Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang pernah mengalami dua fase yang datang silih berganti, yakni masa ketika rezeki terasa lapang dan masa ketika keadaan justru terasa sempit. Ada saat ketika usaha berjalan baik, kebutuhan terpenuhi, dan harapan seolah terbuka lebar. Namun, ada pula masa ketika pengeluaran datang beruntun, pemasukan melambat, dan kegelisahan tentang masa depan mulai menguat. Pada titik-titik seperti inilah, manusia kerap diuji bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara batin.
Dalam Khotbah Jumat (1/5), dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D. mengajak jemaah untuk melihat dinamika tersebut melalui dua konsep penting dalam Al-Qur’an, yaitu qabd dan bast. Qabd menggambarkan keadaan ketika sesuatu ditahan, disempitkan, atau dibatasi. Sementara itu, bast merujuk pada keadaan ketika sesuatu dilapangkan, dibukakan, dan diperluas. Merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 245, Akbar menegaskan bahwa rezeki tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. “Ayat ini mengingatkan bahwa rezeki tidak semata-mata dalam genggaman manusia. Manusia wajib bekerja dan berusaha. Di atas ikhtiar kita, ada kehendak Allah yang akan menentukan hasilnya,” ungkapnya.
Akbar menegaskan bahwa keadaan sempit dan lapang merupakan ujian dari Allah Swt. Akbar menjelaskan bahwa ujian dapat terjadi ketika qabd atau sempit. Bahkan, bisa juga terjadi ketika dalam keadaan bast atau lapang. “Dalam keadaan sempit, Allah melihat apakah kita sabar dalam menghadapi keadaan sempit itu. Sementara itu, ketika kondisi lapang, Allah Swt. juga menguji apakah kita bisa menyikapinya dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Dalam ujian tersebut, Akbar mengajak jemaah untuk mengambil hikmah, yang salah satunya ialah mengajarkan mengenai kepedulian. Akbar menegaskan bahwa dalam Islam, rezeki tidak boleh dipahami sebatas urusan pribadi, melainkan harta yang dititipkan selalu mengandung tanggung jawab sosial. “Ketika seseorang diberikan bast, kelapangan tidak boleh berhenti pada dirinya sendiri. Akan tetapi harus mengalir pada orang lain. Terutama pada mereka yang dalam keadaan qabd,” tegasnya.
Baca juga: Dosen HI UGM Sebut Konflik Iran–AS Jadi Ujian Global, Soroti Posisi Indonesia yang Tidak Jelas
Menutup khotbahnya, Akbar menguraikan pesan penting mengenai keseimbangan sikap dalam menghadapi dinamika hidup. “Kadang kita diuji dengan kekurangan, terkadang pula diuji dengan keberlimpahan. Saat Allah Swt. menyempitkan, jangan putus asa. Saat Allah melapangkan, jangan sombong; Saat hidup sulit, jangan tinggalkan Allah Swt. dan saat hidup mudah, jangan lupakan Allah Swt.; Saat hidup sempit tetaplah sujud dan sabar, saat rezeki lapang tetaplah rendah hati dan berbagi,” pungkasnya.
Pesan ini terasa sangat dekat dengan realitas hari ini. Perubahan ekonomi global yang cepat, ketidakpastian pasar kerja, perkembangan teknologi, serta perubahan pola konsumsi membuat banyak orang hidup dalam rasa tidak pasti. Dalam situasi seperti itu, ekonomi bukan hanya soal strategi bertahan, tetapi juga soal kemampuan menjaga keseimbangan batin. Sebab kegelisahan sering kali lahir bukan semata karena kurangnya harta, melainkan karena hilangnya rasa cukup dan arah hidup.
Melalui refleksi tentang qabd dan bast, Akbar mengingatkan bahwa aktivitas ekonomi sejatinya adalah bagian dari perjalanan spiritual manusia. Rezeki tidak hanya diukur dari banyak atau sedikitnya, tetapi dari keberkahan, ketepatan penggunaannya, dan dampaknya bagi sesama. Ketika kelapangan datang, manusia diajak untuk rendah hati. Ketika kesempitan hadir, manusia diajak untuk tetap teguh dan tidak kehilangan harapan.
Pada akhirnya, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan bagaimana memperoleh rezeki, tetapi juga bagaimana memaknai perubahan keadaan. Sebab dalam hidup, tidak semua yang lapang membuat manusia lebih dekat pada kebaikan, dan tidak semua yang sempit menjauhkan manusia dari rahmat.
Penulis: Thareeq Arkan Falakh
Editor : Aldi Firmansyah