Khotbah Jumat bertema “Hakikat Ajaran Islam dalam Kacamata Jawa” disampaikan oleh Dosen Departemen Bahasa dan Sastra FIB UGM, Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. pada Jumat (22/5) di Masjid Kampus UGM. Dalam khotbahnya, Rudy mengajak jemaah memahami kembali esensi Islam yang tidak berhenti pada simbol dan ritual, tetapi hadir sebagai kekuatan moral yang nyata di tengah kehidupan.
Tulisan dan Khotbah
Pernahkah Anda merasa nyaman dengan kebiasaan buruk tertentu? Merokok saat stres, menunda salat karena malu dibilang sok alim, atau bahkan mulai memandang pernikahan sebagai sesuatu yang menakutkan? Jangan-jangan, ini bukan sepenuhnya salah Anda, melainkan dampak dari lingkaran pertemanan yang selama ini Anda pilih.
Pada hakikatnya, karunia dari Allah Swt., ialah sesuatu hal yang telah diambil manfaatnya oleh makhluk hidup. Konsep pemanfaatan ini turut disampaikan oleh Prof. Drs. Mudasir, M.Eng., Ph.D., Ketua Senat Akademik Fakultas MIPA UGM, bahwa sesuatu hal yang manusia kumpulkan belum tentu disebut rezeki sepanjang belum dimanfaatkan, dalam kesempatan Khotbah Jumat Masjid Kampus UGM, (15/5). Mengemukakan tema, “Rezeki, Ikhtiar, dan Tawakal dalam Kehidupan Akademik dan Profesional,” Mudasir menyebut bahwa rezeki tidak terbatas pada harta benda karena lebih luas. Ia bisa dihimpun Allah Swt., melalui kesehatan, kebahagiaan, ketenangan jiwa, atau meliputi karunia yang dapat dimanfaatkan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia pada berbagai capaian intelektual yang luar biasa. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan kecerdasan akademik, manusia kerap melupakan satu hal penting, yaitu kebersihan hati. Tidak sedikit orang yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual. Dalam kondisi inilah, Al-Qur’an menghadirkan konsep hati bukan sekadar sebagai pusat emosi, melainkan juga pusat kesadaran, pemahaman, dan keimanan.
Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang pernah mengalami dua fase yang datang silih berganti, yakni masa ketika rezeki terasa lapang dan masa ketika keadaan justru terasa sempit. Ada saat ketika usaha berjalan baik, kebutuhan terpenuhi, dan harapan seolah terbuka lebar. Namun, ada pula masa ketika pengeluaran datang beruntun, pemasukan melambat, dan kegelisahan tentang masa depan mulai menguat. Pada titik-titik seperti inilah, manusia kerap diuji bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara batin.
Di tengah zaman ketika batas antara yang pantas dan yang biasa kian kabur, satu pertanyaan mendasar mengemuka, masihkah rasa malu hidup dalam diri manusia? Dalam khotbah di Masjid Kampus UGM pada Jumat (24/4), Reki Ristianto, Lc., M.H. menegaskan bahwa hilangnya rasa malu bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan indikator yang berkaitan erat dengan kondisi iman seseorang.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari aktivitas transaksi dan perniagaan. Setiap interaksi, baik dalam bisnis maupun hubungan sosial, hampir selalu diiringi harapan akan keuntungan. Namun, realitas menunjukkan bahwa tidak semua perniagaan berakhir dengan hasil yang diinginkan. Lantas, adakah bentuk perniagaan yang benar-benar menjanjikan keuntungan tanpa risiko kerugian?
Perkembangan teknologi yang begitu pesat, khususnya dalam bidang kecerdasan artifisial (AI), telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Banyak hal yang dahulu memerlukan waktu, tenaga, dan proses berpikir panjang, kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah manusia masih benar-benar menggunakan akalnya secara optimal?
Pada Jumat (3/4), khotbah disampaikan oleh Dosen Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya Sekolah Vokasi UGM, Ghifari Yuristiadhi, S.S., M.A., M.M., C.H.E. yang mengangkat tema “Takwa yang Berkelanjutan”.
Memasuki bulan Syawal 1447 H, umat Islam diingatkan untuk tidak menjadikan momen pasca-Ramadan sebagai titik akhir ibadah, melainkan sebagai awal dari konsistensi amal saleh. Dalam khotbah Jumat bertajuk “Syawal di Era Digital”, Wakil Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Ir. Muhammad Agung Bramantya, S.T., M.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. menekankan pentingnya menjaga ketakwaan di tengah derasnya arus digital yang kian tak terbendung.