Allah sudah mengingatkan pada Al-Baqarah [2]: 11, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”, tambang batu bara melakukan kebaikan (ternyata) destruction (perusakan) bumi, penebangan hutan katanya dengan alasan perbaikan ternyata menyebabkan kerusakan banjir (serta) ekologi. Kemudian Allah menegaskan pada Al-Baqarah [2]: 12, “Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.”
Pengingat tersebut disampaikan Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D. (Ketua Engineering Research and Innovation Center Fakultas Teknik UGM) pada Webinar Integrasi Ilmu-Agama (7/1) yang diselenggaran oleh Masjid Kampus UGM. Webinar kali ini mengusung tema “Islam dan Ketahanan Energi Nasional: Strategi Transisi Menuju Indonesia Net Zero Emission 2060.”
“Sekarang kita transisi mau menggeser penggunaan fosil karena akumulasinya sudah luar biasa,” Tumiran melanjutkan, “Energi fosil menghasilkan emisi yang terus-menerus terakumulasi di udara yang menyebabkan udara terjebak kemudian tertutup.” Beliau menjelaskan bahwa lapisan ozon bumi semakin menipis karena emisi CO² di udara. Di Indonesia masih banyak pembangkit tenaga yang menggunakan energi fosil, begitu pula negara lain. Belum lagi, transportasi yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Terdapat juga Coal Power Plant yang mulai bersih, tetapi tetap kotor.
Tumiran yang juga merupakan Ketua Dewan Pengarah Pusat Studi Energi ini menyampaikan, “Diteliti oleh berbagai pihak di dunia bahwa suhu mengalami kenaikan (Temperature Rise) sampai 2050,” lanjutnya, “Kalau kenaikan suhu sampai 5, akan ekstrem.” Selain itu, beliau menjelaskan mengenai tren emisi CO² yang terus meningkat di berbagai belahan bumi. “Destruction (perusakan) tidak hanya terjadi di udara, tetapi juga daratan. Contohnya dapat dilihat pada bencana alam yang menimpa saudara kita di Sumatra yang dipicu oleh perubahan iklim dan hujan yang sangat deras, tetapi bumi tidak bisa mengakomodasi resapan air hujan karena kayu-kayu sudah dipotong sehingga mudah terbentuk bubur tanah. Itulah dampaknya yang telah dirasakan di Sumatra,” jelas beliau. Contoh lain terjadi pada permasalahan sampah. “Di Indonesia, sampai hari ini, belum ada satu kota pun yang memang mampu mengelola sampah dengan benar,” tegasnya.
Membahas mengenai energy transition, Tumiran menjelaskan, “Energy transition adalah pergeseran dari penggunaan fosil kepada yang lebih bersih, energi terbarukan, dan sumber-sumber energi karbon rendah. Energi kotor seperti batu bara, minyak, dan gas digeser menggunakan new and renewable energy dan sumber energi yang bersih seperti hidrogen, PV, angin, biogas, dan nuklir.” Menuju hal tersebut berbagai hal perlu dipersiapkan, berupa regulation (regulasi), technology (teknologi), governance (tata kelola), human resources (orang-orang ahli), financial and capital (pembiayaan), social science (pemahaman sosial), dan business environment (lingkungan bisnis) yang sehat. (Miftahul Khairati / Editor: Indra Oktafian Hidayat)