• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Tulisan dan Khotbah
  • Mengurai Patologi Eksklusivitas: Bagaimana Model Kepemimpinan Rasulullah Menjawab Tantangan Keadilan Publik

Mengurai Patologi Eksklusivitas: Bagaimana Model Kepemimpinan Rasulullah Menjawab Tantangan Keadilan Publik

  • Tulisan dan Khotbah
  • 27 Agustus 2026, 13.36
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Kepemimpinan bukan sekadar tentang posisi, kewenangan, atau kemampuan mengambil keputusan. Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan amanah yang menuntut tanggung jawab, keadilan, dan kemampuan untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Nilai tersebut menjadi pesan utama dalam Khotbah Jumat Masjid Kampus UGM pada Jumat, 21 Agustus 2026, yang disampaikan oleh Edi Prasetyo, S.T., M.Eng., Sekretaris Direktorat Aset UGM, dengan tema “Meneladani Kepemimpinan Rasulullah yang Inklusif dan Berkeadilan.”

Melalui tema tersebut, jamaah diajak kembali melihat kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai teladan yang relevan dalam kehidupan masa kini. Kepemimpinan Rasulullah tidak hanya tercermin dari kemampuan memimpin umat, tetapi juga dari cara beliau memperlakukan manusia dengan adil, menghargai perbedaan, membangun kepercayaan, dan mengutamakan kemaslahatan bersama.

Kepemimpinan yang inklusif berangkat dari kesadaran bahwa masyarakat terdiri atas manusia dengan latar belakang, kemampuan, dan kebutuhan yang beragam. Karena itu, seorang pemimpin tidak seharusnya hanya mendengarkan suara kelompok yang dekat dengannya. Kepemimpinan perlu membuka ruang bagi setiap orang untuk didengar, dihargai, dan memperoleh kesempatan yang adil untuk berkontribusi.

Sementara itu, keadilan menjadi prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari amanah kepemimpinan. Keadilan tidak selalu berarti memberikan sesuatu dalam jumlah yang sama kepada setiap orang, tetapi menempatkan sesuatu secara tepat serta memberikan hak kepada mereka yang berhak. Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini dapat diterapkan melalui keputusan yang objektif, sikap yang tidak diskriminatif, serta kesediaan untuk mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Pesan tersebut tidak hanya ditujukan kepada mereka yang memiliki jabatan formal. Setiap orang pada dasarnya memiliki amanah kepemimpinan dalam lingkupnya masing-masing. Orang tua memimpin keluarga, mahasiswa dapat memimpin organisasi, seorang profesional memimpin pekerjaan dan tanggung jawabnya, sementara setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Karena itu, nilai kepemimpinan Rasulullah dapat diterapkan mulai dari lingkungan terdekat.

Dalam kehidupan akademik dan profesional, kepemimpinan yang inklusif dan berkeadilan juga menjadi semakin penting. Kompetensi dan kecerdasan perlu berjalan bersama dengan integritas. Kemampuan mengambil keputusan harus diimbangi dengan kesediaan mendengar, sementara kewenangan harus disertai kesadaran bahwa setiap keputusan dapat berdampak kepada orang lain. Dengan demikian, kepemimpinan tidak berhenti pada pencapaian tujuan, tetapi juga memperhatikan bagaimana tujuan tersebut dicapai.

Kepemimpinan Rasulullah SAW memberikan gambaran bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak hanya terletak pada otoritas yang dimiliki, tetapi pada kepercayaan yang mampu dibangun. Keteladanan, kejujuran, kepedulian, dan keadilan menjadi fondasi yang membuat kepemimpinan memiliki makna lebih panjang daripada sekadar masa jabatan.

Melalui Khotbah Jumat tersebut, jamaah diajak untuk tidak hanya mengagumi keteladanan Rasulullah sebagai sebuah sejarah, tetapi menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi pemimpin yang inklusif berarti bersedia membuka diri terhadap perbedaan, sedangkan menjadi pemimpin yang adil berarti mampu menempatkan amanah di atas kepentingan pribadi.

Pada akhirnya, meneladani kepemimpinan Rasulullah berarti membangun kebiasaan untuk memimpin dengan hati, ilmu, dan tanggung jawab. Ketika nilai keadilan dan inklusivitas diterapkan mulai dari lingkungan terkecil, kepemimpinan tidak lagi sekadar menjadi persoalan siapa yang berada di depan, tetapi tentang bagaimana setiap orang dapat bersama-sama menciptakan kehidupan yang lebih adil, saling menghargai, dan membawa kemaslahatan.

Penulis: Thareeq Arkan Falakh

Editor: Muhammad Khanif Samudera

Post Views: 7

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Mengurai Patologi Eksklusivitas: Bagaimana Model Kepemimpinan Rasulullah Menjawab Tantangan Keadilan Publik
  • Sintesis Epistemologis: Bagaimana Antropologi Profetik Mengubah Paradigma Studi Manusia Modern
  • Bukan Sekadar Gaya Hidup: Mengapa Kesalahan Finansial Rumah Tangga Merupakan Kegagalan Desain Insentif Domestik
  • Isra Mi’raj dan Batas Pengetahuan Manusia
  • Kemerdekaan Cuma Milik Elite? Dekonstruksi Makna Kemerdekaan di Tengah Jurang Ketimpangan Struktural
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY