Kajian Mimbar Subuh Masjid Kampus UGM pada Rabu (11/3) menghadirkan Ammi Nur Baits, S.T., B.A., pembina Yufid TV, dengan tema “Islam dan Kemuliaan: Bagaimana Manusia-Manusia Mulia Menghamba Kepada Tuhannya.” Dalam ceramahnya, ia mengajak jemaah memahami bahwa kemuliaan tertinggi manusia bukan terletak pada status duniawi, melainkan pada kualitas penghambaan kepada Allah.
Dalam pembukaannya, Ammi mengajak jemaah untuk bersyukur atas kesempatan menjalani ibadah Ramadan hingga memasuki sepuluh hari terakhir. Ia berharap seluruh amal yang dilakukan selama bulan suci dapat diterima oleh Allah SWT.
“Layak kita bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang Allah berikan kepada kita untuk bisa melaksanakan rangkaian ibadah sepanjang bulan Ramadan. Kita mohon kepada Allah semoga aneka kegiatan ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Tiga Tingkatan Penghambaan
Dalam ceramahnya, Ammi menjelaskan bahwa para ulama membagi penghambaan manusia kepada Allah ke dalam tiga tingkatan.
Pertama adalah ubudiyah al-‘ammah, yaitu penghambaan yang bersifat umum dan mencakup seluruh makhluk. Siapa pun yang diciptakan oleh Allah, baik mukmin maupun kafir, tetap berada dalam ketetapan takdir-Nya.
“Tidak ada satu pun makhluk di langit maupun di bumi kecuali dia akan datang kepada Allah sebagai hamba. Baik yang taat maupun yang bermaksiat, semuanya berstatus sebagai hamba dalam ubudiyah yang umum,” jelasnya.
Tingkatan kedua adalah ubudiyah al-khassah, yaitu penghambaan khusus bagi orang-orang beriman yang taat kepada Allah dan menjaga aturan-Nya. Mereka inilah yang dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai ibadurrahman, hamba-hamba Allah yang memiliki sifat-sifat mulia. Adapun tingkatan tertinggi adalah ubudiyah khawasul khas, yakni penghambaan yang paling istimewa yang dimiliki oleh para nabi dan rasul.
“Kalau ada manusia yang bisa kita teladani tetapi mustahil kita samai, itulah para nabi. Kita diperintahkan untuk mengikuti mereka, tetapi hati mereka dan hati kita tentu sangat berbeda,” ungkapnya.
Gelar Tertinggi Nabi adalah “Hamba”
Ammi menjelaskan bahwa dalam berbagai peristiwa besar, Allah justru menyebut Nabi Muhammad SAW dengan gelar ‘abd (hamba). Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan tertinggi manusia justru berada pada status penghambaan kepada Allah.
“Ketika Allah menyebut peristiwa Isra Mi’raj, Allah mengatakan Subhanalladzi asra bi‘abdihi. Ketika menyebut turunnya Al-Qur’an, Allah juga mengatakan anzalal furqana ‘ala abdihi. Dalam momen-momen istimewa itu Nabi disebut dengan gelar hamba,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa para ulama bahkan menyimpulkan tidak ada gelar yang lebih tinggi bagi manusia selain menjadi hamba Allah.
Hakikat Ibadah: Tunduk pada Aturan Allah
Dalam penjelasannya, Ammi menerangkan bahwa secara bahasa ibadah berarti ketundukan dan kerendahan diri. Oleh karena itu, inti ibadah adalah ketaatan kepada seluruh perintah dan larangan Allah. Ia menjelaskan bahwa ibadah terbagi menjadi dua bentuk utama: ibadah ritual dan ibadah berupa ketaatan terhadap aturan Allah.
“Ibadah ada dua. Pertama ibadah ritual seperti salat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan zikir. Kedua adalah taat kepada aturan Allah, menghalalkan yang halal dan menjauhi yang haram,” paparnya.
Menurutnya, bentuk ibadah kedua justru sering kali lebih berat dijalankan.
“Kalau ditanya mana yang lebih berat, ibadah ritual atau taat kepada aturan? Jawabannya taat kepada aturan. Terbukti banyak yang gagal,” katanya.
Ibadah Ritual Tidak Cukup Tanpa Akhlak
Ammi juga mengingatkan bahwa ibadah ritual dapat kehilangan nilainya jika seseorang melanggar aturan Allah atau menyakiti orang lain. Ia mencontohkan kisah seorang wanita yang rajin beribadah tetapi menyakiti tetangganya.
“Diceritakan dia rajin tahajud, rajin puasa, tapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Apa kata Nabi? La khaira fiha, innaha finnar. Tidak ada kebaikan pada dirinya, dia di neraka,” ujarnya.
Contoh lain adalah iblis yang dahulu dikenal rajin beribadah, namun seluruh amalnya gugur ketika ia menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam.
“Iblis dulu rajin ibadah sampai dikumpulkan bersama para malaikat. Tapi ketika melanggar satu perintah Allah, semua ibadahnya tidak ada nilainya,” jelasnya.
Menutup kajiannya, Ammi menegaskan bahwa perlombaan seorang muslim bukan sekadar memperbanyak ibadah ritual, tetapi bagaimana ia mampu menjaga ketaatan kepada aturan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
“Perlombaan kita ketika ingin menjadi hamba Allah yang terbaik adalah sejauh mana kita bisa taat kepada aturan Allah. Yang haram kita hindari, yang makruh kita jauhi, dan yang syubhat kita berusaha meninggalkannya,” pesannya.
Ia pun berharap Allah menjadikan kaum muslimin sebagai hamba-hamba yang istiqamah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad serta mampu menjalankan syariat dalam seluruh aspek kehidupan.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat