Pemerataan layanan kesehatan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, khususnya bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di tengah berbagai persoalan akses dan pemahaman masyarakat mengenai sistem jaminan kesehatan nasional, konsep gotong royong dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif bagi seluruh warga negara.
Isu tersebut dibahas dalam Webinar Serial Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi Pembangunan Nasional Sesi 4 bertema “Pemerataan Layanan Kesehatan di Daerah 3T dalam Perspektif Islam dan Pembangunan” yang diselenggarakan Masjid Kampus UGM pada Rabu (29/4). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom dan siaran langsung YouTube Maskam UGM ini menghadirkan Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., AAK., Direktur Utama BPJS Kesehatan periode 2021–2026, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Ali Ghufron menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang masih belum memahami konsep dasar BPJS Kesehatan, termasuk prinsip gotong royong atau taawun yang menjadi landasan utama program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Nilai taawun itu adalah saling tolong-menolong. Jadi kalau ada tetangga sakit, doa saja itu bagus, tetapi tidak cukup. Kita juga perlu ikut membantu melalui iuran,” jelasnya.
BPJS Kesehatan dan Konsep Taawun
Ali Ghufron menegaskan bahwa BPJS Kesehatan bukanlah lembaga bisnis yang berorientasi mencari keuntungan, melainkan badan hukum publik yang bertugas memastikan masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan.
Ia menjelaskan bahwa dana BPJS merupakan dana amanat milik peserta, bukan milik institusi. Karena itu, peserta yang sehat turut membantu pembiayaan peserta lain yang sedang sakit melalui sistem gotong royong.
“Saya rajin bayar iuran BPJS tetapi tidak pernah memakai. Uang itu dipakai membantu saudara kita yang sedang sakit dan membutuhkan,” ungkapnya.
Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kepedulian sosial dan saling membantu antar sesama.
Baca juga: Antara Perasaan dan Rasionalitas, Fathur Jabarkan Kriteria Memilih Pasangan yang Tepat dalam Islam
Tantangan Pemerataan di Daerah 3T
Dalam webinar tersebut, Ali Ghufron juga menyoroti tantangan pemerataan layanan kesehatan di daerah 3T. Ia menegaskan bahwa BPJS Kesehatan berperan pada aspek akses pembiayaan layanan kesehatan (demand side), bukan pada penyediaan fasilitas kesehatan (supply side).
“Kalau urusannya menyediakan rumah sakit, dokter, tenaga kesehatan, atau alat kesehatan, itu bukan tugas BPJS,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa tugas utama BPJS adalah memastikan masyarakat dapat mengakses pelayanan kesehatan tanpa terkendala biaya, termasuk masyarakat di wilayah terpencil.
Capaian BPJS Kesehatan
Ali Ghufron turut memaparkan capaian BPJS Kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Hingga Desember 2025, kepesertaan JKN disebut telah mencapai sekitar 283 juta jiwa atau hampir 98 persen penduduk Indonesia.
Menurutnya, pencapaian tersebut termasuk yang tercepat di dunia dalam mewujudkan Universal Health Coverage.
“Indonesia mencapai 98 persen hanya dalam waktu 10 tahun. Lebih cepat daripada negara-negara lain,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa BPJS Kesehatan pernah masuk nominasi Nobel serta menjadi bahan pembelajaran di berbagai forum internasional.
Edukasi Masyarakat Jadi Tantangan Utama
Meski demikian, Ali Ghufron menilai tantangan terbesar bukan hanya pada sistem, tetapi juga rendahnya pemahaman masyarakat mengenai BPJS Kesehatan.
“Tantangan terbesar itu ketidakpahaman masyarakat. Bahkan orang yang seharusnya paham pun kadang belum memahami perbedaan tugas BPJS dengan penyedia layanan kesehatan,” katanya.
Ia mencontohkan masih banyak masyarakat yang menganggap BPJS bertanggung jawab terhadap pembangunan rumah sakit atau penyediaan tenaga medis, padahal hal tersebut berada di bawah kewenangan instansi lain.
Pentingnya Menjaga Kesehatan
Menutup webinar, Ali Ghufron mengingatkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kesehatan dan kebersihan. Menurutnya, menjaga kesehatan merupakan bagian penting agar manusia dapat menjalankan ibadah dan aktivitas kehidupan dengan baik.
“Kita jagalah kesehatan bersama-sama. Kalau masyarakat sehat, negara menjadi kuat dan kita bisa beribadah dengan baik,” pesannya.
Webinar kemudian ditutup dengan ajakan untuk terus memperkuat semangat taawun dan gotong royong demi mewujudkan layanan kesehatan yang merata dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Penulis: Aulia Mahdini
Editor: Indra Oktafian Hidayat