• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Ammi Nur Baits: Ini Tiga Tingkatan Penghambaan kepada Allah

Ammi Nur Baits: Ini Tiga Tingkatan Penghambaan kepada Allah

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 14 Maret 2026, 08.00
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Kajian Mimbar Subuh Masjid Kampus UGM pada Rabu (11/3) menghadirkan Ammi Nur Baits, S.T., B.A., pembina Yufid TV, dengan tema “Islam dan Kemuliaan: Bagaimana Manusia-Manusia Mulia Menghamba Kepada Tuhannya.” Dalam ceramahnya, ia mengajak jemaah memahami bahwa kemuliaan tertinggi manusia bukan terletak pada status duniawi, melainkan pada kualitas penghambaan kepada Allah.

Dalam pembukaannya, Ammi mengajak jemaah untuk bersyukur atas kesempatan menjalani ibadah Ramadan hingga memasuki sepuluh hari terakhir. Ia berharap seluruh amal yang dilakukan selama bulan suci dapat diterima oleh Allah SWT.

“Layak kita bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang Allah berikan kepada kita untuk bisa melaksanakan rangkaian ibadah sepanjang bulan Ramadan. Kita mohon kepada Allah semoga aneka kegiatan ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.

Tiga Tingkatan Penghambaan

Dalam ceramahnya, Ammi menjelaskan bahwa para ulama membagi penghambaan manusia kepada Allah ke dalam tiga tingkatan.

Pertama adalah ubudiyah al-‘ammah, yaitu penghambaan yang bersifat umum dan mencakup seluruh makhluk. Siapa pun yang diciptakan oleh Allah, baik mukmin maupun kafir, tetap berada dalam ketetapan takdir-Nya.

“Tidak ada satu pun makhluk di langit maupun di bumi kecuali dia akan datang kepada Allah sebagai hamba. Baik yang taat maupun yang bermaksiat, semuanya berstatus sebagai hamba dalam ubudiyah yang umum,” jelasnya.

Tingkatan kedua adalah ubudiyah al-khassah, yaitu penghambaan khusus bagi orang-orang beriman yang taat kepada Allah dan menjaga aturan-Nya. Mereka inilah yang dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai ibadurrahman, hamba-hamba Allah yang memiliki sifat-sifat mulia. Adapun tingkatan tertinggi adalah ubudiyah khawasul khas, yakni penghambaan yang paling istimewa yang dimiliki oleh para nabi dan rasul.

“Kalau ada manusia yang bisa kita teladani tetapi mustahil kita samai, itulah para nabi. Kita diperintahkan untuk mengikuti mereka, tetapi hati mereka dan hati kita tentu sangat berbeda,” ungkapnya.

Baca juga: Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Sentil Fenomena “No Viral, No Justice” dalam Penegakan Hukum Indonesia

Gelar Tertinggi Nabi adalah “Hamba”

Ammi menjelaskan bahwa dalam berbagai peristiwa besar, Allah justru menyebut Nabi Muhammad SAW dengan gelar ‘abd (hamba). Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan tertinggi manusia justru berada pada status penghambaan kepada Allah.

“Ketika Allah menyebut peristiwa Isra Mi’raj, Allah mengatakan Subhanalladzi asra bi‘abdihi. Ketika menyebut turunnya Al-Qur’an, Allah juga mengatakan anzalal furqana ‘ala abdihi. Dalam momen-momen istimewa itu Nabi disebut dengan gelar hamba,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa para ulama bahkan menyimpulkan tidak ada gelar yang lebih tinggi bagi manusia selain menjadi hamba Allah.

Hakikat Ibadah: Tunduk pada Aturan Allah

Dalam penjelasannya, Ammi menerangkan bahwa secara bahasa ibadah berarti ketundukan dan kerendahan diri. Oleh karena itu, inti ibadah adalah ketaatan kepada seluruh perintah dan larangan Allah. Ia menjelaskan bahwa ibadah terbagi menjadi dua bentuk utama: ibadah ritual dan ibadah berupa ketaatan terhadap aturan Allah.

“Ibadah ada dua. Pertama ibadah ritual seperti salat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan zikir. Kedua adalah taat kepada aturan Allah, menghalalkan yang halal dan menjauhi yang haram,” paparnya.

Menurutnya, bentuk ibadah kedua justru sering kali lebih berat dijalankan.

“Kalau ditanya mana yang lebih berat, ibadah ritual atau taat kepada aturan? Jawabannya taat kepada aturan. Terbukti banyak yang gagal,” katanya.

Ibadah Ritual Tidak Cukup Tanpa Akhlak

Ammi juga mengingatkan bahwa ibadah ritual dapat kehilangan nilainya jika seseorang melanggar aturan Allah atau menyakiti orang lain. Ia mencontohkan kisah seorang wanita yang rajin beribadah tetapi menyakiti tetangganya.

“Diceritakan dia rajin tahajud, rajin puasa, tapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Apa kata Nabi? La khaira fiha, innaha finnar. Tidak ada kebaikan pada dirinya, dia di neraka,” ujarnya.

Contoh lain adalah iblis yang dahulu dikenal rajin beribadah, namun seluruh amalnya gugur ketika ia menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam.

“Iblis dulu rajin ibadah sampai dikumpulkan bersama para malaikat. Tapi ketika melanggar satu perintah Allah, semua ibadahnya tidak ada nilainya,” jelasnya.

Menutup kajiannya, Ammi menegaskan bahwa perlombaan seorang muslim bukan sekadar memperbanyak ibadah ritual, tetapi bagaimana ia mampu menjaga ketaatan kepada aturan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

“Perlombaan kita ketika ingin menjadi hamba Allah yang terbaik adalah sejauh mana kita bisa taat kepada aturan Allah. Yang haram kita hindari, yang makruh kita jauhi, dan yang syubhat kita berusaha meninggalkannya,” pesannya.

Ia pun berharap Allah menjadikan kaum muslimin sebagai hamba-hamba yang istiqamah mengikuti tuntunan Nabi Muhammad serta mampu menjalankan syariat dalam seluruh aspek kehidupan.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Tags: ammi nur baits hamba Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Kajian Maskam Jogja Khutbah Jumat Masjid Kampus UGM manusia mulia Masjid Kampus UGM Ramadan rdk ugm

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Pakar Hukum UGM Bedah Klaim Self-Defense Israel dalam Hukum Internasional
  • Guru Besar FEB UGM Soroti Efisiensi Anggaran Pendidikan Rawan Picu Disparitas Antarwilayah
  • Jangan Salah Membaca Perasaan, Maulana Umar Paparkan Empat Filter dalam Memilih Pasangan
  • Direktur Haltech 3D Indonesia Ingatkan Bahaya Degradasi Kognitif di Era AI
  • Pakar Geopolitik UGM Menegaskan Keberpihakan pada Iran sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Kezaliman
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY