Di tengah masyarakat yang semakin menganggap pesta pernikahan sebagai simbol status sosial, calon pengantin sering dihadapkan pada pilihan antara mengikuti tuntunan kesederhanaan dalam Islam atau memenuhi ekspektasi sosial. Tidak sedikit pasangan yang merasa harus menyiapkan gedung, katering, dokumentasi, dan berbagai kebutuhan lainnya agar pernikahannya dianggap layak. Padahal, pernikahan dalam Islam tidak semata-mata tentang kemeriahan acara, tetapi tentang membangun kehidupan rumah tangga yang menghadirkan ketenteraman, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Kajian Jogja
Kehidupan mahasiswa sering kali dipenuhi berbagai target yang harus dicapai dalam waktu bersamaan. Mulai dari mempertahankan IPK tinggi, aktif berorganisasi, memenangkan kompetisi, menyelesaikan skripsi tepat waktu, hingga membangun portofolio demi karier di masa depan. Tidak sedikit yang akhirnya merasa tertinggal ketika realitas tidak berjalan sesuai rencana. Fenomena inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam Kajian Kamis Sore Masjid Kampus UGM bertajuk “Self-Compassion bagi Mahasiswa: Berdamai dengan Target dan Ekspektasi” yang disampaikan oleh Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada.
“Menikah itu bukan suatu kondisi yang statis atau stagnan. Ibarat berlayar mengarungi lautan luas, kita akan menghadapi badai, topan, dan ombak. Namun, kita akan tetap bisa melampaui itu semua jika memiliki penghayatan yang mendalam tentang maksud pernikahan itu sendiri,” ujar Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog.
Kajian Kamis Sore yang diselenggarakan oleh Masjid Kampus UGM pada Kamis (11/6) menghadirkan Wirdatul Anisa, M.Psi., Psikolog. sebagai pemateri dengan tema “Doom Scrolling sebagai Pelarian dari Tekanan Akademik”. Kegiatan yang berlangsung di ruang utama Masjid Kampus UGM tersebut diikuti mahasiswa dan masyarakat umum sebagai ruang refleksi mengenai kesehatan mental di era digital.
Ketakutan untuk menikah semakin banyak dirasakan generasi muda, terutama akibat derasnya informasi negatif yang beredar di media sosial. Menyikapi fenomena tersebut, Masjid Kampus UGM melalui program Sakinah Akademy menggelar kajian bertajuk “Marry Scary or Are You Just Not Ready Yet? Mengenali dan Mengatasi Ketakutan Menikah secara Rasional dan Islami” dengan menghadirkan pendiri Wonderful Family Institute, Cahyadi Takariawan, S.Si. pada Senin (8/6).
Profesi dan pekerjaan tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai sarana memperoleh penghasilan. Dalam khotbah Jumat (5/6) bertajuk “Menjadikan Profesi sebagai Jalan Pengabdian kepada Allah”, Dr. Agus Himawan Utomo, S.S., M.Ag., mengajak jemaah untuk memaknai setiap pekerjaan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah Swt.
Menunda mengerjakan tugas kerap dianggap sebagai bentuk kemalasan. Padahal, di balik kebiasaan tersebut sering kali tersimpan persoalan psikologis yang lebih kompleks. Hal itu disampaikan Psikolog Ilma Putri Istianda, M.Psi., Psikolog, dalam kajian bertajuk “Prokrastinasi Akademik: Ketika Rasa Takut Disamarkan sebagai Malas” yang diselenggarakan di Masjid Kampus UGM pada Kamis (4/6).
Di tengah kemajuan teknologi yang memungkinkan manusia terhubung kapan saja dan di mana saja, fenomena kesepian justru semakin banyak dialami generasi muda. Kondisi ini menjadi perhatian dalam kajian Sakinah Akademy bertajuk “Lonely Generation: Analisis Sosial-Politik atas Fenomena Kesepian Pemuda dan Krisis Komitmen” yang menghadirkan dosen Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM, Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, S.IP., M.A. sebagai narasumber.
Ilmu bukan sekadar sarana meraih gelar, pekerjaan, atau jabatan. Dalam pandangan Islam, ilmu merupakan cahaya yang menghidupkan hati, menuntun akal, dan mengarahkan manusia menuju kemaslahatan. Pesan inilah yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi, Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., dalam khotbah Jumat di Masjid Kampus UGM, Jumat (29/5).
Menjelang Iduladha 1447 H, pemahaman mengenai tata cara penyembelihan hewan kurban dan penanganan daging yang higienis menjadi hal penting untuk diperhatikan. Selain memastikan kehalalan hewan kurban, proses penyembelihan yang sesuai syariat juga berperan dalam menjaga keselamatan panitia serta kualitas daging yang akan didistribusikan kepada masyarakat.