Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang kian mengkhawatirkan seiring meningkatkan konfrontasi antara Iran melawan aliansi Israel dan Amerika Serikat. Gejolak yang didominasi oleh perang saraf dan proksi, kini telah bergeser menjadi ancaman konflik terbuka yang mengancam stabilitas global. Guru Besar Bidang Geopolitik Timur Tengah, Prof. Dr. Siti Muti’ah Setiawati, M.A., memaparkan bahwa serangan Israel-AS ke Iran memporak-porandakan stabilitas politik teluk dan persatuan dunia Islam. “Semua negara teluk merupakan anggota organisasi kerja sama Islam. Serangan ini menciptakan kesan seolah-olah suni dan syiah tidak bersatu. Dunia Islam menjadi porak-poranda,” ungkapnya.
Ibadah puasa di bulan Ramadan sejatinya bukan hanya rutinitas menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum krusial untuk melakukan transformasi diri secara fundamental. Pesan ini mengemuka dalam kajian Mimbar Subuh yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pakar ICMI Sleman, Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, M.M., pada Kamis pagi (26/2).
Di hadapan jemaah, Heru menjabarkan empat pilar transformasi yang harus diraih umat Muslim agar ibadah puasa bermuara pada derajat ketakwaan (la’allakum tattaqun). Keempat pilar tersebut mencakup transformasi spiritual, emosional, moral, dan sosial.
Kajian Ramadan Public Lecture (RPL) (24/2) dibuka dengan bedah karya tulis Profesor Tom Nichols yang berjudul The Death of Experties (Matinya Kepakaran). Dari karya tersebut, tergambarkan kondisi masyarakat Amerika yang mulai tidak menghargai kepakaran serta tidak menghargai otoritas ilmu.
Fenomena ini tampak jelas pada masa Covid-19, ketika otoritas medis seringkali kalah dibandingkan tokoh populer atau figur agama. Hal ini menandakan bahwa, saat ini, popularitas cenderung lebih diakui daripada otoritas ilmu.
Mengutip data Oxford dictionary, Ketua Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIKA, Adian Husaini, M.Si., Ph.D., mengungkapkan bahwa kata yang paling populer adalah post-truth atau era pascakebenaran. Era pascakebenaran adalah era ketika berita yang menyentuh emosi lebih mudah diterima dan dipahami dibandingkan dengan data-data yang terverifikasi.
“Kita memasuki era kebohongan. Era berita yang lebih menyentuh emosial lebih mudah dipahami ketimbang data-data atau fakta yang terverifikasi. Ini adalah masalah yang sulit dipecahkan untuk kita semua,” ungkapnya dalam RPL yang digelar pada Selasa malam (24/02).
Perkembangan teknologi informasi yang luar biasa telah mengubah cara manusia menerima, memproses, dan memaknai realitas. Melalui gawai pribadi, segala bentuk informasi baik yang dapat dipercaya maupun yang tidak dapat dipercaya dengan mudah masuk tanpa sekat. Hal tersebut mengemuka dalam kajian Mimbar Subuh, yang disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Dr. Machasin, M.A.
Arus informasi yang melimpah dan pengawasan publik yang sangat ketat di era digital ternyata belum menjamin tegaknya nilai-nilai etika dalam kehidupan bermasyarakat. Fenomena paradoksial justru sering muncul, misalnya saja kritik bebas yang bertebaran di linimasa tidak dibarengi dengan penguatan standar moral. Persoalan krisis moral ini menjadi sorotan utama Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum.
Menurutnya, situasi tersebut tidak hanya menghadirkan berbagai dampak positif, tetapi juga berkontribusi pada lahirnya masyarakat yang semakin abai terhadap nilai-nilai moral. “Kita hidup di zaman paradoks. Kita saksikan begitu banyak informasi, kita saksikan juga kemarahan dengan mudah tersulut. Semakin tinggi pendidikan tidak berbanding dengan empati yang semakin tipis di mana-mana. Masalahnya tidak sekadar kurang pengetahuan, tapi kurang refleksi,” ungkapnya dalam Kajian Samudra pada Senin (23/2).
Di tengah tantangan degradasi moral dan kompleksitas sosial modern, pendidikan karakter kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai materi tambahan dalam kurikulum formal, melainkan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Guru Besar FMIPA Bidang Kimia, Prof. Dr. Chairil Anwar, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan karakter di Indonesia sangat bergantung pada integrasi antara nilai religius, keteladanan nyata, dan praktik sosial yang konsisten di luar kelas.
Pendidikan tinggi Indonesia kini dituntut tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga menjadi inkubator solusi bagi persoalan nyata di masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Rektor UGM periode 2017–2022, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng, D.Eng, IPU., ASEAN Eng., dalam kajian Safari Ilmu di Bulan Ramadan (Samudra) di Masjid Kampus UGM, Jumat (20/2).
Mengusung tema “Membangun Kemandirian Bangsa melalui Inovasi Pendidikan Tinggi”, kajian sore itu membahas isu yang dekat dengan tantangan Indonesia hari ini. Dalam pemaparannya, Panut membuka kajian dengan optimisme sumber daya yang dimiliki Indonesia. “Indonesia kaya raya. Kita punya emas, mineral, batu bara, flora, dan fauna. Jumlah penduduk kita lebih dari 240 juta jiwa,” tuturnya.
Esensi hidup yang bermakna bukan sekadar diukur dengan pencapaian materi, melainkan seberapa tuntas seseorang dapat menyelesaikan hubungannya dengan tiga entitas utama dalam hidupnya, yakni dengan Allah, sesama, dan dirinya sendiri. Pesan tersebut mengemuka dalam khotbah yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Darush Shalihat, Drs. Syatori Abdurrauf di Masjid Kampus UGM, Jumat (6/2).
Syatori mengungkapkan bahwa terdapat tiga makna hidup untuk hidup yang lebih bermakna. “Sebagai seorang yang beriman, kita tidak terlepas dari 3 sosok, yaitu Allah, sesama, dan diri sendiri. Kita memiliki tugas yakni, selesai,” ungkapnya.
Pemberdayaan ekonomi umat melalui sektor pertanian dan peternakan dipandang sebagai pilar vital bagi ketahanan nasional. Meski profesi petani dan peternak kerap dipandang sebelah mata, peran mereka sangatlah sentral. Hal ini terbukti secara nyata, tidak hanya melalui kontribusi strategis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga sebagai fondasi utama kedaulatan pangan bangsa. Refleksi ini menjadi titik awal pembahasan khutbah yang disampaikan oleh Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D, IPM. (Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Peternakan UGM) pada Jumat (23/1) di Masjid Kampus UGM.
Membangun jiwa wirausaha dalam keluarga bukan sekadar mengejar profit semata, melainkan sebuah bentuk pengabdian kepada Allah. Pesan tersebut ditekankan oleh Direktur Operasional RZIS UGM, Taufikur Rahman, S.E., M.B.A., Ak., CA., dalam Sakinah Academy di Masjid Kampus UGM, Senin sore (12/1).
Bertajuk “Membangun Mindset Wirausaha dalam Keluarga: Dari Pencatatan Sederhana sampai Knowledge Management Keuangan”, Taufikur memaparkan bahwa paradigma bisnis Islam harus berlandaskan pada hakikat manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di bumi. “Kita memiliki misi. Selain beribadah kepada Allah swt., kita juga harus merealisasikan rahmatan lilalamin,” jelasnya.