“Batas ibadah seorang hamba bukanlah selesainya Ramadan, bukan usainya ibadah haji, dan bukan pula datangnya usia tua. Batas ibadah kita yang sesungguhnya adalah kematian kita sendiri.”
Pernyataan mendalam tersebut disampaikan oleh Dai Yogyakarta, Ustaz Elan Kurniawan, S.H., M.Kn., saat menyampaikan khotbah Jumat di hadapan jemaah pada tanggal 26 Juni 2026. Dalam khotbahnya yang bertajuk “Jangan Pernah Berhenti Menjadi Orang Shalih”, beliau menyoroti fenomena penurunan semangat beribadah yang kerap terjadi pasca-momentum hari besar Islam berlalu. Beliau mengingatkan jemaah agar tidak menjadi “hamba musiman” yang hanya rajin beribadah di waktu-waktu tertentu saja.
Membongkar Fenomena “Hamba Musiman”
Elan mengawali materi dengan mengajak jemaah merenungi realitas di sekitar kita. Ketika Ramadan atau bulan Zulhijah berlalu, masjid-masjid yang tadinya penuh perlahan kembali sepi, mushaf Al-Qur’an mulai tertutup, dan air mata di sepertiga malam mulai mengering. Menurutnya, seorang mukmin sejati tidak boleh mengenal kata berhenti dalam menaati Allah selama nyawa masih dikandung badan.
“Amal saleh itu bukan baju lebaran yang dipakai setahun sekali lalu disimpan kembali. Ketaatan bukan sekadar suasana. Islam adalah cara hidup, cara kita bernafas, cara kita berbicara, cara kita bekerja, dan cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita.”
Memanfaatkan Sisa Usia Sebelum Ajal Menjemput
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa setiap detak jantung dan embusan napas adalah modal utama yang harus disyukuri untuk terus memupuk kesalehan. Selama pintu tobat dan pintu amal masih terbuka, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk mengendurkan semangatnya.
Beliau memberikan tamparan keras bagi kehidupan modern saat ini, di mana ketaatan sering kali luntur karena perubahan situasi. Elan menegaskan agar kita tidak berhenti salat tepat waktu hanya karena Ramadan telah berlalu, tidak berhenti membaca Al-Qur’an setelah target khatam terpenuhi, dan yang paling krusial, tidak berhenti takut kepada Allah saat sendirian di dalam kamar ketika layar ponsel sedang berada di tangan.
Rahasia Istikamah: Jangan Mengandalkan Kekuatan Diri sendiri
Dalam khotbahnya, Elan juga membagikan resep agar seorang hamba bisa terus konsisten dalam kesalehan, yaitu dengan tidak sombong dan tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri. Manusia adalah makhluk yang lemah, mudah goyah, dan hatinya bisa berbalik hanya karena urusan-urusan kecil.
Oleh karena itu, beliau mengajak jemaah untuk merutinkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada sahabat Mu’adz bin Jabal RA, sebuah permohonan agar Allah selalu membimbing hati kita:
Artinya: “Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
Sebagai fondasi nyata dari doa tersebut, beliau berpesan agar kaum laki-laki memperkuat ikatannya dengan masjid melalui salat berjamaah. Di samping itu, kesalehan harus dibawa ke mana saja—menjadi suami yang lembut, pedagang yang jujur, pekerja yang amanah, hingga menjadi pengguna media sosial yang bijak karena sadar bahwa Allah melihat setiap ketikan jari kita. Jika pun pernah terjatuh dalam dosa, beliau mengingatkan agar jangan pernah berputus asa dari luasnya pintu tobat Allah.
Penutup & Pesan Utama
Sebagai kesimpulan, Elan Kurniawan menekankan agar ketaatan tidak sekadar dijadikan kenangan manis dari masa lalu. Selama roh belum sampai ke tenggorokan, kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka lebar.
“Jangan pernah berhenti menjadi orang yang saleh. Jadilah hamba Allah di setiap waktu dan di setiap keadaan,” tutur beliau menutup khotbahnya dengan penuh penekanan.
Untuk menjaga lisan agar tetap basah dengan kebaikan, beliau mengajak jemaah merutinkan zikir ringan yang sangat dicintai Allah, yaitu Subhanallahil adzim, Subhanallah wa bihamdi, yang bisa diucapkan kapan saja, termasuk saat berkendara atau berjalan menuju tempat aktivitas.
Penulis: Isa Maliki
Editor: Muhammad Khanif Samudera