Pemerataan layanan kesehatan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, khususnya bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di tengah berbagai persoalan akses dan pemahaman masyarakat mengenai sistem jaminan kesehatan nasional, konsep gotong royong dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif bagi seluruh warga negara.
Diskusi Paradigma Profetik
Masjid Kampus UGM kembali menyelenggarakan Webinar Integrasi Ilmu dan Agama dengan tema besar “Studi Pembangunan Nasional” pada Rabu (22/4). Pada kesempatan ini, diskusi mengangkat topik strategis bertajuk “Hilirisasi Industri sebagai Agenda Prioritas Nasional: Strategi Pembangunan dalam Kerangka Islam”, yang disampaikan oleh Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Industri, Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.
Kebijakan efisiensi anggaran pendidikan berpotensi menekan kualitas pembangunan sumber daya manusia (SDM) jika tidak dilakukan secara hati-hati. Guru Besar Bidang Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Prof. Dr. R. Agus Sartono, M.B.A. mengingatkan bahwa pendidikan merupakan sektor strategis yang tidak boleh menjadi korban penghematan fiskal. Hal itu ia tegaskan pada Webinar Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi Pembangunan Nasional dengan tema “Implikasi Efisiensi Anggaran Pendidikan terhadap Pembangunan Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Islam” pada Rabu (15/4).
Masjid Kampus UGM kembali menggelar Webinar Integrasi Ilmu-Agama (WIIA) pada Rabu (8/4) yang disiarkan melalui kanal YouTube Masjid Kampus UGM. Dalam Seri Studi Pembangunan Nasional kali ini, tema yang diangkat adalah “Islam dan Ketahanan Pangan: Menimbang Program Makan Bergizi Gratis sebagai Pilihan Kebijakan Prioritas”, dengan menghadirkan Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM sebagai narasumber.
Masalah sampah di Indonesia dinilai semakin mendesak untuk ditangani secara serius. Banyak tempat pembuangan akhir (TPA) dilaporkan sudah tidak mampu menampung kiriman sampah harian, sehingga menimbulkan bau menyengat dan mencemari lingkungan sekitar. Di sisi lain, masyarakat juga menghadapi kenaikan biaya listrik seiring krisis energi global yang belum mereda.
Isu energi tidak lagi sekadar persoalan teknis, tetapi telah menjadi persoalan moral dan peradaban. Hal itu dijelaskan dalam Webinar Integrasi Ilmu dan Agama Seri Studi Energi bertajuk “Strategi Pengembangan Sistem Energi Nuklir di Indonesia dalam Perspektif Islam” yang diselenggarakan pada Rabu (21/1) via Zoom Meeting.
Webinar Serial Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi Energi dengan tajuk “Hidrogen sebagai Sumber Energi Masa Depan: Studi tentang Transisi Energi Berkelanjutan dalam Kerangka Islam” diselenggarakan pada Rabu (14/1) secara daring melalui Zoom Meeting dan kanal YouTube Masjid Kampus UGM. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr.Eng. Ir. Deendarlianto, S.T., M.Eng. Dewan Pengarah Pusat Studi Energi UGM sebagai narasumber utama.
Allah sudah mengingatkan pada Al-Baqarah [2]: 11, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”, tambang batu bara melakukan kebaikan (ternyata) destruction (perusakan) bumi, penebangan hutan katanya dengan alasan perbaikan ternyata menyebabkan kerusakan banjir (serta) ekologi. Kemudian Allah menegaskan pada Al-Baqarah [2]: 12, “Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.”
Pengingat tersebut disampaikan Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D. (Ketua Engineering Research and Innovation Center Fakultas Teknik UGM) pada Webinar Integrasi Ilmu-Agama (7/1) yang diselenggaran oleh Masjid Kampus UGM. Webinar kali ini mengusung tema “Islam dan Ketahanan Energi Nasional: Strategi Transisi Menuju Indonesia Net Zero Emission 2060.”
Bayangkan sebuah desa di Nusantara, tempat para kiai kampung dengan bijaksana membimbing warganya menjalani kehidupan sehari-hari yang dijiwai nilai-nilai Islam. Mereka mengajarkan musyawarah, menghormati tamu, dan saling menolong tanpa pamrih. Namun, ketika sistem pemerintahan formal masuk, semua kearifan lokal itu justru terbentur tembok birokrasi yang kaku. Inilah paradoks yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A., Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM, dalam webinar Integrasi Ilmu dan Agama bertema “Integrasi Nilai Islam dalam Partisipasi Masyarakat untuk Penentuan Kebijakan Tata Kelola Desa yang Berkeadilan”.
Dengan tegas, profesor yang juga pernah menjabat sebagai Rektor UNU ini menyatakan bahwa desa di Indonesia tidak dirancang untuk menjadi ruang ekspresi nilai-nilai keislaman. “Pemerintahan desa itu hanya taklukan pemerintah pusat. Desa itu melalui birokrasi pemerintah ditaklukkan sebagai bawahannya,” ujarnya membuka diskusi yang penuh dengan refleksi kritis.
Webinar Serial Integrasi Ilmu–Agama Seri Studi Pedesaan dan Kawasan Sesi 3 mengangkat tema Dialektika Islam dan Kebudayaan Lokal: Dinamika Gerakan Masyarakat Adat dalam Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Wilayah diselenggarakan pada Rabu (17/12) secara daring melalui kanal YouTube Masjid Kampus UGM. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Nurhasan Ismail, S.H., M.Si. Guru Besar Bidang Hukum Agraria Fakultas Hukum UGM, sebagai narasumber utama.