, kata kunci, metode, teori, hingga representasi.
Ia juga menjelaskan bahwa sebagian unsur paradigma bersifat implisit. Seseorang dapat menggunakan suatu sistem pengetahuan tanpa secara sadar mampu menjelaskan struktur yang mendasarinya.
Heddy mengibaratkannya dengan tata bahasa. Penutur suatu bahasa dapat menggunakan bahasa secara tepat meskipun belum tentu mampu menjelaskan aturan tata bahasa yang digunakannya. Namun, pada tingkat pendidikan tertentu, terutama jenjang doktoral, unsur-unsur tersebut perlu disadari agar peneliti mampu memahami dan mengkritisi landasan keilmuannya sendiri.
Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi
Tiga nilai utama yang digunakan dalam pembahasan paradigma profetik adalah humanisasi, liberasi, dan transendensi. Heddy menjelaskan bahwa ketiganya menjadi titik awal dalam membangun paradigma profetik, meskipun nilai tersebut masih terbuka untuk dikembangkan.
Humanisasi diarahkan pada upaya menjadikan manusia semakin manusia, sedangkan liberasi berkaitan dengan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Sementara itu, transendensi menghubungkan kehidupan manusia dengan dimensi ketuhanan.
Dalam diskusi, muncul pula usulan untuk memasukkan keadilan sebagai nilai tambahan dalam paradigma profetik. Heddy menyatakan bahwa nilai tersebut memungkinkan untuk dikembangkan, tetapi untuk sementara ia memilih mempertahankan tiga nilai utama agar kerangka awal lebih mudah
dipahami.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut nantinya dapat diperluas seiring berkembangnya paradigma dan penelitian yang dilakukan oleh komunitas ilmiah.
Metodologi dan Pengembangan Antropologi Profetik
Heddy menegaskan bahwa pembangunan antropologi profetik tidak berhenti pada basis filosofis. Setelah fondasi tersebut disepakati, paradigma perlu dikembangkan melalui metodologi, penelitian, analisis, teori, hingga representasi ilmiah.
Ia membedakan metode penelitian dalam konteks tertentu sebagai metode pengumpulan data dengan metode analisis sebagai cara mengolah dan memahami data yang telah diperoleh. Menurutnya, keduanya perlu dipisahkan karena kemampuan mengumpulkan data tidak selalu diikuti kemampuan menganalisisnya.
Selain itu, hasil analisis perlu dikembangkan menjadi teori dan kemudian direpresentasikan dalam karya ilmiah. Representasi menjadi bagian penting karena pengetahuan yang dihasilkan harus dapat disampaikan secara sistematis agar dapat dipahami dan dinilai oleh komunitas ilmiah.
Heddy juga menekankan bahwa hubungan antarunsur dalam paradigma bukanlah sebuah lompatan. Asumsi dasar akan memengaruhi cara peneliti melihat data, melakukan analisis, membangun teori, hingga menghasilkan representasi. Seluruhnya harus memiliki hubungan yang logis.
Membangun Paradigma melalui Komunitas Ilmiah
Menurut Heddy, antropologi profetik pada tahap ini belum dapat dianggap sebagai paradigma yang telah selesai. Kerangka tersebut masih membutuhkan pengembangan melalui penelitian dan keterlibatan komunitas ilmiah.
Ia menilai paradigma baru akan benar-benar terbentuk apabila terdapat peneliti yang menggunakannya, menghasilkan penelitian, mengembangkan teori, serta menghasilkan etnografi dan berbagai bentuk representasi ilmiah.
“Kalau ini sudah menjadi antropologi yang profetik, ini sebuah komunitas ilmiah, maka harus ada orang yang melakukan penelitian.”
Karena itu, pembangunan antropologi profetik tidak dapat dilakukan oleh satu orang saja. Paradigma tersebut perlu diuji, didiskusikan, dikembangkan, dan digunakan oleh lebih banyak peneliti agar dapat berkembang menjadi sebuah kerangka keilmuan yang utuh.
Menutup sesi, Heddy menegaskan bahwa pembangunan paradigma profetik masih membutuhkan proses panjang. Pertemuan berikutnya akan diarahkan pada pembahasan metodologi untuk melihat bagaimana kerangka filosofis tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan penelitian. “Untuk bisa menjadikannya betul-betul ada, maka kita harus berkarya nantinya.”
Penulis: Aulia Mahdini
Editor: Muhammad Khanif Samudera