Merasa cemas dengan kelanjutan karier setelah lulus kuliah? Takut salah jurusan, takut kalah bersaing, atau khawatir tidak kunjung bertemu jodoh? Rasa khawatir terhadap masa depan merupakan hal yang manusiawi. Namun, jika berlebihan hingga memicu overthinking yang melumpuhkan, hal itu justru bisa merusak hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Pesan ini disampaikan oleh Ustaz Dr. Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. saat menyampaikan khotbah Jumat bertema “Khawatir dengan Masa Depan” di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada pada Jumat, 10 Juli 2026.
“Islam tidak melarang kita memikirkan masa depan atau merencanakan sesuatu. Namun, kita harus bisa membedakan antara planning (merencanakan) dengan cemas secara berlebihan,” tegas pimpinan Pesantren Darush Shalihin tersebut.
Merencanakan Masa Depan Adalah Bagian dari Ikhtiar
Mengawali materi khotbah, Muhammad mencontohkan berbagai bentuk kekhawatiran yang sering dialami masyarakat. Mulai dari mahasiswa yang cemas mengenai pekerjaan setelah lulus, seseorang yang takut salah mengambil jurusan, belum mendapatkan pasangan hidup, hingga kekhawatiran terhadap karier dan rezeki.
Ia menjelaskan bahwa Islam mendorong umatnya untuk memiliki tujuan hidup dan melakukan perencanaan yang baik. Meski manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, bukan berarti seseorang hanya berpangku tangan dan menyerahkan segalanya tanpa usaha.
Sebaliknya, seorang muslim diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin, memanfaatkan kemampuan yang dimiliki, serta memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Dalam khotbahnya, ia mengingatkan bahwa perencanaan dan kecemasan merupakan dua hal yang berbeda.
Perencanaan mendorong seseorang untuk belajar, bekerja, memperbaiki diri, serta mencari solusi atas berbagai tantangan. Sementara itu, kecemasan yang berlebihan justru membuat seseorang kehilangan fokus, sulit tidur, tidak produktif, bahkan dapat berujung pada prasangka buruk kepada Allah SWT.
“Perencanaan membuat kita bergerak, belajar, bekerja, meneliti, dan memperbaiki diri. Sedangkan kecemasan membuat seseorang lumpuh tanpa melakukan usaha apa pun,” ujarnya.
Bekal Menghadapi Masa Depan
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah At-Talaq ayat 2–3 bahwa siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Ketakwaan diwujudkan melalui kejujuran, amanah, menjauhi penipuan, serta menjaga seluruh perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan melakukan ikhtiar secara maksimal kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. “Tawakal bukan berarti kita tidak belajar dan tidak menyiapkan sesuatu. Kita tetap berusaha maksimal, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah SWT.”
Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak larut memikirkan sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia, yaitu takdir Allah. Terlalu jauh memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk di masa depan hanya akan melahirkan rasa waswas yang berkepanjangan. Padahal, takdir merupakan rahasia Allah yang tidak diketahui oleh siapa pun.
Jangan Terjebak Membandingkan Diri
Pada kesempatan tersebut, Muhammad juga menyoroti fenomena media sosial yang sering membuat seseorang merasa tertinggal dibandingkan orang lain.
Menurut Muhammad, setiap manusia memiliki jalan hidup, kemampuan, dan waktu keberhasilan yang berbeda-beda. Apa yang terlihat di media sosial umumnya hanyalah hasil akhir, sementara proses panjang, kegagalan, dan perjuangan sering kali tidak diperlihatkan.
Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan agar seseorang lebih banyak melihat kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia sehingga lebih mudah bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Yang Paling Perlu Dikhawatirkan Adalah Akhirat
Muhammad menegaskan bahwa masa depan terbesar bukanlah sekadar lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan, atau menikah. Masa depan yang sesungguhnya adalah kehidupan setelah kematian ketika setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah SWT.
Mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18, ia mengajak jamaah agar mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat melalui amal saleh, ibadah, dan ketakwaan.
Kiat Menghadapi Masa Depan
Sebagai penutup khotbah, Muhammad memberikan beberapa langkah praktis agar seorang muslim tidak mudah diliputi rasa khawatir terhadap masa depan, yaitu:
- Memperbaiki kualitas ibadah, terutama salat.
- Terus belajar dan meningkatkan kompetensi sesuai bidang masing-masing.
- Memilih lingkungan dan pergaulan yang baik.
- Memperbanyak doa serta bertawakal kepada Allah SWT.
- Menghindari kekhawatiran yang berlebihan dengan selalu mengingat bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat bergantung.
Ia juga menyampaikan nasihat ulama Sufyan bin Uyainah: “Siapa yang memperbaiki batinnya, maka Allah akan memperbaiki lahiriahnya. Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia. Dan siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan mencukupkan urusan dunianya.”
Penulis: Isa Maliki
Editor: Muhammad Khanif Samudera