Perkembangan teknologi yang begitu pesat, khususnya dalam bidang kecerdasan artifisial (AI), telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Banyak hal yang dahulu memerlukan waktu, tenaga, dan proses berpikir panjang, kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah manusia masih benar-benar menggunakan akalnya secara optimal?
Tulisan dan Khotbah
Pada Jumat (3/4), khotbah disampaikan oleh Dosen Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya Sekolah Vokasi UGM, Ghifari Yuristiadhi, S.S., M.A., M.M., C.H.E. yang mengangkat tema “Takwa yang Berkelanjutan”.
Memasuki bulan Syawal 1447 H, umat Islam diingatkan untuk tidak menjadikan momen pasca-Ramadan sebagai titik akhir ibadah, melainkan sebagai awal dari konsistensi amal saleh. Dalam khotbah Jumat bertajuk “Syawal di Era Digital”, Wakil Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Ir. Muhammad Agung Bramantya, S.T., M.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. menekankan pentingnya menjaga ketakwaan di tengah derasnya arus digital yang kian tak terbendung.
Ribuan jemaah memadati Lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) UGMpada Jumat (20/3) untuk menunaikan Salat Idulfitri 1447 H. Bertindak sebagai khatib, Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M. menyampaikan khotbah bertema “Meneguhkan Kembali Takwa dan Keadilan sebagai Fondasi Peradaban.”
Khotbah Jumat di Masjid Kampus UGM menghadirkan Ketua Takmir Masjid Mardliyyah Islamic Center UGM, Dr. Drs. Ir. Senawi, M.P., IPU. sebagai khatib dengan tema “Ramadan: Momentum Meraih Derajat Takwa, Memperdalam Empati Sosial, dan Meningkatkan Kualitas Diri.” Dalam khotbahnya, ia mengajak jemaah menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum pembentukan karakter, penguatan empati sosial, sekaligus peningkatan kualitas diri.
Dalam pembukaan khotbahnya, Senawi mengingatkan pentingnya meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Menurutnya, ketakwaan bukan sekadar konsep spiritual yang abstrak, tetapi fondasi utama dalam membangun manusia yang berintegritas serta masyarakat yang berkeadaban.
Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA) menghadirkan Guru Besar Antropologi UGM, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., yang mengulas tema “Negara dan Etika Kekuasaan: Menerjemahkan Nilai-Nilai Profetik ke dalam Tata Kelola Modern.” Kegiatan ini diselenggarakan pada Rabu (4/3).
Dalam pemaparannya, ia mengulas secara mendalam hubungan antara nilai, fakta, dan perilaku manusia dalam kehidupan sosial. Menurutnya, nilai tidak serta-merta dapat mengubah perilaku seseorang secara langsung, melainkan harus melalui proses yang panjang dan bertahap sebelum benar-benar terwujud dalam tindakan nyata.
Krisis lingkungan global yang semakin kompleks menjadi perhatian dalam khotbah Jumat yang disampaikan oleh Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UNIDA Gontor, Aldy Pradhana, S.Si., M.Phil. di Masjid Kampus UGM, Jumat (6/3). Dalam khotbah bertajuk “Kaum Muslimin di Tengah Krisis Lingkungan” ini, Aldy menyoroti fenomena triple planetary crisis atau tiga krisis besar planet yang saat ini dihadapi umat manusia, yaitu perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Khotbah Jumat (27/2) di Masjid Kampus UGM disampaikan oleh Dr. Rizal Mustansyir, M.Hum., Ketua Takmir Periode 2020–2024 sekaligus Penasihat Takmir Masjid Kampus UGM. Dalam khotbahnya, beliau mengangkat tema “Kebijaksanaan Hidup dalam Perspektif Islam”, sebuah refleksi mendalam tentang makna hikmah dan urgensinya dalam kehidupan seorang muslim, terlebih di bulan Ramadan.
Mengawali khotbahnya, Rizal mengajak jemaah untuk senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa sebagai bekal menuju kehidupan abadi. Ia menegaskan bahwa hidup di dunia kian singkat, sementara pertanggungjawaban di hadapan Allah bersifat kekal.
Isu Palestina kembali menjadi pengingat penting bagi umat Islam tentang posisi hati dan kualitas keimanan. Dalam khotbah Jumat bertajuk “Ketika Palestina Masih Mengetuk: Bagaimanakah Ketetapan Hati Seorang Mukmin?”, Dosen Departemen Hukum Internasional FH UGM, Fajri Matahati Muhammadin, S.H., LL.M., Ph.D. mengajak jemaah merefleksikan persoalan Palestina bukan sekadar isu geopolitik, melainkan batu uji keteguhan hati seorang mukmin.
Di awal khotbahnya, Fajri mengangkat kisah sejarah Perang Surabaya 1945. Ia menyinggung bagaimana media Barat kala itu melabeli para pejuang Indonesia sebagai “muslim fanatics” dan menyebut tokoh perjuangan sebagai “terrorist leader”.
“Sejarah itu sering berulang, meskipun tidak dengan cara yang sama persis,” ujarnya.
Khotbah Jumat yang disampaikan di Masjid Kampus UGM pada Jumat (13/2), mengangkat tema “Ramadan yang Berkah dalam Perspektif Waktu: Perjalanan Manusia Menuju Surga”. Dalam penyampaiannya, Agung mengajak jemaah memaknai kehidupan sebagai perjalanan panjang yang terus berlanjut menuju keselamatan hakiki, serta menempatkan Ramadan sebagai momentum penting untuk memperbaiki arah perjalanan tersebut.
Pada bagian awal khotbah, Ia menegaskan bahwa kehidupan manusia berjalan terus tanpa terputus hingga datangnya kematian. “Perjalanan manusia itu adalah perjalanan yang sifatnya continue. Tidak ada perjalanan manusia yang sifatnya discontinue. Ketika perjalanan itu terhenti, maka selesailah sudah,” ujarnya. Kematian disebut sebagai batas berhentinya amal, namun selama hidup manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menambah kebaikan.