• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Sakinah Academy
  • Jangan Salah Membaca Perasaan, Maulana Umar Paparkan Empat Filter dalam Memilih Pasangan

Jangan Salah Membaca Perasaan, Maulana Umar Paparkan Empat Filter dalam Memilih Pasangan

  • Sakinah Academy
  • 14 April 2026, 12.52
  • Oleh: isamaliki2004
  • 0

“Cinta yang sehat itu punya arah, punya tanggung jawab, punya batasan, dan punya komitmen,” ujar  Konsultan Jodoh, Maulana Umar In’amul Hasan, S.H., M.H., mengawali kajian Sakinah Academy di Ruang Utama Masjid Kampus UGM, Senin (13/4). Di hadapan jemaah, Umar menekankan bahwa segala sesuatu yang berada di luar koridor tersebut barulah sebatas “bunga-bunga” perasaan yang belum tentu berujung pada kebaikan. Ia mengingatkan bahwa banyak individu terjebak dalam kebingungan menafsirkan getaran di hati, hingga akhirnya terjebak dalam overthinking yang melelahkan.

Salah Membaca Rasa: Ketika Perhatian Dikira Jodoh

Sebelum menelusuri akar perasaan lebih dalam, Umar menekankan adanya fenomena “salah membaca rasa” yang sering menjebak kaum muda. 

Banyak orang sering kali terjebak dalam kondisi salah membaca rasa karena mencampuradukkan perhatian dengan cinta, di mana sedikit perhatian saja sudah membuat seseorang merasa memiliki ikatan khusus. Rasa nyaman saat berinteraksi pun kerap dianggap sebagai bukti valid kecocokan untuk masa depan, padahal rasa tersebut bisa muncul secara spontan karena situasi tertentu.

Selain itu, komunikasi yang intens, baik karena urusan organisasi maupun kedekatan di kelas, sering kali disalahartikan sebagai sinyal kuat datangnya jodoh. Umar menegaskan bahwa adanya chemistry atau obrolan yang “nyambung” hanyalah bunga-bunga perasaan dan bukan indikator kesiapan seseorang untuk melangkah ke jenjang pernikahan atau akad.

Umar menjelaskan bahwa tidak semua rasa yang muncul adalah cinta sejati, bisa jadi itu hanya perasaan spontan karena situasi tertentu. “Tidak semua yang membuatmu nyaman berarti pantas dijadikan tujuan,” tambahnya tegas.

Menelusuri Akar: Apakah Itu Cinta atau Sekadar Pelarian?

Umar menjelaskan bahwa setiap orang harus berani menelusuri akar perasaannya karena sering kali emosi yang muncul merupakan manifestasi dari kondisi psikologis tertentu:

  • Pelarian dari Kesepian. Ketika hati merasa kosong, siapa pun yang hadir akan terasa spesial. “Tidak semua yang datang saat kamu sepi, datang untuk menetap,” ujar Maulana mengingatkan agar kita tetap objektif.

  • Luka Lama dan Trauma. Luka batin, seperti haus akan validasi, sering kali menyamar menjadi cinta, membuat seseorang mencintai “bayangan” atau potensi, bukan realitas karakter yang sesungguhnya.

  • Ketagihan Interaksi (Dopamine Attachment). Komunikasi intens melalui chat sering kali hanya menciptakan ketergantungan dopamin, di mana seseorang bukan mencintai orangnya, melainkan ketagihan pada rasanya.

“Baik Itu Standar Dasar, Bukan Tanda Pasti Jodoh”

Salah satu poin yang paling menarik perhatian adalah ketika Umar membahas tentang standar memilih pasangan. Ia menekankan bahwa menjadi orang baik adalah kewajiban dasar, namun kebaikan saja tidak menjamin kecocokan visi hidup.

“Orang baik belum tentu cocok. Cocok belum tentu siap. Siap belum tentu serius. Ingat, chemistry itu bukan akad.”

Ia menyarankan agar setiap perasaan diuji melalui Empat Filter Utama:

  • Filter Akal: Apakah hubungan ini masuk akal, stabil, dan memiliki visi misi yang sejalan?

  • Filter Nilai: Bagaimana kualitas agama, adab, dan caranya menjaga batasan?

  • Filter Realitas: Apakah ada langkah nyata atau hanya sekadar memberi harapan kosong?

  • Filter Ridha Allah: Apakah jalannya halal dan membawa keberkahan?

Baca juga: Direktur Haltech 3D Indonesia Ingatkan Bahaya Degradasi Kognitif di Era AI

Cinta yang Membuat Bertumbuh: Melepaskan demi Allah

Menutup kajiannya, Umar memberikan pesan bagi mereka yang sedang berjuang memperbaiki diri atau meniti karier. Ia menekankan bahwa tugas manusia bukanlah sekadar mencari yang disukai, tetapi memilih yang mampu membuat kita bertahan (survive) dan lebih dekat kepada Allah.

“Jangan kejar yang membuatmu berdebar, kejar yang membuatmu bertumbuh,” pesan Umar. Ia mengingatkan bahwa tidak semua yang terasa harus dimiliki. Terkadang, ujian cinta yang sesungguhnya adalah keberanian untuk melepaskan ketika hubungan tersebut tidak lagi membawa kita kepada ketaatan.

Maulana mengutip sebuah kalimat yang sangat membekas bagi para jemaah.

“Lebih baik kehilangan seseorang karena Allah, daripada kehilangan Allah karena seseorang”.

Jodoh, menurutnya, adalah cerminan diri, sehingga fokus terbaik saat ini adalah meningkatkan value pribadi sembari meyakini bahwa takdir Allah tidak akan pernah tertukar.

Penulis: Isa Maliki

Editor: Indra Oktafian Hidayat

Post Views: 25
Tags: jodoh Kajian Jogja Maskam UGM sakinah academy

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Sembelih Terlalu Cepat, Kurban Bisa Tidak Sah? Ini Penjelasan Pakar UGM
  • Psikolog UGM Ulas Pentingnya Logika dan Kedewasaan Saat Jatuh Cinta
  • Dosen UMY Tegaskan Kecerdasan Spiritual Tak Bisa Dipisahkan dari Intelektual
  • Wakil Ketua Halal Center UGM Kritik Banyak Orang yang Mampu tetapi Enggan Berkurban
  • Eks Rektor UGM Dorong Perguruan Tinggi Adaptif terhadap Perkembangan Teknologi dan Industri
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY