Di tengah kemajuan teknologi yang memungkinkan manusia terhubung kapan saja dan di mana saja, fenomena kesepian justru semakin banyak dialami generasi muda. Kondisi ini menjadi perhatian dalam kajian Sakinah Akademy bertajuk “Lonely Generation: Analisis Sosial-Politik atas Fenomena Kesepian Pemuda dan Krisis Komitmen” yang menghadirkan dosen Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM, Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, S.IP., M.A. sebagai narasumber.
Alfath membuka kajian dengan menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan dalam diskusi kali ini berbeda dari pembahasan kesepian yang umumnya ditinjau dari perspektif psikologi. Menurutnya, kesepian perlu dipahami sebagai fenomena sosial-politik yang lahir dari interaksi antara individu dengan sistem sosial, struktur kekuasaan, serta kebijakan publik yang mengatur kehidupan masyarakat.
“Kesepian tidak lahir begitu saja,” jelasnya. “Ia merupakan hasil dari bagaimana manusia diperlakukan oleh sistem sosial dan politik tempat ia hidup.”
Dalam paparannya, Alfath mengutip berbagai temuan yang menunjukkan bahwa kesepian telah menjadi isu kesehatan global. Namun, dari sudut pandang sosial-politik, akar persoalannya tidak hanya terletak pada hilangnya hubungan yang bermakna, melainkan juga pada kebijakan dan struktur sosial yang semakin mendorong individualisme serta melemahkan ikatan sosial masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa tekanan ekonomi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya rasa kesepian di kalangan pemuda. Ketimpangan sosial yang semakin lebar, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, serta ketidakpastian masa depan membuat banyak anak muda lebih fokus pada upaya bertahan hidup dibandingkan membangun relasi sosial yang sehat. Kondisi tersebut pada akhirnya melahirkan budaya “nafsi-nafsi”, di mana kepedulian terhadap lingkungan sekitar semakin berkurang.
Baca juga: Bukan Sekadar Gelar, Wakil Rektor UGM Ingatkan Amanah Besar Orang yang Berilmu
Menurut Alfath, tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda saat ini bukan hanya memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan cita-cita, tetapi bahkan mendapatkan pekerjaan itu sendiri. Ketidakpastian ekonomi yang berkepanjangan menciptakan kecemasan sosial yang berkontribusi pada meningkatnya rasa keterasingan dan kesepian.
Selain faktor ekonomi, perkembangan teknologi digital juga menjadi perhatian penting dalam kajian tersebut. Alfath menyoroti fenomena paradoks konektivitas, yakni kondisi ketika seseorang terhubung secara intens melalui dunia maya tetapi gagal membangun hubungan yang bermakna dalam kehidupan nyata. Akibatnya, komunikasi yang berlangsung melalui media sosial sering kali tidak mampu menggantikan kebutuhan manusia akan interaksi langsung dan kedekatan emosional.
Ia mengingatkan bahwa media sosial tidak secara otomatis menghilangkan kesepian. Sebaliknya, penggunaan yang berlebihan justru dapat mengurangi kesempatan seseorang untuk membangun hubungan yang lebih mendalam dengan keluarga, tetangga, maupun komunitas di sekitarnya. Fenomena akun anonim (alter account) yang marak di kalangan anak muda juga disebut sebagai salah satu gejala menurunnya keberanian untuk mengekspresikan diri secara terbuka di ruang publik.
Dalam konteks perkotaan, Alfath menilai bahwa kesepian turut dipengaruhi oleh perubahan tata ruang yang mengurangi kesempatan masyarakat untuk berinteraksi. Menjamurnya apartemen, kos eksklusif, dan ruang-ruang privat membuat warga semakin terisolasi satu sama lain. Di sisi lain, ruang terbuka hijau dan ruang komunal yang memungkinkan terjadinya interaksi sosial masih sangat terbatas.
Menurutnya, ruang publik yang sehat tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai sarana membangun solidaritas sosial. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat perlu menghadirkan lebih banyak ruang yang memungkinkan warga bertemu, berdialog, dan membangun hubungan yang bermakna.
Kajian ini juga menyoroti fenomena kesepian yang dialami laki-laki. Berdasarkan riset yang pernah dilakukan Alfath, laki-laki memiliki kerentanan tersendiri karena norma maskulinitas yang mengharuskan mereka tampak kuat dan tidak menunjukkan kelemahan. Akibatnya, banyak laki-laki tidak memiliki ruang yang aman untuk bercerita dan mengekspresikan emosinya.
Di penghujung kajian, Alfath menegaskan bahwa kesepian tidak boleh dipandang hanya sebagai masalah pribadi. Ia merupakan persoalan publik yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, teknologi, urbanisasi, kebijakan publik, hingga budaya sosial yang berkembang dalam masyarakat. Karena itu, solusi yang ditawarkan pun tidak cukup berupa pendekatan individual, melainkan memerlukan upaya kolektif untuk membangun ruang-ruang interaksi yang sehat dan memperkuat solidaritas sosial.
Ia juga menekankan pentingnya peran masjid sebagai ruang sosial yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat interaksi, pembelajaran, dan penguatan komunitas yang dapat membantu mengurangi rasa kesepian di tengah masyarakat modern.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat