Masjid Kampus UGM kembali menggelar Kajian Pra-Ramadan pada Kamis (5/2). Kajian kali ini menghadirkan Drs. Syatori Abdurrauf (Pengasuh Pondok Pesantren Darush Shalihat) sebagai pembicara. Dalam ceramahnya yang berjudul “Manajemen Hati dan Pengendalian Diri dalam Kehidupan Sehari-hari”, ia mengajak jemaah untuk mengevaluasi kondisi hati sebagai persiapan menyambut bulan suci.
Dalam pembukaannya, Syatori melontarkan sebuah analogi mengenai mengapa ibadah sering kali terasa berat.
“Senikmat apapun bakso, kalau di lidah ada sariawan, rasanya nikmat atau perih? Perih. Hal yang sama akan terjadi, senikmat apapun amal kebaikan di bulan Ramadan, akan terasa perih kalau di dalam iman ada sariawan,” ujar Syatori di hadapan jemaah.
Menjadikan Ramadan Sebagai Panen Amal
Syatori mengawali kajian dengan mengingatkan siklus persiapan spiritual. Ia mengutip ungkapan ulama bahwa Rajab adalah bulan menanam, Syakban adalah bulan menyiram, dan Ramadan adalah bulan memanen.
Tanda keberhasilan panen amal di bulan Ramadan adalah ketika seorang muslim bisa merasakan nikmatnya beribadah, sebagaimana seseorang menikmati makanan kesukaannya hingga habis .
“Kalau seandainya besok kita baca Alquran di bulan Ramadan dan kita merasakan nikmatnya membaca, kapan berhentinya? Ketika sudah sampai pada ayat minal jinnati wannas (khatam). Baru berhenti, kenapa? Sudah habis,” jelasnya.
Baca juga: Abduh Tuasikal Ajak Jemaah Renungi Keutamaan Ibadah Puasa sebagai Sebab Utama Menggapai Takwa
Sariawan Iman
Namun, kenikmatan tersebut sering terhalang oleh apa yang disebutnya sebagai “Sariawan Iman”. Penyakit hati ini didefinisikan sebagai segala pikiran, perasaan, dan kesenangan yang tidak sejalan dengan makna, nilai, dan hakikat iman.
Dalam pemaparannya, Syatori membedah tiga jenis sariawan yang harus diwaspadai:
- Sariawan Pikiran (Logika yang Salah)
Sariawan ini terjadi ketika logika manusia bertentangan dengan logika iman. Contoh sederhananya adalah saat berbuat baik. Logika iman mengatakan bahwa berbuat baik kepada orang yang tidak baik kepada kita justru mendatangkan pahala yang lebih besar. Namun, pikiran yang sakit akan merasa rugi melakukan hal tersebut.
“Kalau ada orang yang punya pikiran ‘saya lebih senang berbuat baik kepada yang baik daripada kepada yang tidak baik’, tandanya kena sariawan. Karena dia punya pikiran yang tidak sejalan dengan iman,” tegasnya kembali.
- Sariawan Perasaan (Mudah Kecewa)
Jenis kedua adalah ketidaksiapan hati menerima respon negatif atau hal yang tidak sesuai keinginan. Ia mencontohkan jemaah yang merasa kesal ketika imam salat Tarawih membaca surat panjang seperti An-Naba, padahal surat panjang membawa pahala lebih banyak.
“Kalau suratnya panjang, pahalanya banyak atau sedikit? Banyak. Tetapi ketika kita salat tarawih imam membaca An-Naba… kira-kira rasanya seneng atau kesel? Kalau kesel, itu cacat perasaan,” ujarnya.
- Sariawan Kesenangan (Salah Prioritas)
Sariawan yang paling halus adalah ketika kesenangan duniawi terasa lebih bernilai daripada kesenangan ukhrawi. Ia mengilustrasikan seseorang yang melakukan salat Dhuha demi kelancaran rezeki, lalu lebih bahagia saat mendapatkan uang 150 juta dibandingkan nikmatnya salat Dhuha itu sendiri . Padahal, perbandingan nilai dunia dan akhirat sangatlah jauh.
“Mana yang lebih menyenangkan, dapat uang 100 triliun atau dapat uang 1 rupiah? Jelas 100 triliun. Tapi mana yang lebih menyenangkan, baca Alquran atau ngobrol? Apalagi kalau ngobrolnya campur gosip. Wah itu terasa lebih menyenangkan. Ini aneh dalam logika iman,” paparnya .
Resep Penyembuhan: Semua adalah Rahmat Allah
Sebagai solusi, Syatori memberikan “resep” untuk mengobati hati. Kuncinya adalah menyadari bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah dan pasti membawa kebaikan.
Ia menekankan pentingnya membedakan “urusan besar” dan “urusan kecil”. Dihina orang lain, misalnya, adalah urusan kecil karena tidak membuat Allah murka.
“Dihina itu gak ada urusannya dengan Allah. Kalau gak ada urusannya dengan Allah, berarti dihina urusan kecil. Kalau urusan kecil, berarti dihina itu gak apa-apa,” pungkasnya yang memberikan perspektif baru dalam ketenangan hati.
Menutup kajian sore itu, Syatori berpesan bahwa kesembuhan dari sariawan iman akan membuat seorang muslim tidak hanya menikmati ibadah selama Ramadan, tetapi juga melanjutkannya di bulan-bulan lain.
“Siapapun yang merasakan nikmat ukhrawi di dalam amal Ramadannya, maka nikmat ukhrawi itu akan tetap dia rasakan seusai Ramadan. Orang-orang seperti inilah yang pada akhirnya dia akan menjadikan semua bulan adalah Ramadan,” tutupnya.
Penulis: Isa Maliki
Editor: Indra Oktafian Hidayat