• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Wakil Rektor UGM Arie Sujito Soroti Arah Pembangunan Manusia Indonesia di Tengah Dinamika Global

Wakil Rektor UGM Arie Sujito Soroti Arah Pembangunan Manusia Indonesia di Tengah Dinamika Global

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 20 Februari 2026, 08.00
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

SAMUDRA (Safari Ilmu di Bulan Ramadan) kembali digelar pada Rabu (18/2) di Masjid Kampus UGM. Kajian yang berlangsung pukul 16.00–17.20 WIB ini menghadirkan Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema “Manusia Indonesia dan Bagaimana Cara Membangunnya? Refleksi Seorang Sosiolog”.

Krisis Global dan Bayang-bayang Ketidakpastian

“Bagaimana membangun manusia Indonesia di tengah ancaman krisis?” Pertanyaan ini menjadi titik tolak refleksi. Situasi politik global dan ekonomi internasional berada dalam fase krisis yang ditandai ketegangan dan konflik bersenjata. Fenomena tersebut bukan semata-mata persoalan agama, melainkan juga akibat persaingan dan keserakahan global yang melahirkan ketidakadilan. Peristiwa di Palestina, misalnya, memunculkan solidaritas global karena faktor ketidakadilan yang dialami. Isu global warming dan climate change juga menghadirkan paradoks ketika negara maju melakukan perusakan lebih dahulu, sedangkan negara lain justru dituntut menjalankan agenda restorasi dan tanggung jawab ekologis.

Krisis global melahirkan risiko ketidakpastian hingga ke level lokal. Disrupsi informasi tanpa kendali mempercepat perubahan dan mendekatkan jarak secara efisien, tetapi juga berpotensi menciptakan fragmentasi sosial. Ketegangan dan emosi jadi mudah tersulut di ruang publik. Dalam konteks ini, Ramadan dimaknai sebagai fase refleksi untuk menata kembali orientasi nilai dan tanggung jawab sosial.

Krisis Nasional dan Tantangan Tata Kelola

Di tingkat nasional, krisis berkaitan erat dengan dinamika global sekaligus problem manajemen kekuasaan. Kondisi demokrasi, politik, dan ekonomi Indonesia tidak sedang berada dalam kondisi yang ideal. Kecepatan dan ketepatan merespons situasi inilah yang menjadi faktor penentu apakah bangsa ini bangkit atau terperosok dalam ketidakpastian.

Mismanajemen keuangan negara, utang luar negeri, korupsi, ketergantungan pada pihak asing, serta praktik bad governance menjadi bayang-bayang yang berpotensi memicu disintegrasi sosial apabila tidak dikelola dengan baik.

Etika Publik dan Civic Virtue

Dalam situasi krisis, keadaban dan peradaban memperoleh relevansi kuat. Keadaban tidak cukup dimaknai sebagai sopan santun simbolik, tetapi harus terwujud dalam kepatuhan pada etika publik. Nilai toleransi dan penghargaan atas perbedaan menjadi fondasi penting di era kebebasan dan demokrasi substansial.

Perang di berbagai belahan dunia menunjukkan bagaimana pragmatisme dan keserakahan seringkali mengorbankan kemanusiaan. Ruang kebebasan juga dihadapkan pada hoaks, hate speech, dan degradasi ruang virtual. Kebebasan merupakan capaian penting, tetapi tanpa civic virtue, ia dapat melahirkan korban sosial. Kesadaran sebagai warga negara yang taat aturan dan menghormati proses yang disepakati menjadi landasan untuk menjaga kredibilitas negara serta tanggung jawab konstitusional dalam kerangka keadilan global.

Pendidikan dan Penguatan Manusia sebagai Subjek Pembangunan

Refleksi tersebut bermuara pada urgensi memosisikan manusia Indonesia sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Pendidikan menjadi instrumen strategis untuk memperkuat sumber daya manusia dengan menempatkan warga sebagai penentu arah perubahan. Pembangunan manusia tidak cukup menghasilkan keunggulan teknis, tetapi juga karakter yang berintegritas. Kecerdasan tidak semata diukur dari angka, tetapi dari nilai yang tercermin dalam sikap dan perilaku.

Teknologi dan informasi harus dimanfaatkan untuk memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan, dengan integritas sebagai penuntun. Mahasiswa tidak boleh membatasi diri hanya pada lingkup fakultas masing-masing saja. Kolaborasi lintas disiplin diperlukan untuk memperluas cara pandang serta mencegah pembekuan intelektual. Kampus menjadi arena produksi pengetahuan, tempat kebebasan berpendapat yang dilandasi keadaban. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat merupakan kerja intelektual untuk membangun manusia Indonesia secara utuh.

Pembangunan manusia Indonesia menuntut perpaduan kecakapan teknologi dan integritas moral. Keunggulan tidak berhenti pada intelektualitas, melainkan pada komitmen terhadap kemanusiaan, keadilan, dan kemartabatan bangsa. Pengetahuan perlu diarahkan untuk membantu sesama, mengatasi kemiskinan, membebaskan dari penindasan, dan memperkuat solidaritas sosial. Keunggulan sejati tercermin dari kemampuan menerjemahkan kapasitas diri dan tantangan lingkungan dengan dasar kepentingan kemanusiaan. Dalam kerangka itu, kemuliaan Ramadan dimaknai sebagai momentum menggunakan pengetahuan sebagai modal beribadah dan membangun peradaban yang berkeadaban.

Penulis: Nadia Fadhilah

Editor: Naila A. Cetta, Alkansa Fauziyyah

Tags: civic virtue etika publik Kajian Ramadan krisis global Masjid Kampus UGM pembangunan manusia Indonesia pendidikan karakter Ramadan UGM refleksi sosiologi SAMUDRA UGM

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Jangan Salah Membaca Perasaan, Maulana Umar Paparkan Empat Filter dalam Memilih Pasangan
  • Direktur Haltech 3D Indonesia Ingatkan Bahaya Degradasi Kognitif di Era AI
  • Pakar Geopolitik UGM Menegaskan Keberpihakan pada Iran sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Kezaliman
  • Kepala PSPG UGM Kritik Implementasi MBG, Tekankan Realisme Anggaran
  • Salah Memaknai Cinta, Ini Dampaknya Menurut Sulaiman Rasyid
Universitas Gadjah Mada
MASJID KAMPUS UGM
Jl. Tevesia 1, Bulaksumur
Caturtunggal, Depok, Sleman
DI Yogyakarta 55281
📧 masjidkampus@ugm.ac.id
🌐 masjidkampus.ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY