• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Diskusi Paradigma Profetik
  • Eks Dirut BPJS Sebut Pemerataan Kesehatan di Daerah 3T Masih Jadi PR Besar

Eks Dirut BPJS Sebut Pemerataan Kesehatan di Daerah 3T Masih Jadi PR Besar

  • Diskusi Paradigma Profetik
  • 30 April 2026, 10.41
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Pemerataan layanan kesehatan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, khususnya bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di tengah berbagai persoalan akses dan pemahaman masyarakat mengenai sistem jaminan kesehatan nasional, konsep gotong royong dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif bagi seluruh warga negara.

Isu tersebut dibahas dalam Webinar Serial Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi Pembangunan Nasional Sesi 4 bertema “Pemerataan Layanan Kesehatan di Daerah 3T dalam Perspektif Islam dan Pembangunan” yang diselenggarakan Masjid Kampus UGM pada Rabu (29/4). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom dan siaran langsung YouTube Maskam UGM ini menghadirkan Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., AAK., Direktur Utama BPJS Kesehatan periode 2021–2026, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Ali Ghufron menjelaskan bahwa banyak masyarakat yang masih belum memahami konsep dasar BPJS Kesehatan, termasuk prinsip gotong royong atau taawun yang menjadi landasan utama program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Nilai taawun itu adalah saling tolong-menolong. Jadi kalau ada tetangga sakit, doa saja itu bagus, tetapi tidak cukup. Kita juga perlu ikut membantu melalui iuran,” jelasnya.

BPJS Kesehatan dan Konsep Taawun

Ali Ghufron menegaskan bahwa BPJS Kesehatan bukanlah lembaga bisnis yang berorientasi mencari keuntungan, melainkan badan hukum publik yang bertugas memastikan masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan.

Ia menjelaskan bahwa dana BPJS merupakan dana amanat milik peserta, bukan milik institusi. Karena itu, peserta yang sehat turut membantu pembiayaan peserta lain yang sedang sakit melalui sistem gotong royong.

“Saya rajin bayar iuran BPJS tetapi tidak pernah memakai. Uang itu dipakai membantu saudara kita yang sedang sakit dan membutuhkan,” ungkapnya.

Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kepedulian sosial dan saling membantu antar sesama.

Baca juga: Antara Perasaan dan Rasionalitas, Fathur Jabarkan Kriteria Memilih Pasangan yang Tepat dalam Islam

Tantangan Pemerataan di Daerah 3T

Dalam webinar tersebut, Ali Ghufron juga menyoroti tantangan pemerataan layanan kesehatan di daerah 3T. Ia menegaskan bahwa BPJS Kesehatan berperan pada aspek akses pembiayaan layanan kesehatan (demand side), bukan pada penyediaan fasilitas kesehatan (supply side).

“Kalau urusannya menyediakan rumah sakit, dokter, tenaga kesehatan, atau alat kesehatan, itu bukan tugas BPJS,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa tugas utama BPJS adalah memastikan masyarakat dapat mengakses pelayanan kesehatan tanpa terkendala biaya, termasuk masyarakat di wilayah terpencil.

Capaian BPJS Kesehatan

Ali Ghufron turut memaparkan capaian BPJS Kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Hingga Desember 2025, kepesertaan JKN disebut telah mencapai sekitar 283 juta jiwa atau hampir 98 persen penduduk Indonesia.

Menurutnya, pencapaian tersebut termasuk yang tercepat di dunia dalam mewujudkan Universal Health Coverage.

“Indonesia mencapai 98 persen hanya dalam waktu 10 tahun. Lebih cepat daripada negara-negara lain,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa BPJS Kesehatan pernah masuk nominasi Nobel serta menjadi bahan pembelajaran di berbagai forum internasional.

Edukasi Masyarakat Jadi Tantangan Utama

Meski demikian, Ali Ghufron menilai tantangan terbesar bukan hanya pada sistem, tetapi juga rendahnya pemahaman masyarakat mengenai BPJS Kesehatan.

“Tantangan terbesar itu ketidakpahaman masyarakat. Bahkan orang yang seharusnya paham pun kadang belum memahami perbedaan tugas BPJS dengan penyedia layanan kesehatan,” katanya.

Ia mencontohkan masih banyak masyarakat yang menganggap BPJS bertanggung jawab terhadap pembangunan rumah sakit atau penyediaan tenaga medis, padahal hal tersebut berada di bawah kewenangan instansi lain.

Pentingnya Menjaga Kesehatan

Menutup webinar, Ali Ghufron mengingatkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kesehatan dan kebersihan. Menurutnya, menjaga kesehatan merupakan bagian penting agar manusia dapat menjalankan ibadah dan aktivitas kehidupan dengan baik.

“Kita jagalah kesehatan bersama-sama. Kalau masyarakat sehat, negara menjadi kuat dan kita bisa beribadah dengan baik,” pesannya.

Webinar kemudian ditutup dengan ajakan untuk terus memperkuat semangat taawun dan gotong royong demi mewujudkan layanan kesehatan yang merata dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Penulis: Aulia Mahdini

Editor: Indra Oktafian Hidayat

Post Views: 60
Tags: akses layanan kesehatan BPJS Kesehatan daerah 3T edukasi masyarakat gotong royong JKN Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja ketimpangan kesehatan Masjid Kampus UGM pemerataan kesehatan taawun Universal Health Coverage

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Membangun Mindset Pernikahan yang Sehat, Ini Pesan Bagus Riyono bagi Calon Pengantin
  • Guru Besar FISIPOL UGM: Krisis Kepercayaan Ancam Stabilitas Bangsa
  • Doom Scrolling Perparah Kecemasan Mahasiswa, Psikolog Jelaskan Penyebabnya
  • Kepala PSP UGM: Pancasila Harus Menjadi Kompas Etik Pengembangan Ilmu Pengetahuan
  • Tak Perlu Takut Menikah, Cahyadi Takariawan Ajak Generasi Muda Siapkan Diri dengan Ilmu
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY