Ramadan Public Lecture (RPL) yang diselenggarakan panitia Ramadhan di Kampus (RDK) pada Sabtu (21/2) menghadirkan Ir. Adiwarman Azwar Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P., ahli ekonomi syariahdengan membawakan topik “Ekonomi Inklusif dan Mobilitas Sosial dalam Pembangunan Manusia Indonesia”. Dalam pemaparannya, Adiwarman menyajikan materi dengan kuis interaktif dengan sejumlah hadiah menarik.
Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental dan derasnya arus distraksi digital, sebuah pertanyaan mengemuka: benarkah puasa memiliki dampak nyata bagi ketenangan jiwa? Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA) pada Sabtu (21/02) yang berlangsung secara dinamis dengan mengusung tema “Hikmah Puasa untuk Menjaga Kesehatan Mental” dan diselenggarakan di Masjid Kampus UGM. Dosen Fakultas Psikologi UGM, Dr. Ridwan Saptoto, S.Psi., M.A., Psikolog hadir membawakan topik kesehatan mental yang kini tengah menjadi perhatian publik.
Di tengah tantangan degradasi moral dan kompleksitas sosial modern, pendidikan karakter kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai materi tambahan dalam kurikulum formal, melainkan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Guru Besar FMIPA Bidang Kimia, Prof. Dr. Chairil Anwar, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan karakter di Indonesia sangat bergantung pada integrasi antara nilai religius, keteladanan nyata, dan praktik sosial yang konsisten di luar kelas.
Pendidikan tinggi Indonesia kini dituntut tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga menjadi inkubator solusi bagi persoalan nyata di masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Rektor UGM periode 2017–2022, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng, D.Eng, IPU., ASEAN Eng., dalam kajian Safari Ilmu di Bulan Ramadan (Samudra) di Masjid Kampus UGM, Jumat (20/2).
Mengusung tema “Membangun Kemandirian Bangsa melalui Inovasi Pendidikan Tinggi”, kajian sore itu membahas isu yang dekat dengan tantangan Indonesia hari ini. Dalam pemaparannya, Panut membuka kajian dengan optimisme sumber daya yang dimiliki Indonesia. “Indonesia kaya raya. Kita punya emas, mineral, batu bara, flora, dan fauna. Jumlah penduduk kita lebih dari 240 juta jiwa,” tuturnya.
Ramadhan di Kampus (RDK) UGM kembali menyelenggarakan kajian Mimbar Subuh dengan menghadirkan Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. Mengangkat tema “Islam, Hak Asasi Manusia, dan Aktualisasinya dalam Dakwah”, kajian ini mengajak jemaah menelaah kembali posisi Islam dalam diskursus Hak Asasi Manusia (HAM), sekaligus relevansinya dalam praktik dakwah kontemporer.
Di awal pemaparannya, Fathurrahman mengajukan pertanyaan reflektif, “Mengapa sekarang membicarakan hak asasi?” Menurutnya, isu HAM tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari pengalaman historis masyarakat Barat yang mengalami trauma panjang terhadap absolutisme kekuasaan dan penyalahgunaan agama.
Di tengah meningkatnya tren kekerasan berbasis agama, Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, K.H. Mahbub Ma’afi Ramdlan, S.H.I., M.Hum., mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk merobohkan sekat permusuhan dengan sesama manusia. Menjadi pembicara dalam kegiatan Ramadan Public Lecture (RPL) Di Masjid Kampus UGM, Ia menekankan bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk konflik, melainkan ruang bagi kemanusiaan untuk saling menjaga kehormatan.
Isu Palestina kembali menjadi pengingat penting bagi umat Islam tentang posisi hati dan kualitas keimanan. Dalam khotbah Jumat bertajuk “Ketika Palestina Masih Mengetuk: Bagaimanakah Ketetapan Hati Seorang Mukmin?”, Dosen Departemen Hukum Internasional FH UGM, Fajri Matahati Muhammadin, S.H., LL.M., Ph.D. mengajak jemaah merefleksikan persoalan Palestina bukan sekadar isu geopolitik, melainkan batu uji keteguhan hati seorang mukmin.
Di awal khotbahnya, Fajri mengangkat kisah sejarah Perang Surabaya 1945. Ia menyinggung bagaimana media Barat kala itu melabeli para pejuang Indonesia sebagai “muslim fanatics” dan menyebut tokoh perjuangan sebagai “terrorist leader”.
“Sejarah itu sering berulang, meskipun tidak dengan cara yang sama persis,” ujarnya.
Masa depan generasi muda kini tengah dipertaruhkan di balik layar gawai mereka. Menyadari mahasiswa sebagai kelompok yang paling rentan terpapar konten negatif, panitia Ramadhan Di Kampus (RDK) UGM menggelar Safari Ilmu di Bulan Ramadan (Samudra) hari kedua, pada Kamis (19/2) dengan mengangkat isu krusial, yakni pornografi dan adiksi gadget.
Bertajuk “Menyelamatkan Generasi Digital dari Tantangan Pornografi dan Adiksi Gadget”, kajian ini menghadirkan narasumber yang merupakan konselor ketahanan keluarga, sekaligus pendiri Wonderful Family Institute, apt. Cahyadi Takariawan, S.Si.
Ramadan Public Lecture (RPL) kembali diselenggarakan oleh panitia Ramadhan di Kampus (RDK) bersama Takmir Masjid UGM pada 18 Februari 2026 di Masjid Kampus UGM. Prof. Dr. Muhammad Nur, S.Ag., M.Ag., Imam Besar Masjid Kampus UGM hadir sebagai narasumber dengan membawakan topik “Agama dan Negara: Mungkinkah Menjadi Muslim yang Negarawan?” yang mengajak jemaah tarawih untuk merefleksikan kehidupan beragama dan bernegara melalui pemaparannya.
Di awal pemaparannya, Muhammad Nur mengkritisi judul yang dibuat. ”Ini kalau dalam ilmu logika, menggunakan kalimat seperti itu dihindari karena membuat pengertian tidak jelas. Sebetulnya tidak perlu meragukan kemungkinan Islam menciptakan penganut yang negarawan,” ujar pembicara.
Sebelum masuk ke ranah pembahasan politik (agama dan negara), Muhammad Nur mengajak jemaah memaknai filosofi kata “Ramadan” sebagai proses pembersihan diri. Ia menjelaskan bahwa secara etimologi (dari peristiwa bangsa Arab), Ramadan berarti panas membara untuk merontokkan karat besi, sekaligus berarti hujan yang meluruhkan debu.
SAMUDRA (Safari Ilmu di Bulan Ramadan) kembali digelar pada Rabu (18/2) di Masjid Kampus UGM. Kajian yang berlangsung pukul 16.00–17.20 WIB ini menghadirkan Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema “Manusia Indonesia dan Bagaimana Cara Membangunnya? Refleksi Seorang Sosiolog”.