Keresahan pada luka yang tidak bisa didefinisikan terkadang membawa petaka emosional yang cukup serius. Memahami tentang luka, Sakinah Academy pada Senin (25/5) mengangkat tema “Healing Before Committing: Menata Luka Masa Lalu untuk Kesiapan Relasi yang Sehat” bersama psikolog Herlini Utari, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Dalam pemaparannya, Herlini Utari atau yang kerap disapa Elin menyampaikan bahwa pembahasan mengenai healing seringkali dimaknai secara sederhana, padahal banyak orang sebenarnya belum memahami luka apa yang mereka miliki. “Kadang-kadang orang tidak menyadari lukanya apa, tetapi dampaknya sangat terasa,” ujarnya di Masjid Kampus UGM.
Ia menjelaskan bahwa seseorang kerap datang dengan berbagai persoalan relasi tanpa mengetahui akar emosinya. Karena itu, menurutnya, penting untuk mengenali luka, memahami prosesnya, lalu belajar mengurainya agar tidak terus terbawa dalam hubungan berikutnya.
Elin yang sehari-hari berdinas di Rumah Sakit Jiwa Gracia mengungkapkan bahwa relasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, baik dengan keluarga, pasangan, teman, maupun lingkungan kerja, dan akademik. Namun, tidak semua relasi menghadirkan rasa aman. “Ada beberapa orang yang relasi itu sangat menyenangkan, tapi ada juga yang relasi itu sangat menyakitkan,” katanya.
Baca juga: Dosen FIB UGM Sebut Konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar Telah Lama Hadir dalam Nilai Luhur Budaya Jawa
Ia menggambarkan bahwa banyak individu membawa “keruwetan” atau “kebundetan” dari relasi masa lalu dan berharap pasangan dapat menyembuhkannya. Padahal, menurutnya, setiap orang juga memiliki luka masing-masing. Karena itu, ia menegaskan bahwa fokus utama bukan mencari pasangan yang tepat, melainkan menjadi pribadi yang sehat secara mental terlebih dahulu. Menurutnya, luka bukan sesuatu yang harus dihapus sepenuhnya, tetapi perlu diproses agar tidak menjadi sumber masalah dalam relasi selanjutnya.
Dalam praktik pendampingan pasien, Elin banyak menemukan individu yang terus terjebak dalam pola relasi yang sama. Ada yang selalu bertemu pasangan dengan karakter serupa, terus mengalami konflik yang sama, hingga memiliki ketakutan berlebihan terhadap penolakan dan ditinggalkan. Ia mencontohkan, seseorang yang sejak kecil terbiasa dimarahi atau diabaikan akan membentuk mekanisme pertahanan diri tertentu. Ketika dewasa, pola tersebut terbawa ke dalam relasi baru. “Ketika dia menikah, respon yang dia gunakan itu masih respon masa kecilnya,” tuturnya.
Menurutnya, luka psikologis sebenarnya berada di otak, khususnya pada bagian sistem limbik dan amigdala yang mengatur emosi. Saat seseorang mengalami luka dan tidak memprosesnya, otak akan membentuk mekanisme bertahan agar tidak terluka lagi. “Kalau kita pernah disakiti, maka otak akan berjuang keras supaya tidak terluka lagi,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa luka yang tersimpan di alam bawah sadar dapat memengaruhi cara berpikir, merespons situasi, hingga membentuk keyakinan tertentu dalam diri seseorang. Dalam sesi tersebut, Elin juga menjelaskan teori attachment style atau gaya kelekatan yang memengaruhi cara seseorang berelasi di usia dewasa. Ia membagi attachment menjadi empat tipe, yakni secure, anxious, avoidant, dan disorganized.
Attachment secure terbentuk dari pengasuhan yang konsisten dan penuh rasa aman. Sementara anxious muncul dari pola kasih sayang yang tidak konsisten sehingga individu cenderung takut ditinggalkan dan terus mencari validasi. “Biasanya dulunya itu lukanya adalah pengasuhan yang tidak konsisten gitu. Kadang sayang, marah, dan ketika marah dia merasa dibenci. Mereka akan merasa bahwa waspada supaya tidak ditinggalkan,” lengkapnya.
Adapun avoidant terbentuk dari pengalaman emosional yang sering diabaikan sehingga individu memilih menghindari kedekatan emosional. Sedangkan disorganized merupakan kombinasi anxious dan avoidant yang membuat seseorang bingung terhadap perasaannya sendiri. “Semrawut rasanya seperti dia sayang, tetapi sulit percaya sama orang misalnya. Jadi sering bingung dengan perasaannya sendiri,” sebutnya.
Meski demikian, Elin menegaskan bahwa attachment insecure bukan kondisi permanen. Menurutnya, perubahan dapat terjadi ketika seseorang mulai menyadari luka, memahami pola responnya, lalu belajar merubah dengan cara yang lebih sehat. Walaupun terjadi dari zaman kecil dan sudah tumbuh puluhan tahun, tetap bisa dirubah dengan menyadari sehingga respon tidak lagi “autopilot” hasil amigdala yang hiperaktif.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa relasi toksik sering kali muncul bukan semata karena pasangan, tetapi karena mekanisme pertahanan diri yang tidak adaptif. Ketakutan kehilangan dapat berubah menjadi perilaku mengontrol, rasa tidak aman berubah menjadi kemarahan berlebihan, hingga ketakutan ditolak memunculkan perilaku manipulatif. “Nah, kadang tanpa kita sadari mekanisme itulah yang membuat relasi menjadi toksik,” katanya.
Elin menekankan bahwa luka sebenarnya tidak selalu berdampak buruk. Ada luka yang membuat seseorang menjadi lebih tangguh ketika berhasil diproses dengan baik. Menurutnya, yang membedakan adalah ketika seseorang fokus pada kesembuhan atau justru terjebak pada lukanya sendiri. Orang yang fokus pada luka, lanjutnya, cenderung menunggu validasi, penyesalan, atau permintaan maaf dari orang lain agar merasa pulih. Sementara mereka yang fokus pada kesembuhan memahami bahwa pemulihan adalah tanggung jawab pribadi.
Dalam proses healing, Elin menekankan tiga keterampilan utama, yakni menyadari luka, menerima, dan memaknai pengalaman tersebut. Salah satu metode yang ia rekomendasikan ialah journaling atau menuliskan luka dan emosi yang dirasakan. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya mindfulness untuk membantu seseorang fokus pada kondisi saat ini, bukan terus terjebak dalam memori luka masa lalu.
Tidak hanya secara psikologis, Elin juga menegaskan bahwa proses penyembuhan dapat dilakukan melalui perjalanan spiritual. Menurutnya, sebagian orang menemukan ketenangan melalui doa, sujud, tahajud, hingga mengaji. “Kadang kita mencoba secara duniawi, tapi kita juga perlu mencoba upaya-upaya secara spiritual,” tuturnya.
Menutup kajian, ia mengingatkan bahwa ketika sudah bisa mengelola konflik secara konstruktif. Ia pun menegaskan bahwa relasi atau pasangan yang sehat akan hadir pada individu yang lebih pulih dan berdamai dengan dirinya sendiri. “Sembuh dari luka itu bukan berarti lupa sama luka itu sendiri, tetapi ingatan tentang luka itu tidak mengontrol respon-respon kita,” pungkasnya.
Penulis: Hanifah
Editor: Indra Oktafian Hidayat