Kajian SAMUDRA menjelang berbuka puasa pada Ahad (15/3) di Masjid Kampus UGM menghadirkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prof. Ir. Teuku Faisal Fatani, Ph.D., yang mengajak jemaah memahami perubahan iklim sebagai tantangan besar bagi peradaban manusia. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi peperangan bersenjata, tetapi juga “perang” melawan perubahan iklim yang dampaknya dapat meruntuhkan peradaban.
“Saat ini kita tidak hanya berperang dengan senjata atau teknologi seperti artificial intelligence dan cyber. Kita juga sedang berperang melawan perubahan iklim,” ujarnya di hadapan jemaah yang didominasi mahasiswa.
Hubungan Iklim dengan Peradaban Manusia
Faisal menjelaskan bahwa sejak awal, peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim. Manusia cenderung berkembang di wilayah dengan suhu yang nyaman dan sumber air yang cukup. Menurutnya, suhu ideal bagi aktivitas manusia berada di sekitar 21 derajat Celsius.
Ia mencontohkan bahwa banyak peradaban besar lahir di kawasan Eurasia mulai dari wilayah Mediterania, Timur Tengah, hingga Asia Selatan dan Tiongkok karena memiliki iklim yang relatif stabil serta akses air dari sungai besar.
Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat menghancurkan peradaban. Kekeringan berkepanjangan, gagal panen, hingga konflik sosial pernah menyebabkan runtuhnya sejumlah peradaban, seperti peradaban Maya di Amerika.
“Perubahan iklim bisa menimbulkan cascading disaster, yaitu bencana berantai yang memengaruhi pangan, air, dan energi, hingga memicu konflik sosial dan migrasi besar-besaran,” jelasnya.
Ia bahkan mengutip pemikiran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah yang menyebut adanya keterkaitan antara kekeringan, kelaparan, konflik sosial, migrasi, dan wabah penyakit.
Baca juga: Kepala BRIN Ajak Umat Islam Bangun Mentalitas Inovator dan Pencipta Masa Depan
Kenaikan Suhu Bumi dan Dampaknya
Dalam paparannya, Faisal menunjukkan bahwa suhu global telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius sejak era revolusi industri. Tahun 2024 bahkan tercatat sebagai tahun terpanas dalam 175 tahun terakhir, sementara 2025 termasuk tiga tahun terpanas sepanjang sejarah observasi. Menurutnya, peningkatan suhu ini tidak bisa dianggap kecil.
“Kalau kita tidak melakukan apa-apa, maka pada tahun 2050 suhu bumi bisa naik hingga 3 derajat Celsius dibandingkan sebelum revolusi industri,” katanya.
Kenaikan suhu tersebut dipicu oleh meningkatnya gas rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida akibat aktivitas manusia, termasuk industri, deforestasi, transportasi, dan penggunaan energi yang tinggi. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bahkan menyimpulkan bahwa aktivitas manusia menjadi penyebab utama pemanasan global.
Dampak Perubahan Iklim di Indonesia
Faisal juga menyoroti bukti nyata perubahan iklim di Indonesia. Dalam 45 tahun terakhir, suhu rata-rata di Indonesia meningkat sekitar 1,04 derajat Celsius. Selain itu, konsentrasi gas rumah kaca di Indonesia juga terus meningkat sejalan dengan tren global. Salah satu dampak paling nyata adalah menyusutnya salju abadi di Puncak Jaya, Papua. Berdasarkan pengamatan tim peneliti BMKG, luas es di kawasan tersebut telah berkurang hingga 30–50 persen dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Diprediksi sekitar tahun 2026 atau awal 2027, salju di pegunungan Papua bisa hilang,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan. Pada tahun 2025 saja, tercatat lebih dari 3.200 kejadian bencana hidrometeorologi di Indonesia.
Pentingnya Mitigasi dan Adaptasi
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Faisal menekankan dua pendekatan utama, yaitu mitigasi dan adaptasi. Mitigasi dilakukan dengan mengurangi emisi karbon melalui penggunaan energi terbarukan, teknologi ramah lingkungan, serta pola konsumsi yang lebih bijak. Sementara itu, adaptasi dilakukan dengan memperkuat sistem manajemen bencana, infrastruktur tahan iklim, serta pengelolaan sumber daya air.
Ia mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ yang mendorong manusia tetap menanam kebaikan bahkan menjelang kiamat.
“Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian terdapat bibit kurma, maka tanamlah,” ujarnya mengutip hadis riwayat Ahmad.
Menurutnya, pesan tersebut menunjukkan bahwa manusia tetap harus menjaga bumi dan lingkungan, apa pun kondisinya.
Peran BMKG dalam Pembangunan
Di akhir pemaparannya, Faisal menegaskan bahwa peran BMKG tidak hanya terkait kebencanaan, tetapi juga mendukung berbagai sektor pembangunan, seperti pertanian, kesehatan, transportasi, hingga infrastruktur. Sebagai contoh, BMKG mengembangkan sistem prediksi penyakit berbasis iklim seperti demam berdarah, serta melakukan modifikasi cuaca untuk mengurangi banjir atau membantu mengisi bendungan saat musim kemarau.
“BMKG bukan hanya bicara tentang bencana. Kami juga mendukung pembangunan sektoral di Indonesia melalui data dan kajian meteorologi, klimatologi, dan geofisika,” jelasnya.
Ia pun mengajak masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk mulai dari langkah sederhana dalam menjaga lingkungan, seperti menghemat energi, mengurangi sampah plastik, dan lebih bijak dalam menggunakan sumber daya alam.
“Perubahan iklim itu nyata. Yang kita lakukan hari ini mungkin tidak langsung kita rasakan manfaatnya, tetapi anak cucu kita yang akan merasakannya,” pungkasnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat