• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Kepala BMKG Ungkap Dampak Perubahan Iklim, dari Krisis Pangan hingga Konflik Sosial

Kepala BMKG Ungkap Dampak Perubahan Iklim, dari Krisis Pangan hingga Konflik Sosial

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 16 Maret 2026, 20.00
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Kajian SAMUDRA menjelang berbuka puasa pada Ahad (15/3) di Masjid Kampus UGM menghadirkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prof. Ir. Teuku Faisal Fatani, Ph.D., yang mengajak jemaah memahami perubahan iklim sebagai tantangan besar bagi peradaban manusia. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi peperangan bersenjata, tetapi juga “perang” melawan perubahan iklim yang dampaknya dapat meruntuhkan peradaban.

“Saat ini kita tidak hanya berperang dengan senjata atau teknologi seperti artificial intelligence dan cyber. Kita juga sedang berperang melawan perubahan iklim,” ujarnya di hadapan jemaah yang didominasi mahasiswa.

Hubungan Iklim dengan Peradaban Manusia

Faisal menjelaskan bahwa sejak awal, peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim. Manusia cenderung berkembang di wilayah dengan suhu yang nyaman dan sumber air yang cukup. Menurutnya, suhu ideal bagi aktivitas manusia berada di sekitar 21 derajat Celsius.

Ia mencontohkan bahwa banyak peradaban besar lahir di kawasan Eurasia mulai dari wilayah Mediterania, Timur Tengah, hingga Asia Selatan dan Tiongkok karena memiliki iklim yang relatif stabil serta akses air dari sungai besar.

Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat menghancurkan peradaban. Kekeringan berkepanjangan, gagal panen, hingga konflik sosial pernah menyebabkan runtuhnya sejumlah peradaban, seperti peradaban Maya di Amerika.

“Perubahan iklim bisa menimbulkan cascading disaster, yaitu bencana berantai yang memengaruhi pangan, air, dan energi, hingga memicu konflik sosial dan migrasi besar-besaran,” jelasnya.

Ia bahkan mengutip pemikiran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah yang menyebut adanya keterkaitan antara kekeringan, kelaparan, konflik sosial, migrasi, dan wabah penyakit.

Baca juga: Kepala BRIN Ajak Umat Islam Bangun Mentalitas Inovator dan Pencipta Masa Depan

Kenaikan Suhu Bumi dan Dampaknya

Dalam paparannya, Faisal menunjukkan bahwa suhu global telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius sejak era revolusi industri. Tahun 2024 bahkan tercatat sebagai tahun terpanas dalam 175 tahun terakhir, sementara 2025 termasuk tiga tahun terpanas sepanjang sejarah observasi. Menurutnya, peningkatan suhu ini tidak bisa dianggap kecil.

“Kalau kita tidak melakukan apa-apa, maka pada tahun 2050 suhu bumi bisa naik hingga 3 derajat Celsius dibandingkan sebelum revolusi industri,” katanya.

Kenaikan suhu tersebut dipicu oleh meningkatnya gas rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida akibat aktivitas manusia, termasuk industri, deforestasi, transportasi, dan penggunaan energi yang tinggi. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bahkan menyimpulkan bahwa aktivitas manusia menjadi penyebab utama pemanasan global.

Dampak Perubahan Iklim di Indonesia

Faisal juga menyoroti bukti nyata perubahan iklim di Indonesia. Dalam 45 tahun terakhir, suhu rata-rata di Indonesia meningkat sekitar 1,04 derajat Celsius. Selain itu, konsentrasi gas rumah kaca di Indonesia juga terus meningkat sejalan dengan tren global. Salah satu dampak paling nyata adalah menyusutnya salju abadi di Puncak Jaya, Papua. Berdasarkan pengamatan tim peneliti BMKG, luas es di kawasan tersebut telah berkurang hingga 30–50 persen dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Diprediksi sekitar tahun 2026 atau awal 2027, salju di pegunungan Papua bisa hilang,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan. Pada tahun 2025 saja, tercatat lebih dari 3.200 kejadian bencana hidrometeorologi di Indonesia.

Pentingnya Mitigasi dan Adaptasi

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Faisal menekankan dua pendekatan utama, yaitu mitigasi dan adaptasi. Mitigasi dilakukan dengan mengurangi emisi karbon melalui penggunaan energi terbarukan, teknologi ramah lingkungan, serta pola konsumsi yang lebih bijak. Sementara itu, adaptasi dilakukan dengan memperkuat sistem manajemen bencana, infrastruktur tahan iklim, serta pengelolaan sumber daya air.

Ia mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ yang mendorong manusia tetap menanam kebaikan bahkan menjelang kiamat.

“Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian terdapat bibit kurma, maka tanamlah,” ujarnya mengutip hadis riwayat Ahmad.

Menurutnya, pesan tersebut menunjukkan bahwa manusia tetap harus menjaga bumi dan lingkungan, apa pun kondisinya.

Peran BMKG dalam Pembangunan

Di akhir pemaparannya, Faisal menegaskan bahwa peran BMKG tidak hanya terkait kebencanaan, tetapi juga mendukung berbagai sektor pembangunan, seperti pertanian, kesehatan, transportasi, hingga infrastruktur. Sebagai contoh, BMKG mengembangkan sistem prediksi penyakit berbasis iklim seperti demam berdarah, serta melakukan modifikasi cuaca untuk mengurangi banjir atau membantu mengisi bendungan saat musim kemarau.

“BMKG bukan hanya bicara tentang bencana. Kami juga mendukung pembangunan sektoral di Indonesia melalui data dan kajian meteorologi, klimatologi, dan geofisika,” jelasnya.

Ia pun mengajak masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk mulai dari langkah sederhana dalam menjaga lingkungan, seperti menghemat energi, mengurangi sampah plastik, dan lebih bijak dalam menggunakan sumber daya alam.

“Perubahan iklim itu nyata. Yang kita lakukan hari ini mungkin tidak langsung kita rasakan manfaatnya, tetapi anak cucu kita yang akan merasakannya,” pungkasnya.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Post Views: 254
Tags: adaptasi iklim bencana hidrometeorologi BMKG emisi karbon Kajian Jogja Kajian Maskam Jogja kajian SAMUDRA UGM lingkungan dan peradaban Masjid Kampus UGM Maskam UGM mitigasi perubahan iklim pemanasan global perubahan iklim Ramadan rdk ugm

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Menjaga Bumi, Menjaga Iman: Mengapa Melestarikan Lingkungan Merupakan Manifestasi Tauhid dan Amanah?
  • Mengapa Harta Warisan Sering Menghancurkan Persaudaraan? Menyingkap Titik Buta Pembagian Harta
  • Mengapa Peradaban Modern Gagal Memanusiakan Manusia? Titik Buta Eksistensial Tanpa Integrasi Tauhid dan Akhlak
  • Menjamin Keadilan Gender Domestik: Mengapa Hukum Positif Wajib Melindungi Hak Ekologis Istri dan Anak
  • Sebelum Terjebak Utang Berkelanjutan: Simak Analisis Ihda Arifin Faiz Tentang Navigasi Krisis Keuangan Domestik
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY