SAMUDRA (Safari Ilmu di Bulan Ramadan) kembali digelar pada Rabu (18/2) di Masjid Kampus UGM. Kajian yang berlangsung pukul 16.00–17.20 WIB ini menghadirkan Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema “Manusia Indonesia dan Bagaimana Cara Membangunnya? Refleksi Seorang Sosiolog”.
Krisis Global dan Bayang-bayang Ketidakpastian
“Bagaimana membangun manusia Indonesia di tengah ancaman krisis?” Pertanyaan ini menjadi titik tolak refleksi. Situasi politik global dan ekonomi internasional berada dalam fase krisis yang ditandai ketegangan dan konflik bersenjata. Fenomena tersebut bukan semata-mata persoalan agama, melainkan juga akibat persaingan dan keserakahan global yang melahirkan ketidakadilan. Peristiwa di Palestina, misalnya, memunculkan solidaritas global karena faktor ketidakadilan yang dialami. Isu global warming dan climate change juga menghadirkan paradoks ketika negara maju melakukan perusakan lebih dahulu, sedangkan negara lain justru dituntut menjalankan agenda restorasi dan tanggung jawab ekologis.
Krisis global melahirkan risiko ketidakpastian hingga ke level lokal. Disrupsi informasi tanpa kendali mempercepat perubahan dan mendekatkan jarak secara efisien, tetapi juga berpotensi menciptakan fragmentasi sosial. Ketegangan dan emosi jadi mudah tersulut di ruang publik. Dalam konteks ini, Ramadan dimaknai sebagai fase refleksi untuk menata kembali orientasi nilai dan tanggung jawab sosial.
Krisis Nasional dan Tantangan Tata Kelola
Di tingkat nasional, krisis berkaitan erat dengan dinamika global sekaligus problem manajemen kekuasaan. Kondisi demokrasi, politik, dan ekonomi Indonesia tidak sedang berada dalam kondisi yang ideal. Kecepatan dan ketepatan merespons situasi inilah yang menjadi faktor penentu apakah bangsa ini bangkit atau terperosok dalam ketidakpastian.
Mismanajemen keuangan negara, utang luar negeri, korupsi, ketergantungan pada pihak asing, serta praktik bad governance menjadi bayang-bayang yang berpotensi memicu disintegrasi sosial apabila tidak dikelola dengan baik.
Etika Publik dan Civic Virtue
Dalam situasi krisis, keadaban dan peradaban memperoleh relevansi kuat. Keadaban tidak cukup dimaknai sebagai sopan santun simbolik, tetapi harus terwujud dalam kepatuhan pada etika publik. Nilai toleransi dan penghargaan atas perbedaan menjadi fondasi penting di era kebebasan dan demokrasi substansial.
Perang di berbagai belahan dunia menunjukkan bagaimana pragmatisme dan keserakahan seringkali mengorbankan kemanusiaan. Ruang kebebasan juga dihadapkan pada hoaks, hate speech, dan degradasi ruang virtual. Kebebasan merupakan capaian penting, tetapi tanpa civic virtue, ia dapat melahirkan korban sosial. Kesadaran sebagai warga negara yang taat aturan dan menghormati proses yang disepakati menjadi landasan untuk menjaga kredibilitas negara serta tanggung jawab konstitusional dalam kerangka keadilan global.
Pendidikan dan Penguatan Manusia sebagai Subjek Pembangunan
Refleksi tersebut bermuara pada urgensi memosisikan manusia Indonesia sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Pendidikan menjadi instrumen strategis untuk memperkuat sumber daya manusia dengan menempatkan warga sebagai penentu arah perubahan. Pembangunan manusia tidak cukup menghasilkan keunggulan teknis, tetapi juga karakter yang berintegritas. Kecerdasan tidak semata diukur dari angka, tetapi dari nilai yang tercermin dalam sikap dan perilaku.
Teknologi dan informasi harus dimanfaatkan untuk memperjuangkan kemanusiaan dan keadilan, dengan integritas sebagai penuntun. Mahasiswa tidak boleh membatasi diri hanya pada lingkup fakultas masing-masing saja. Kolaborasi lintas disiplin diperlukan untuk memperluas cara pandang serta mencegah pembekuan intelektual. Kampus menjadi arena produksi pengetahuan, tempat kebebasan berpendapat yang dilandasi keadaban. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat merupakan kerja intelektual untuk membangun manusia Indonesia secara utuh.
Pembangunan manusia Indonesia menuntut perpaduan kecakapan teknologi dan integritas moral. Keunggulan tidak berhenti pada intelektualitas, melainkan pada komitmen terhadap kemanusiaan, keadilan, dan kemartabatan bangsa. Pengetahuan perlu diarahkan untuk membantu sesama, mengatasi kemiskinan, membebaskan dari penindasan, dan memperkuat solidaritas sosial. Keunggulan sejati tercermin dari kemampuan menerjemahkan kapasitas diri dan tantangan lingkungan dengan dasar kepentingan kemanusiaan. Dalam kerangka itu, kemuliaan Ramadan dimaknai sebagai momentum menggunakan pengetahuan sebagai modal beribadah dan membangun peradaban yang berkeadaban.
Penulis: Nadia Fadhilah
Editor: Naila A. Cetta, Alkansa Fauziyyah