Kajian Mimbar Subuh di Masjid Kampus UGM pada Kamis (12/3) kembali menghadirkan refleksi intelektual dan spiritual bagi para jemaah. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Senat Akademik Fakultas Filsafat UGM, Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D of Arts. menyampaikan materi bertajuk “Logika, Mistika, dan Metafisika dalam Perspektif Ilmu Filsafat”, yang mengajak jemaah memahami bagaimana Islam memadukan rasionalitas, pengalaman indrawi, dan kedalaman spiritual dalam mencari kebenaran.
Dalam pembukaannya, Esar menegaskan bahwa istilah logika, mistika, dan metafisika sering terdengar sangat filosofis. Namun, ketiga konsep tersebut sebenarnya memiliki hubungan erat dengan kehidupan keagamaan seorang Muslim. Menurutnya, logika mistika dapat dipahami sebagai cara berpikir orang beragama yang tidak hanya mengandalkan rasio, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman spiritual dalam mendekatkan diri kepada Allah.
“Logika mistika adalah cara berpikir orang beragama dengan menggunakan rasionalitasnya sekaligus menghubungkannya dengan pengalaman spiritual,” jelas Esar.
Keterbatasan Indra dan Akal
Esar menjelaskan bahwa dalam tradisi filsafat Islam, pengetahuan tidak hanya bersumber dari indra dan akal. Kedua instrumen tersebut memiliki keterbatasan dalam menjangkau kebenaran yang bersifat mutlak. Ia mencontohkan pandangan Imam Al-Ghazali yang menegaskan bahwa pengetahuan indrawi hanya mampu menjangkau realitas yang terbatas. Sementara kebenaran yang bersifat abstrak dan gaib memerlukan pendekatan yang lebih dalam, yaitu melalui penyucian hati dan pengalaman batin.
Menurut Al-Ghazali, manusia memerlukan pencerahan spiritual agar mampu menerima cahaya kebenaran yang hakiki.
Selain Al-Ghazali, Esar juga menyinggung pemikiran Ibnu Arabi yang memperkenalkan konsep tajalli, yakni gagasan bahwa alam semesta merupakan manifestasi tanda-tanda keberadaan Allah. Melalui alam semesta, manusia dapat memahami eksistensi Sang Pencipta. Segala sesuatu yang ada di dunia menunjukkan adanya sebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun.
“Alam semesta adalah ayat-ayat kauniyah yang terbentang di hadapan kita, yang menunjukkan bahwa Allah benar-benar ada,” ungkapnya.
Baca juga: Rektor Alma Ata: MBG Tetap Penting, tetapi Harus Lebih Terarah dan Tepat Sasaran
Gradasi Keberadaan Menurut Mulla Sadra
Esar juga menjelaskan pemikiran filsuf Islam lainnya, yaitu Mulla Sadra, yang memperkenalkan konsep gradasi keberadaan. Dalam pandangan ini, seluruh realitas memiliki tingkat keberadaan yang berbeda-beda. Ia mengibaratkan keberadaan tersebut seperti cahaya. Cahaya itu satu, tetapi memiliki intensitas yang berbeda seperti cahaya lilin, lampu, hingga matahari. Demikian pula dengan realitas keberadaan yang pada akhirnya bersumber dari satu wujud absolut, yaitu Allah.
Dari pemahaman metafisika dalam Islam tersebut, Esar menekankan bahwa kesadaran akan keberadaan Allah seharusnya melahirkan sikap rendah hati dalam kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan, jabatan, dan berbagai pencapaian duniawi pada hakikatnya hanyalah titipan dari Allah. Oleh karena itu, semua aktivitas manusia baik belajar, bekerja, maupun beribadah harus dilandasi niat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
“Mahasiswa mengikuti perkuliahan, dosen menjalankan tugasnya, semuanya diniatkan sebagai ibadah kepada Allah,” tuturnya.
Dalam momentum Ramadan, Esarmengingatkan bahwa ibadah puasa tidak boleh dipahami hanya sebagai peristiwa biologis berupa menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa adalah proses spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan pemahaman tersebut, ibadah puasa diharapkan mampu membentuk manusia yang bertakwa, sebagaimana tujuan yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Menyeimbangkan Ilmu dan Spiritualitas
Di akhir kajian, Esar mengingatkan kalangan akademisi agar tidak terjebak pada pandangan positivistik yang hanya mengakui kebenaran berdasarkan hal-hal yang dapat diukur dan diamati secara empiris. Menurutnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara indra, akal, dan batin dalam mencari kebenaran. Melalui perpaduan ketiganya, manusia dapat memahami realitas secara lebih utuh sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.
Ia berharap pendekatan logika mistika dapat menjadi kerangka berpikir bagi umat Islam, khususnya kalangan akademisi, agar ilmu pengetahuan tetap selaras dengan nilai-nilai tauhid dan spiritualitas.
“Dengan menggabungkan indra, rasio, dan penyucian hati, kita dapat lebih dekat kepada kebenaran yang berasal dari Allah,” pungkasnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat