Integrasi antara wahyu dan ilmu pengetahuan dinilai perlu dibangun melalui kerangka keilmuan yang sistematis agar tidak berhenti sebagai gagasan normatif. Dalam konteks Islam, wahyu dapat ditempatkan sebagai salah satu basis dalam membangun ilmu pengetahuan, termasuk antropologi, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip keilmuan.
Gagasan tersebut dibahas dalam Webinar Serial Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi: Antropologi Profetik sesi ketiga yang diselenggarakan Masjid Kampus UGM secara daring pada Rabu (19/8). Kegiatan bertajuk “Paradigma Profetik Islam: Basis Filosofis” tersebut menghadirkan Prof. Drs. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., Ph.D., Guru Besar Antropologi dan Seni Budaya UGM, dengan Dr. Arqom Kuswanjono, S.S., M.Hum. sebagai penanggap.