• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Tulisan dan Khotbah
  • Bukan Sekadar Gelar, Wakil Rektor UGM Ingatkan Amanah Besar Orang yang Berilmu

Bukan Sekadar Gelar, Wakil Rektor UGM Ingatkan Amanah Besar Orang yang Berilmu

  • Tulisan dan Khotbah
  • 31 Mei 2026, 08.25
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Ilmu bukan sekadar sarana meraih gelar, pekerjaan, atau jabatan. Dalam pandangan Islam, ilmu merupakan cahaya yang menghidupkan hati, menuntun akal, dan mengarahkan manusia menuju kemaslahatan. Pesan inilah yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi, Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., dalam khotbah Jumat di Masjid Kampus UGM, Jumat (29/5).

Mengawali khotbahnya, Arief mengajak jemaah untuk mensyukuri berbagai nikmat Allah Swt., terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan menunaikan salat Jumat. Di antara nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia, menurutnya, adalah nikmat ilmu.

“Dengan ilmu, manusia mampu mengenal Tuhannya, memahami kehidupan, membangun peradaban, serta menghadirkan manfaat bagi sesama,” ujarnya.

Arief mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an yang menegaskan kedudukan ilmu, di antaranya Surah Al-Mujadalah ayat 11 yang menyebutkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu. Selain itu, ilmu juga menjadi landasan agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang benar.

Menurutnya, ilmu dalam Islam tidak boleh berhenti pada aspek duniawi semata. Ilmu harus menjadi jalan ibadah dan pengabdian kepada Allah Swt. Karena itu, Rasulullah saw. menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Arief menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat ilmu yang bersifat fardu ain, yakni ilmu agama yang wajib dipelajari setiap muslim untuk menjalankan ibadah dengan benar. Di samping itu, terdapat ilmu-ilmu fardu kifayah seperti kedokteran, teknik, pertanian, ilmu sosial, dan berbagai disiplin ilmu lainnya yang diperlukan untuk menopang kehidupan masyarakat.

Baca juga: Penasihat Takmir Maskam UGM Soroti Relevansi Keteladanan Ibrahim bagi Dunia Akademik

“Ilmu-ilmu tersebut tetap memiliki tujuan ukhrawi. Meski dipelajari untuk kebutuhan dunia, orientasinya harus tetap mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi umat,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya mengamalkan ilmu. Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ia menegaskan bahwa ilmu yang tidak diamalkan dapat menjadi hujah yang memberatkan seseorang di akhirat. Ilmu bukanlah milik manusia, melainkan titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Menyoroti peran perguruan tinggi, ia menyampaikan bahwa kampus sejatinya tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan ilmu yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Kampus memiliki amanah besar untuk membentuk generasi berakhlak, menghasilkan inovasi yang bermanfaat, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang semakin pesat, tantangan dunia pendidikan juga semakin besar. Arief mengingatkan pentingnya integritas akademik serta kemampuan membedakan informasi yang benar dan menyesatkan. Menurutnya, ilmu harus disertai hati nurani agar tidak digunakan sekadar untuk mengejar popularitas atau kepentingan pribadi.

Ia mencontohkan bahwa perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk membantu petani meningkatkan hasil panen, memperluas akses kesehatan, mengembangkan teknologi ramah lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, dan mengatasi berbagai persoalan masyarakat lainnya.

“Ilmu yang menghidupkan adalah ilmu yang menghadirkan solusi, bukan kerusakan. Ilmu yang membawa manfaat, bukan sekadar kebanggaan pribadi,” tegasnya.

Menutup khotbah, Arief mengajak jemaah menjadikan ilmu sebagai jalan ibadah dan pengabdian. Bangsa Indonesia, menurutnya, membutuhkan insan-insan berilmu yang jujur, amanah, serta memiliki kepedulian terhadap umat. Ia berharap kampus, sekolah, dan pesantren dapat terus menjadi pusat lahirnya ilmu yang membawa keberkahan bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Semoga ilmu yang kita miliki menjadi jalan menuju ridha Allah serta memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat,” pungkasnya.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

 

Post Views: 49
Tags: Kajian Jogja khotbah Masjid Kampus UGM wakil rektor ugm

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Mengatasi Overthinking Masa Depan ala Pengasuh PP Darush Shalihin
  • Benarkah Filsafat Merusak Iman? Guru Besar Filsafat UGM Ungkap Fakta Sebaliknya
  • Empat Gagasan Memajukan Masjid di Era AI Dibahas dalam Bedah Buku Masjid Kampus UGM
  • Rahasia Manajemen Waktu Menurut Psikolog UGM: Awali Hari dari Magrib agar Lebih Produktif
  • Dokter Spesialis Anak Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pranikah sebagai Bekal Membangun Keluarga Sehat
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY