Di tengah zaman ketika batas antara yang pantas dan yang biasa kian kabur, satu pertanyaan mendasar mengemuka, masihkah rasa malu hidup dalam diri manusia? Dalam khotbah di Masjid Kampus UGM pada Jumat (24/4), Reki Ristianto, Lc., M.H. menegaskan bahwa hilangnya rasa malu bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan indikator yang berkaitan erat dengan kondisi iman seseorang.
Dalam khotbahnya, ia menjelaskan bahwa rasa malu merupakan sifat terpuji yang mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan sekaligus menahan diri dari keburukan.
“Sifat malu adalah sifat terpuji yang memicu untuk melakukan kebaikan dan menahannya dari melakukan keburukan.”
Menurutnya, rasa malu dapat lahir dari dua hal: kesadaran akan pengawasan Allah Subhanahu wa ta’ala serta pertimbangan terhadap penilaian manusia.
Rasa Malu Bagian dari Iman
Reki mengutip hadits Rasulullah ﷺ yang menegaskan hubungan erat antara iman dan rasa malu.
“Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, dan rasa malu adalah bagian darinya, jelasnya.”
Ia juga menyampaikan hadits lain.
“Sesungguhnya rasa malu dan iman itu saling berkaitan. Apabila salah satunya diangkat, maka akan hilang pula yang lainnya.”
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa rasa malu merupakan sumber kebaikan dalam kehidupan manusia.
“Sesungguhnya sifat malu itu tidaklah datang kecuali akan menjadi sumber kebaikan.”
Bahkan, rasa malu disebut memiliki efek memperindah.
Sifat yang Dicintai Allah
Dalam khotbah tersebut, disampaikan pula bahwa Allah mencintai sifat malu.
“Allah Subhanahu wa ta’ala itu Maha Santun, Maha Lembut, Maha Malu, dan Allah mencintai sifat malu.”
Ia menambahkan, sifat ini merupakan warisan para nabi.
“Sesungguhnya di antara perkara yang didapatkan dari peninggalan para nabi terdahulu adalah: jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
Tiga Makna Hadits tentang Hilangnya Rasa Malu
Menjelaskan hadits tersebut, khatib memaparkan tiga penafsiran ulama:
- Makna informasi: jika seseorang tidak memiliki rasa malu, ia akan bertindak semaunya.
- Makna larangan: manusia diingatkan agar tidak meninggalkan rasa malu sehingga tetap menjaga diri dari keburukan.
- Makna perintah: jika tidak ada rasa malu dalam melakukan ketaatan, maka tidak perlu ragu menampakkannya di mana pun.
Sebagai contoh, ia menyebutkan bahwa membaca Alquran di ruang publik tidak perlu diiringi rasa malu karena termasuk bentuk ketaatan.
Pembagian Rasa Malu
Reki juga membagi rasa malu menjadi dua:
- Malu terpuji, yaitu yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah.
- Malu tercela, yaitu yang justru menghalangi seseorang dari kebaikan.
Ia mencontohkan bentuk malu yang tercela
“Ada orang yang malu ke masjid, malu menutup aurat, atau malu belajar mengaji, jelasnya”
Dalam pesannya kepada jemaah, ia menekankan pentingnya mendahulukan rasa malu kepada Allah dibandingkan kepada manusia.
“Jadilah kita berupaya menjadi hamba yang mendahulukan malu kepada Allah dari malu terhadap sesama manusia.”
Pada bagian akhir khotbah, disampaikan kisah Abdullah bin Maslamah Al-Qa’nabi. Ia diceritakan pernah menjalani kehidupan yang jauh dari kebaikan, seperti mabuk dan merampas harta kafilah. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan Imam Syu’bah bin Hajjaj yang menyampaikan satu hadits.
“Jika kamu tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
Hadits tersebut mengguncang batinnya.
“Ia pulang dalam keadaan gemetar, menghancurkan minuman keras yang dimilikinya, lalu bertobat kepada Allah.”
Perubahan itu mengantarkannya menjadi penuntut ilmu hingga menjadi murid Imam Malik bin Anas dan dikenal sebagai ahli hadits.
Menutup khotbahnya, Reku mengajak jemaah untuk kembali menghadirkan rasa malu dalam kehidupan, terutama sebagai wujud kesadaran akan pengawasan Allah. Ia menegaskan bahwa menjaga rasa malu bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian penting dari upaya menjaga iman.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, rasa malu tetap menjadi benteng moral yang menjaga manusia dari terjerumus dalam pelanggaran terhadap perintah dan larangan-Nya.
Penulis: Naufal Zaky
Editor: Indra Oktafian Hidayat