Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang kian mengkhawatirkan seiring meningkatkan konfrontasi antara Iran melawan aliansi Israel dan Amerika Serikat. Gejolak yang didominasi oleh perang saraf dan proksi, kini telah bergeser menjadi ancaman konflik terbuka yang mengancam stabilitas global. Guru Besar Bidang Geopolitik Timur Tengah, Prof. Dr. Siti Muti’ah Setiawati, M.A., memaparkan bahwa serangan Israel-AS ke Iran memporak-porandakan stabilitas politik teluk dan persatuan dunia Islam. “Semua negara teluk merupakan anggota organisasi kerja sama Islam. Serangan ini menciptakan kesan seolah-olah suni dan syiah tidak bersatu. Dunia Islam menjadi porak-poranda,” ungkapnya.
Siti menjelaskan bahwa sejak dahulu kala, dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran senantiasa diwarnai oleh rasa curiga. Beliau mencontohkan situasi pada tahun 1980-an saat pecah perang antara Iran dan Irak. “Kala itu, Amerika Serikat membantu Irak. Setelah itu, Irak diduduki. Siapapun presidennya. Politik (kebijakan luar negeri) Amerika Serikat (cenderung) tidak pernah berpihak pada Islam di Timur Tengah,” tegasnya di depan jemaah saat mengisi kajian Polemology Forum, Kamis (9/4).
Menilik garis sejarah, Siti menjelaskan bahwa Iran sebenarnya pernah menjalin hubungan dekat dengan Amerika Serikat. Namun, titik balik terjadi ketika ketegangan memuncak. Hal ini ditandai dengan didudukinya Kantor Kedutaan Amerika di Iran selama 444 hari oleh Garda Revolusi Islam Iran. “Dalam ilmu hubungan internasional, kedutaan merupakan bagian dari negara asal. Amerika merasa dihinakan oleh Iran.” paparnya.
Menurutnya, luka sejarah inilah yang melandasi sentimen negatif pemimpin AS, termasuk Donald Trump. “Bahkan sekarang, Donald Trump memiliki kebencian pada Iran. Hal ini karena Iran pernah menduduki kantor kedutaan Amerika di Iran,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Siti memaparkan bahwa sejak revolusi Iran pada tahun 1979, AS secara konsisten mendiskriminasi Iran dengan menggalang dukungan dari negara-negara Eropa. “Iran digambarkan sebagai negara teroris, diktator, menakutkan, serta pemimpinnya kejam dan penerusnya merupakan pembunuh berdarah dingin,” jelasnya.
Dalam pengamatannya, Siti Muti’ah melihat bahwa strategi pertahanan Iran terinspirasi dari Perang Khandaq di zaman Nabi Muhammad Saw. “Iran sudah lama mempersiapkan (skenario) ini. (Hal ini termasuk) ketika dituduh mengembangkan senjata nuklir untuk berperang. Jika Iran memiliki senjata pemusnah massal, tentu akan dipakai. Mengingat, Iran telah diserang terlebih dahulu,” paparnya.
Di sisi lain, menanggapi gejolak internal yang terjadi beberapa waktu lalu. Siti Muti’ah menilai adanya upaya sistematis untuk memecah belah negara tersebut dari dalam. Ia menyoroti narasi mengenai isu runtuhnya rezim Ali Khamenei serta gelombang demonstrasi besar yang diduga mendapat dukungan dari pihak luar.
“AS memprediksi bahwa setelah Ayatollah Ali Khamenei terbunuh, maka akan terjadi gejolak politik yang besar (yang membuka jalan) bergantinya rezim yang pro-Amerika. Namun, hal ini sudah dibaca oleh Iran. Karena pada tahun ini, ada demo besar-besaran melawan Ali Khamenei yang dibiayai oleh Israel dan dilakukan oleh anaknya Reza Pahlavi,” ungkapnya.
Terlepas dari perdebatan teologis, Siti menggarisbawahi pentingnya melihat konflik ini dari kacamata kemanusiaan dan keadilan. Ia menjelaskan bahwa keberpihakannya bukan didasarkan pada mazhab tertentu, melainkan pada objektivitas atas situasi di lapangan. “Kalau kita dalam Islam, jangan sampai kamu tidak suka pada suatu kaum membuat kamu tidak adil. Saya akademisi tapi saya tidak netral. Saya pro pada keadilan, yang di-dzolimi, dan pada yang benar. Iran itu kan diserang, ia sendirian tidak ada siapa-siapa di baliknya,” pungkasnya.