Masjid tidak hanya dimaknai sebagai tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga sebagai pusat lahirnya peradaban Islam. Sejak masa Rasulullah saw., masjid menjadi ruang yang menyatukan pendidikan, kaderisasi, kepemimpinan, hingga pelayanan sosial bagi masyarakat. Gagasan inilah yang diangkat dalam Bedah Buku Masjid: Episentrum Pengembangan IPTEK dalam Peradaban Islam seri kedua yang diselenggarakan Masjid Kampus UGM secara daring pada Selasa (14/7). Kegiatan tersebut menghadirkan Andri Prayitno, S.Fil., M.Phil., M.Pd., praktisi pendidikan sekaligus salah satu penulis buku, dengan tema “Masjid sebagai Episentrum Kaderisasi dan Pendidikan Umat.”
Dalam pemaparannya, Andri menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari kegelisahan para penulis terhadap semakin menyempitnya fungsi masjid di tengah masyarakat. Menurutnya, masjid seharusnya kembali menjadi pusat pembangunan peradaban sebagaimana dicontohkan Rasulullah ketika membangun Masjid Quba dan Masjid Nabawi setelah hijrah ke Madinah.
“Masjid tidak cukup dipahami hanya sebagai tempat salat atau kajian rutin saja. Masjid harus menjadi ruang lahirnya manusia yang berilmu, beradab, mampu memimpin, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.”
Masjid sebagai Pusat Peradaban
Andri menegaskan bahwa sejak awal perkembangan Islam, masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat ibadah. Masjid menjadi pusat pendidikan, musyawarah, kaderisasi kepemimpinan, hingga pelayanan sosial yang mampu menjawab berbagai persoalan umat.
Menurutnya, empat fungsi utama tersebut tetap relevan untuk dikembangkan hingga saat ini. Selain memperkuat spiritualitas masyarakat, masjid juga perlu menghadirkan ruang pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, hingga kegiatan sosial yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat sekitar.
Ia mencontohkan berbagai inovasi yang mulai dilakukan sejumlah masjid, seperti program pemberdayaan masyarakat, layanan zakat, sedekah, pemeriksaan kesehatan, hingga penyediaan kebutuhan pokok bagi warga.
Meneladani Masjid Nabawi sebagai Model Pendidikan
Dalam sesi berikutnya, Andri mengajak peserta menelusuri kembali sejarah Masjid Nabawi sebagai model pendidikan umat. Menurutnya, keberhasilan pendidikan pada masa Rasulullah tidak hanya bertumpu pada penyampaian ilmu, tetapi dibangun melalui integrasi antara iman, adab, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa proses pendidikan di Masjid Nabawi berlangsung melalui keteladanan, pembiasaan, diskusi, serta praktik langsung dalam kehidupan sosial. Konsep tersebut juga tercermin melalui keberadaan Ahlus Suffah yang hidup bersama di lingkungan masjid sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
Baginya, pendidikan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi harus melahirkan pribadi yang mampu mengamalkan ilmunya untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Kaderisasi Dimulai dari Ekosistem Masjid
Selain menjadi pusat pendidikan, masjid juga dipandang sebagai ruang kaderisasi yang membentuk generasi penerus umat. Andri menilai bahwa kader tidak lahir hanya melalui kajian, melainkan melalui proses pendampingan, pembagian amanah, latihan kepemimpinan, hingga keterlibatan langsung dalam pelayanan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya membangun sistem kaderisasi yang terencana, mulai dari penyusunan kurikulum pembinaan, keberadaan mentor, kelompok belajar, hingga evaluasi yang berkelanjutan.
Menurutnya, tantangan terbesar pengelolaan masjid saat ini bukan sekadar menyelenggarakan banyak kegiatan, tetapi memastikan setiap kegiatan mampu melahirkan kader yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan.
Adab sebagai Pondasi Ilmu
Dalam pemaparannya, Andri juga menyoroti pentingnya adab sebagai fondasi utama dalam pendidikan di masjid. Menurutnya, ilmu tanpa adab berpotensi kehilangan arah sehingga tidak memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, masjid perlu menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta penghormatan kepada guru dan sesama manusia. Dengan demikian, ilmu tidak hanya menghasilkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang bijaksana dan berakhlak.
Literasi dan IPTEK untuk Kemaslahatan
Seiring perkembangan zaman, Andri menilai bahwa masjid juga perlu menghidupkan budaya literasi melalui kegiatan membaca, menulis, diskusi ilmiah, hingga penelitian. Menurutnya, tradisi literasi akan membantu masyarakat memahami ajaran Islam secara lebih mendalam sekaligus mampu membaca persoalan sosial secara kritis.
Selain itu, ia mengajak pengelola masjid memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana memperluas dakwah dan pelayanan masyarakat. Pemanfaatan media digital, pendidikan daring, hingga pengembangan inovasi sosial dipandang sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemaslahatan umat.
Menjawab Tantangan Generasi Emas 2045
Dalam sesi diskusi, peserta mengajukan berbagai pertanyaan terkait pengembangan program masjid, kaderisasi generasi muda, hingga pengelolaan masjid di lingkungan instansi maupun masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Andri menegaskan bahwa keberhasilan masjid tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan atau jumlah jemaah yang hadir, melainkan dari kemampuan masjid melahirkan manusia yang beriman, beradab, berilmu, disiplin, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Ia juga mendorong generasi muda untuk mengambil peran aktif dalam pengelolaan masjid melalui inovasi program, keberanian menyusun gagasan, serta membangun sistem kaderisasi yang berkelanjutan.
Masjid sebagai Titik Awal Peradaban
Menutup pemaparannya, Andri kembali menegaskan bahwa masjid merupakan titik awal lahirnya peradaban Islam. Dari masjid, ilmu ditanamkan, adab dibentuk, kader dipersiapkan, dan teknologi diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia berharap gagasan dalam buku Masjid: Episentrum Pengembangan IPTEK dalam Peradaban Islam mampu menjadi inspirasi bagi pengelola masjid di berbagai daerah untuk menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat pendidikan, kaderisasi, dan pengembangan peradaban dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Penulis: Aulia Mahdini
Editor: Muhammad Khanif Samudera