Ilmu bukan sekadar sarana meraih gelar, pekerjaan, atau jabatan. Dalam pandangan Islam, ilmu merupakan cahaya yang menghidupkan hati, menuntun akal, dan mengarahkan manusia menuju kemaslahatan. Pesan inilah yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi, Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., dalam khotbah Jumat di Masjid Kampus UGM, Jumat (29/5).
Mengawali khotbahnya, Arief mengajak jemaah untuk mensyukuri berbagai nikmat Allah Swt., terutama nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan menunaikan salat Jumat. Di antara nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia, menurutnya, adalah nikmat ilmu.
“Dengan ilmu, manusia mampu mengenal Tuhannya, memahami kehidupan, membangun peradaban, serta menghadirkan manfaat bagi sesama,” ujarnya.
Arief mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an yang menegaskan kedudukan ilmu, di antaranya Surah Al-Mujadalah ayat 11 yang menyebutkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu. Selain itu, ilmu juga menjadi landasan agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang benar.
Menurutnya, ilmu dalam Islam tidak boleh berhenti pada aspek duniawi semata. Ilmu harus menjadi jalan ibadah dan pengabdian kepada Allah Swt. Karena itu, Rasulullah saw. menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Arief menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat ilmu yang bersifat fardu ain, yakni ilmu agama yang wajib dipelajari setiap muslim untuk menjalankan ibadah dengan benar. Di samping itu, terdapat ilmu-ilmu fardu kifayah seperti kedokteran, teknik, pertanian, ilmu sosial, dan berbagai disiplin ilmu lainnya yang diperlukan untuk menopang kehidupan masyarakat.
Baca juga: Penasihat Takmir Maskam UGM Soroti Relevansi Keteladanan Ibrahim bagi Dunia Akademik
“Ilmu-ilmu tersebut tetap memiliki tujuan ukhrawi. Meski dipelajari untuk kebutuhan dunia, orientasinya harus tetap mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi umat,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya mengamalkan ilmu. Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ia menegaskan bahwa ilmu yang tidak diamalkan dapat menjadi hujah yang memberatkan seseorang di akhirat. Ilmu bukanlah milik manusia, melainkan titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Menyoroti peran perguruan tinggi, ia menyampaikan bahwa kampus sejatinya tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan ilmu yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Kampus memiliki amanah besar untuk membentuk generasi berakhlak, menghasilkan inovasi yang bermanfaat, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan yang semakin pesat, tantangan dunia pendidikan juga semakin besar. Arief mengingatkan pentingnya integritas akademik serta kemampuan membedakan informasi yang benar dan menyesatkan. Menurutnya, ilmu harus disertai hati nurani agar tidak digunakan sekadar untuk mengejar popularitas atau kepentingan pribadi.
Ia mencontohkan bahwa perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk membantu petani meningkatkan hasil panen, memperluas akses kesehatan, mengembangkan teknologi ramah lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, dan mengatasi berbagai persoalan masyarakat lainnya.
“Ilmu yang menghidupkan adalah ilmu yang menghadirkan solusi, bukan kerusakan. Ilmu yang membawa manfaat, bukan sekadar kebanggaan pribadi,” tegasnya.
Menutup khotbah, Arief mengajak jemaah menjadikan ilmu sebagai jalan ibadah dan pengabdian. Bangsa Indonesia, menurutnya, membutuhkan insan-insan berilmu yang jujur, amanah, serta memiliki kepedulian terhadap umat. Ia berharap kampus, sekolah, dan pesantren dapat terus menjadi pusat lahirnya ilmu yang membawa keberkahan bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Semoga ilmu yang kita miliki menjadi jalan menuju ridha Allah serta memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat,” pungkasnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat