• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Diskusi Paradigma Profetik
  • Yudi Latif Bongkar Miskonsepsi tentang Hubungan Pancasila dan Islam

Yudi Latif Bongkar Miskonsepsi tentang Hubungan Pancasila dan Islam

  • Diskusi Paradigma Profetik
  • 5 Juni 2026, 08.55
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0
Yudi Latief Kupas Miskonsepsi Pancasila dan Islam

Nilai-nilai Islam dan Pancasila sejatinya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya memiliki orientasi yang sama, yakni menghadirkan kehidupan yang adil, bermartabat, dan penuh kemaslahatan bagi masyarakat. Gagasan tersebut disampaikan oleh Yudi Latif, M.A., Ph.D. dalam Webinar Integrasi Ilmu dan Agama (WIIA) yang diselenggarakan Masjid Kampus UGM dengan tema “Aktualisasi Nilai Islam dan Kebangsaan dalam Merumuskan Kebijakan Publik.”

Kegiatan ini merupakan sesi pertama WIIA bulan Juni yang mengangkat Seri Studi Pancasila dalam rangka menyambut hari lahirnya Pancasila. Dalam pemaparannya, Yudi mengajak peserta melihat hubungan erat antara Islam, Pancasila, dan keindonesiaan sebagai fondasi moral dalam membangun kebijakan publik yang berkeadilan.

Mengawali materinya, Yudi menjelaskan bahwa pandangan dunia suatu masyarakat dibentuk oleh jiwa budaya yang berkembang di dalamnya. Dalam konteks Indonesia, jiwa budaya tersebut tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai keagamaan yang telah lama hidup dan mengakar di tengah masyarakat.

“Meskipun Pancasila itu bukan produk keagamaan, tapi sebenarnya nilai-nilai esensialnya sangat dipengaruhi oleh alam pikir dan jiwa keagamaan,” ujar Yudi.

Menurutnya, para pendiri bangsa berhasil merumuskan Pancasila sebagai titik temu berbagai nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Karena itu, Pancasila tidak lahir sebagai ideologi yang menegasikan agama, melainkan menjadi wadah yang mempertemukan nilai-nilai luhur dari berbagai tradisi yang ada di Nusantara.

Dalam menjelaskan sila pertama, Yudi menegaskan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa tidak hanya berbicara mengenai pengakuan terhadap Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia menghadirkan sifat-sifat ketuhanan dalam kehidupan publik.

“Pancasila sebagai moral publik itu menuntut bahwa apa pun tuhan-tuhan kita, hendaknya dalam kehidupan publik kita mengembangkan sifat-sifat ilahi,” tegasnya.

Ia menilai bahwa salah satu persoalan bangsa saat ini adalah kesenjangan antara religiositas simbolik dan perilaku sosial. Menurutnya, banyak orang menunjukkan identitas keagamaan yang kuat, namun belum sepenuhnya menghadirkan nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

“Problem Indonesia ini banyak orang bertuhan, tetapi tidak menunjukkan sifat-sifat keilahian di dalam kehidupan publiknya,” ujarnya.

Baca juga: Ribuan Teman di Media Sosial, Mengapa Kesepian Tetap Menghantui Generasi Muda? Ini Penjelasan Dosen FISIPOL UGM

Lebih lanjut, Yudi menjelaskan bahwa tujuan utama syariat Islam atau maqashid syariah memiliki keselarasan yang kuat dengan nilai-nilai Pancasila. Ia memaparkan bahwa perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta yang menjadi tujuan syariat memiliki padanan yang jelas dalam lima sila Pancasila.

“Selama ini banyak orang Islam seolah-olah memandang Pancasila secara kontradiktif. Padahal sesungguhnya sila-sila Pancasila itu inline dengan lima prinsip maqashid syariah,” jelasnya.

Selain membahas relasi Islam dan Pancasila, Yudi juga menyoroti pentingnya kebijakan publik yang berpijak pada moralitas. Mengutip pemikiran filsuf moral publik Jonathan Haidt, ia menjelaskan bahwa kebijakan publik yang baik harus dibangun di atas prinsip kepedulian, keadilan, penghormatan terhadap hukum, loyalitas terhadap rumah bersama, kebebasan yang bertanggung jawab, dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang dianggap luhur oleh masyarakat. Menurutnya, seluruh prinsip tersebut dapat ditemukan dalam Pancasila.

Dalam konteks kehidupan demokratis, Yudi menekankan pentingnya musyawarah sebagai mekanisme pengambilan keputusan yang berlandaskan kebijaksanaan. Ia menjelaskan bahwa musyawarah bukan sekadar mencari suara terbanyak, melainkan upaya menemukan kebaikan bersama melalui dialog yang terbuka dan saling menghargai.

“Mereka yang bijaksana adalah mereka yang mau mendengar berbagai pandangan lalu mengambil yang terbaik,” ungkapnya saat menjelaskan makna musyawarah dalam kehidupan publik.

Yudi juga mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kemajuan peradaban memerlukan keseimbangan antara tata nilai, tata kelola, dan tata kesejahteraan. Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang kaya secara material, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan sistem sosial yang sehat.

Ia menilai bahwa berbagai persoalan seperti korupsi, ketimpangan sosial, hingga rendahnya etika publik tidak dapat diselesaikan hanya melalui regulasi. Diperlukan pendidikan nilai yang mampu menumbuhkan kesadaran moral sejak dini, sehingga nilai-nilai agama dan kebangsaan benar-benar terinternalisasi dalam perilaku masyarakat.

Menjelang akhir pemaparannya, Yudi menyampaikan optimisme bahwa Indonesia sesungguhnya telah memiliki fondasi yang kuat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Para pendiri bangsa, menurutnya, telah mewariskan seperangkat nilai yang lengkap melalui Pancasila dan konstitusi.

“Kita sebenarnya sudah paket lengkap yang sudah disiapkan oleh para pendiri bangsa. Tinggal bagaimana kita menjalankannya secara konsisten,” katanya.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Post Views: 79
Tags: Maskam UGM Pancasila Yudi Latief

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Mengatasi Overthinking Masa Depan ala Pengasuh PP Darush Shalihin
  • Benarkah Filsafat Merusak Iman? Guru Besar Filsafat UGM Ungkap Fakta Sebaliknya
  • Empat Gagasan Memajukan Masjid di Era AI Dibahas dalam Bedah Buku Masjid Kampus UGM
  • Rahasia Manajemen Waktu Menurut Psikolog UGM: Awali Hari dari Magrib agar Lebih Produktif
  • Dokter Spesialis Anak Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pranikah sebagai Bekal Membangun Keluarga Sehat
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY