Di tengah zaman ketika batas antara yang pantas dan yang biasa kian kabur, satu pertanyaan mendasar mengemuka, masihkah rasa malu hidup dalam diri manusia? Dalam khotbah di Masjid Kampus UGM pada Jumat (24/4), Reki Ristianto, Lc., M.H. menegaskan bahwa hilangnya rasa malu bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan indikator yang berkaitan erat dengan kondisi iman seseorang.
pendidikan karakter
Di tengah tantangan degradasi moral dan kompleksitas sosial modern, pendidikan karakter kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai materi tambahan dalam kurikulum formal, melainkan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Guru Besar FMIPA Bidang Kimia, Prof. Dr. Chairil Anwar, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan karakter di Indonesia sangat bergantung pada integrasi antara nilai religius, keteladanan nyata, dan praktik sosial yang konsisten di luar kelas.
SAMUDRA (Safari Ilmu di Bulan Ramadan) kembali digelar pada Rabu (18/2) di Masjid Kampus UGM. Kajian yang berlangsung pukul 16.00–17.20 WIB ini menghadirkan Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema “Manusia Indonesia dan Bagaimana Cara Membangunnya? Refleksi Seorang Sosiolog”.
Dr. Ridwan Saptoto, S.Si., M.A., Psikolog. mengisi Kajian Kamis Sore di Masjid Kampus UGM. Dengan nada tenang namun tegas, ia mengangkat topik yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Menuhankan Uang: Hilangnya Marwah Manusia Akibat Materialisme.”
Dalam paparannya, Ridwan mengingatkan bahwa zaman modern menghadirkan bentuk “kesyirikan” baru. Jika dulu manusia menyembah berhala, kini banyak yang justru “menyembah” uang. Fenomena itu, katanya, terlihat jelas di berbagai kasus: mulai dari korupsi kuota haji hingga gaya hidup yang mengukur harga diri dari kendaraan yang dikendarai.