Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari aktivitas transaksi dan perniagaan. Setiap interaksi, baik dalam bisnis maupun hubungan sosial, hampir selalu diiringi harapan akan keuntungan. Namun, realitas menunjukkan bahwa tidak semua perniagaan berakhir dengan hasil yang diinginkan. Lantas, adakah bentuk perniagaan yang benar-benar menjanjikan keuntungan tanpa risiko kerugian?
Pertanyaan ini diangkat oleh dosen Departemen Teknik Mesin dan Teknik Industri Fakultas Teknik UGM, Ir. Muhammad Waziz Wildan, M.Sc., Ph.D., IPU dalam khotbah Jumat (17/4) di Masjid Kampus UGM. Mengusung tema “Berniaga dengan Allah: Perniagaan yang Tidak Pernah Merugi”, Wildan mengajak jemaah untuk memahami bahwa amal ibadah merupakan bentuk perniagaan hakiki yang keuntungannya dijamin oleh Allah Swt.
Mengutip Q.S. Al Fathir ayat 29, Wildan menjelaskan bahwa Allah memberikan gambaran tentang perniagaan yang tidak akan pernah merugi, yaitu melalui amalan membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki. “Apabila kita ingin punya perniagaan yang pasti menguntungkan, maka berniagalah dengan Allah Swt.,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa berbeda dengan perniagaan duniawi yang penuh ketidakpastian, “perniagaan” dengan Allah menjanjikan keuntungan yang pasti berupa pahala yang kekal.
Baca juga:Pakar Hukum UGM Bedah Klaim Self-Defense Israel dalam Hukum Internasional
Tiga Amalan Utama
Wildan memaparkan tiga amalan utama sebagai bentuk “transaksi” dengan Allah. Pertama, membaca Al-Qur’an. Ia mendorong jemaah untuk meluangkan waktu secara rutin untuk tilawah, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya sebagai petunjuk hidup, melainkan juga akan memberikan syafaat bagi pembacanya di hari kiamat. “Bacalah Al-Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya,” tuturnya, mengutip hadis riwayat Muslim No. 804.
Kedua, menegakkan salat. Di depan jemaah, Wildan menekankan pentingnya salat sebagai tiang agama dan menjadi ukuran keimanan seseorang. Menurutnya, salat tidak dapat ditinggalkan dalam kondisi apa pun. Salat juga menjadi sarana utama untuk mengingat Allah serta mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Ketiga, menginfakkan sebagian rezeki. Wildan menjelaskan bahwa Allah hanya memerintahkan sebagian harta untuk diinfakkan, baik melalui zakat maupun sedekah. Ia juga mengajak jemaah untuk memanfaatkan berbagai peluang berbagi kepada sesama.
Menutup khotbahnya, Wildan mengajak jemaah untuk merefleksikan amalan selama bulan Ramadan. Menurutnya, menjaga konsistensi amalan, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, menjaga salat, serta meningkatkan infak dan sedekah ketika setelah Ramadan merupakan tantangan utama umat Islam. “Jika amalan-amalan ini dapat kita pertahankan, maka insyaallah akan menjadi kebiasaan baik yang mendatangkan keuntungan yang tidak merugikan,” ungkapnya.
Penulis: Aulia Mahdini
Editor: Aldi Firmansyah