Khotbah Jumat di Masjid Kampus UGM menghadirkan Ketua Takmir Masjid Mardliyyah Islamic Center UGM, Dr. Drs. Ir. Senawi, M.P., IPU. sebagai khatib dengan tema “Ramadan: Momentum Meraih Derajat Takwa, Memperdalam Empati Sosial, dan Meningkatkan Kualitas Diri.” Dalam khotbahnya, ia mengajak jemaah menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum pembentukan karakter, penguatan empati sosial, sekaligus peningkatan kualitas diri.
Dalam pembukaan khotbahnya, Senawi mengingatkan pentingnya meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Menurutnya, ketakwaan bukan sekadar konsep spiritual yang abstrak, tetapi fondasi utama dalam membangun manusia yang berintegritas serta masyarakat yang berkeadaban.
Ramadan sebagai Madrasah Takwa
Senawi menjelaskan bahwa tujuan utama ibadah puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183. Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Ia menjelaskan bahwa takwa merupakan kesadaran spiritual yang membuat seseorang merasa selalu diawasi oleh Allah sehingga berhati-hati dalam ucapan, tindakan, dan niatnya. Karena itu, puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai latihan pengendalian diri.
“Puasa melatih manusia untuk jujur kepada Allah bahkan ketika tidak ada orang yang melihatnya. Inilah yang menjadikan puasa sebagai ibadah yang membentuk integritas moral,” ujarnya.
Dalam kehidupan modern, menurutnya, integritas menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban. Tanpa integritas, ilmu pengetahuan, kekuasaan, maupun kekayaan dapat disalahgunakan.
Baca juga: Pengasuh Ponpes Darush Shalihat: Krisis Ekologi Berakar dari Krisis Spiritual Manusia
Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial
Selain membentuk ketakwaan pribadi, Ramadan juga menjadi sarana untuk menumbuhkan empati sosial. Ketika seseorang menahan lapar sepanjang hari, ia diharapkan mampu merasakan kondisi saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan. Senawi menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum untuk memperkuat solidaritas sosial melalui berbagai bentuk kepedulian seperti zakat, infak, dan sedekah. Ia juga menyinggung keteladanan Nabi Muhammad yang dikenal sangat dermawan, terlebih pada bulan Ramadan.
Kesalehan spiritual, menurutnya, harus berjalan seiring dengan kesalehan sosial. Ibadah yang dilakukan seorang muslim tidak boleh berhenti pada hubungan dengan Allah semata, tetapi juga harus menghadirkan manfaat bagi sesama.
“Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang kuat secara ekonomi dan teknologi, tetapi juga bangsa yang memiliki solidaritas sosial yang kuat,” jelasnya.
Ramadan sebagai Momentum Transformasi Diri
Lebih lanjut, Senawi menegaskan bahwa Ramadan juga merupakan momentum untuk melakukan transformasi diri. Puasa melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, menahan emosi, memperbaiki perilaku, serta meningkatkan kedisiplinan.
Ia mengingatkan bahwa tujuan puasa bukan sekadar ritual, melainkan perubahan perilaku menuju pribadi yang lebih baik. Ramadan seharusnya menjadikan seseorang lebih jujur, lebih sabar, lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab. Bagi civitas akademika, nilai-nilai Ramadan menurutnya harus tercermin dalam praktik kejujuran akademik, etika ilmiah, tanggung jawab sosial, serta komitmen terhadap kemajuan bangsa.
Membangun Kesalehan Pribadi dan Sosial
Pada khotbah kedua, Senawi kembali menegaskan pentingnya memaknai Ramadan sebagai momentum membangun kesalehan pribadi sekaligus kesalehan sosial. Ia mengutip hadis Nabi yang menyebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, seorang muslim tidak hanya dituntut rajin beribadah, tetapi juga hadir memberi manfaat bagi masyarakat. Nilai-nilai Ramadan seperti kejujuran, kedisiplinan, pengendalian diri, serta kepedulian sosial dinilai sangat penting dalam membangun masyarakat yang beradab.
Menurutnya, apabila nilai-nilai tersebut benar-benar diamalkan, Ramadan tidak hanya membentuk pribadi yang bertakwa, tetapi juga melahirkan masyarakat yang bermoral dan bangsa yang bermartabat.
“Jika nilai-nilai Ramadan benar-benar dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, maka Ramadan akan melahirkan pribadi yang lebih baik sekaligus masyarakat yang lebih beradab,” pungkasnya.