Sebagian umat Islam di era modern dinilai mulai menjauh dari tradisi keilmuan, ditandai dengan kecenderungan mempertentangkan agama dengan rasionalitas. Padahal, Islam sejak awal justru dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Institut Agama Islam Persis (IAIP) Garut, Dr. Tiar Anwar Bachtiar, S.S., M.Hum., dalam kajian Samudra (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) di Masjid Kampus UGM, Rabu (25/02).
Ramadhan Di Kampus (RDK) UGM kembali menghadirkan rangkaian kegiatan literatif melalui Festival Buku yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM pada Kamis (26/2). Kegiatan ini menjadi salah satu agenda unggulan RDK tahun ini dengan menghadirkan sejumlah tokoh literasi nasional, di antaranya J.S. Khairen, Irfan Afifi, dan Habiburrahman El Shirazy yang akrab disapa Kang Abik. Masing-masing narasumber tersebut akan membedah buku di tiga hari yang berbeda.
Acara dibuka secara resmi dan dilanjutkan dengan penampilan Tari Tor-tor khas Sumatra Utara yang menyemarakkan suasana. Tarian tersebut ditampilkan sebagai simbol penyambutan yang hangat dan penuh suka cita.
“Tari Tor-tor ini biasanya digunakan orang Batak untuk menyambut sebuah pesta atau acara. Makanya tadi di dalam tarian itu ada lingkaran di mana orang Batak di situ berkumpul untuk bersama-sama merayakan pesta. Jadi tari Tor-tor ini diibaratkan sebagai sambutan yang meriah dan suka cita,” ujar salah seorang penari saat diwawancarai.
Kajian Ramadan Public Lecture (RPL) (24/2) dibuka dengan bedah karya tulis Profesor Tom Nichols yang berjudul The Death of Experties (Matinya Kepakaran). Dari karya tersebut, tergambarkan kondisi masyarakat Amerika yang mulai tidak menghargai kepakaran serta tidak menghargai otoritas ilmu.
Fenomena ini tampak jelas pada masa Covid-19, ketika otoritas medis seringkali kalah dibandingkan tokoh populer atau figur agama. Hal ini menandakan bahwa, saat ini, popularitas cenderung lebih diakui daripada otoritas ilmu.
Mengutip data Oxford dictionary, Ketua Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIKA, Adian Husaini, M.Si., Ph.D., mengungkapkan bahwa kata yang paling populer adalah post-truth atau era pascakebenaran. Era pascakebenaran adalah era ketika berita yang menyentuh emosi lebih mudah diterima dan dipahami dibandingkan dengan data-data yang terverifikasi.
“Kita memasuki era kebohongan. Era berita yang lebih menyentuh emosial lebih mudah dipahami ketimbang data-data atau fakta yang terverifikasi. Ini adalah masalah yang sulit dipecahkan untuk kita semua,” ungkapnya dalam RPL yang digelar pada Selasa malam (24/02).
Ketua Program Studi Magister Ilmu Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM, Dr. Abdul Gaffar Karim, M.A., menegaskan bahwa esensi politik adalah pengabdian kepada rakyat, bukan sekadar instrumen untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Hal tersebut disampaikan dalam kajian Samudra (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) yang berlangsung di Masjid Kampus UGM pada Selasa (24/2).
Menurutnya, dalam sistem demokrasi, rakyat merupakan pemegang mandat tertinggi yang memberikan legitimasi sekaligus sumber daya kepada politisi. Oleh karena itu, orientasi utama politik harus kembali pada pelayanan publik.
Sebagai bagian dari rangkaian syiar dan pengabdian masyarakat di bulan suci, panitia RDK UGM 1447 H menghadirkan aksi sosial melalui kegiatan Santunan Panti Asuhan (SAPA), yang diselenggarakan pada Ahad (22/2) di Yayasan Bangun Umat Nurani, Gedangrejo, Karangmojo, Gunungkidul. Mengusung tema “Belajar Tanpa Batas, Menuju Generasi Emas”, kegiatan ini menjadi ruang berbagi sekaligus pembelajaran bersama bagi santri panti asuhan.
Perkembangan teknologi informasi yang luar biasa telah mengubah cara manusia menerima, memproses, dan memaknai realitas. Melalui gawai pribadi, segala bentuk informasi baik yang dapat dipercaya maupun yang tidak dapat dipercaya dengan mudah masuk tanpa sekat. Hal tersebut mengemuka dalam kajian Mimbar Subuh, yang disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Dr. Machasin, M.A.
Hukum sejatinya adalah instrumen negara untuk melayani warganya. Namun, realitas yang terjadi di Indonesia justru kerap memperlihatkan wajah hukum yang hanya melayani kepentingan kekuasaan dan abai terhadap suara rakyat.
Peringatan tajam ini disampaikan oleh pakar hukum dan aktivis HAM, Haris Azhar, S.H., M.H., dalam acara Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM pada Senin (23/2). Mengangkat tema “Kondisi Hukum Indonesia: Sebuah Laporan tentang Keadilan“. Haris mengajak jemaah untuk membedah kritis dua pilar utama hukum yang langsung berdampak pada kehidupan warga, yaitu legislasi dan penegakan hukum.
Arus informasi yang melimpah dan pengawasan publik yang sangat ketat di era digital ternyata belum menjamin tegaknya nilai-nilai etika dalam kehidupan bermasyarakat. Fenomena paradoksial justru sering muncul, misalnya saja kritik bebas yang bertebaran di linimasa tidak dibarengi dengan penguatan standar moral. Persoalan krisis moral ini menjadi sorotan utama Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum.
Menurutnya, situasi tersebut tidak hanya menghadirkan berbagai dampak positif, tetapi juga berkontribusi pada lahirnya masyarakat yang semakin abai terhadap nilai-nilai moral. “Kita hidup di zaman paradoks. Kita saksikan begitu banyak informasi, kita saksikan juga kemarahan dengan mudah tersulut. Semakin tinggi pendidikan tidak berbanding dengan empati yang semakin tipis di mana-mana. Masalahnya tidak sekadar kurang pengetahuan, tapi kurang refleksi,” ungkapnya dalam Kajian Samudra pada Senin (23/2).
Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E. menegaskan pentingnya meneladani kepemimpinan para sahabat Nabi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu disampaikannya dalam Ramadan Public Lecture di Masjid Kampus UGM pada Ahad (22/02) dengan tema “Bagaimana Alquran Memandu Kehidupan Bernegara?”.
Dalam ceramahnya, Dahnil mengaitkan hikmah Ramadan, khususnya nilai kesabaran dengan etika politik dan tata kelola negara. Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan spiritual untuk membentuk empati dan ketakwaan.
“Puasa itu jalan untuk mengenyangkan rohani melalui kelaparan fisik. Dari sana lahir empati sosial. Dan empati itulah fondasi keadilan dalam bernegara,” ujarnya.
Kajian Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (Samudra) kembali digelar di Masjid Kampus UGM pada Ahad (22/2). Mengangkat tema “Kesehatan untuk Semua: Mimpi, Tantangan, dan Jalan Panjang Indonesia Sehat”, kajian ini menghadirkan Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., M.P.H., Ph.D., Sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM tersebut menegaskan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat dilepaskan dari dinamika demografi, kualitas sumber daya manusia, serta kesiapan sistem kebijakan nasional.
“Lima tahun dari sekarang, generasi muda akan mencapai seperempat populasi dan usia produktif bisa menyentuh 70 persen penduduk. Ini peluang besar, tetapi juga bisa menjadi beban jika tidak dikelola dengan serius,” ujarnya.