Masjid Kampus UGM bersama Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) menggelar sebuah gelar wicara bertajuk “Mengintegrasikan Layanan Spiritual, Psikologis, dan Medis: Pembelajaran dari Praktik Chaplain di Amerika Serikat”. Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Syamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D. sebagai pembicara utama dan dimoderatori oleh Dosen Fakultas Psikologi UGM, Fakhirah Inayaturrabbani, S.Psi., M.A.
Acara dibuka dengan sambutan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Muhammad Baiquni, M.A. yang menyoroti tantangan kehidupan modern di tengah derasnya arus transformasi digital dan banjir informasi. Menurutnya, perubahan sosial yang sangat cepat telah memengaruhi kesehatan mental masyarakat secara luas.
“Gelombang informasi yang masif menggetarkan pikiran dan mental manusia. Kita memerlukan upaya mempertemukan kembali nalar, naluri, dan nurani manusia,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kampus menjadi ruang yang tidak hanya menghasilkan kecerdasan akademik, tetapi juga menghadirkan ruang penyembuhan (healing) bagi sivitas akademika.
“Kampus harus menjadi tempat yang tidak hanya mencerdaskan secara rasional, tetapi juga mematangkan mental dan menghadirkan kebijaksanaan dalam kehidupan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Program Magister CRCS UGM, Muhammad Iqbal Ahnaf, Ph.D. menjelaskan bahwa diskusi mengenai integrasi layanan spiritual, psikologis, dan medis menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya problem kesehatan mental di masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan survei sederhana terhadap anak muda yang pernah mengalami pergulatan hidup, hanya sekitar 25 persen yang mengaku kembali kepada agama atau tokoh agama ketika mengalami kondisi mental yang berat.
“Ini menjadi pertanyaan besar. Ketika agama memberikan layanan kesehatan mental, sejauh mana layanan itu diperkaya oleh disiplin psikologi dan medis?” jelasnya.
Iqbal juga menyoroti potensi terjadinya misjudgement ketika pendekatan agama semata digunakan untuk menangani trauma psikologis tanpa pemahaman ilmiah yang memadai.
“Jangan sampai seseorang yang mengalami trauma justru hanya diberi nasihat untuk lebih banyak berdoa atau berzikir, sementara akar traumanya tidak tertangani,” katanya.
Menurutnya, pendekatan integratif diperlukan agar layanan spiritual dan psikologis dapat saling memperkaya. Salah satu model yang dinilai menarik adalah praktik chaplaincy di Amerika Serikat, yakni layanan pendampingan spiritual profesional yang terintegrasi dengan pendekatan psikologis dan medis.
Dalam pemaparannya, Syamsi Ali menjelaskan bahwa praktik chaplaincy bukan sekadar dakwah agama, melainkan pelayanan kemanusiaan dan spiritual yang membantu pasien, keluarga pasien, hingga tenaga kesehatan menghadapi tekanan mental dan emosional.
Ia menceritakan pengalamannya menjadi chaplain di salah satu rumah sakit terbesar di New York, di mana persoalan kesehatan mental menjadi isu yang sangat dominan.
“Di Amerika, penyakit yang paling ditakuti sekarang bukan hanya kanker atau penyakit fisik, tetapi masalah kesehatan mental,” ujarnya.
Syamsi Ali menilai bahwa kemajuan teknologi dan kehidupan material tanpa diimbangi kekuatan spiritual membuat banyak orang mengalami kekosongan batin. Ia bahkan mengisahkan pengalamannya bertemu seorang arsitek sukses di New York yang merasa hidupnya seperti mesin tanpa makna.
“Ia berkata, ‘Saya hanya berputar dari apartemen ke tempat kerja lalu kembali lagi. Saya tidak tahu untuk apa semua ini.’ Itu adalah bentuk nyata krisis mental dan spiritual,” tuturnya.
Menurut Syamsi Ali, seorang chaplain harus mampu memahami psikologi manusia sekaligus memiliki sensitivitas spiritual lintas agama dan budaya. Dalam praktiknya, seorang chaplain tidak hanya mendampingi pasien Muslim, tetapi juga pasien lintas agama bahkan mereka yang tidak memiliki latar belakang religius yang kuat.
Ia menegaskan bahwa spiritualitas memiliki dimensi universal yang melampaui sekat agama formal.
“Spiritualitas itu berbicara tentang kebutuhan ruhani manusia. Cara ibadah boleh berbeda, tetapi kebutuhan akan ketenangan, harapan, dan makna hidup dimiliki semua manusia,” jelasnya.
Diskusi juga membahas kemungkinan penerapan konsep chaplaincy di Indonesia. Syamsi Ali menilai Indonesia sangat membutuhkan layanan pendampingan spiritual yang lebih profesional dan integratif.
“Selama ini masyarakat datang ke tokoh agama untuk meminta fatwa. Padahal sering kali yang dibutuhkan bukan jawaban hukum yang kaku, tetapi pendampingan spiritual yang menguatkan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa nilai dasar spiritual care sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi Islam, termasuk dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam pendekatan dakwah yang penuh empati dan memahami kondisi psikologis setiap individu.
“Nabi memahami setiap orang secara berbeda. Cara beliau menjawab pertanyaan juga berbeda-beda sesuai kondisi psikologis orang yang datang,” ungkapnya.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan peserta, mulai dari akademisi, pegiat pendidikan, hingga peneliti chaplaincy di Indonesia. Salah satu peserta bahkan mengungkapkan bahwa riset terkait Muslim Chaplaincy di Indonesia mulai berkembang dan mendapat perhatian dari berbagai institusi, termasuk Kementerian Agama.
Melalui gelar wicara ini, UGM berharap muncul ruang kolaborasi baru antara pendekatan agama, psikologi, dan medis dalam menghadapi problem kesehatan mental masyarakat yang semakin kompleks.
“Tidak cukup lagi disiplin-disiplin ini berjalan sendiri-sendiri. Tantangannya adalah bagaimana menjembatani dan mengintegrasikan semuanya demi kemanusiaan,” pungkas Iqbal Ahnaf.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat