• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Ketua Senat Fakultas Filsafat UGM: Akal Saja Tak Cukup untuk Menemukan Kebenaran

Ketua Senat Fakultas Filsafat UGM: Akal Saja Tak Cukup untuk Menemukan Kebenaran

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 15 Maret 2026, 09.00
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Kajian Mimbar Subuh di Masjid Kampus UGM pada Kamis (12/3) kembali menghadirkan refleksi intelektual dan spiritual bagi para jemaah. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Senat Akademik Fakultas Filsafat UGM, Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D of Arts. menyampaikan materi bertajuk “Logika, Mistika, dan Metafisika dalam Perspektif Ilmu Filsafat”, yang mengajak jemaah memahami bagaimana Islam memadukan rasionalitas, pengalaman indrawi, dan kedalaman spiritual dalam mencari kebenaran.

Dalam pembukaannya, Esar menegaskan bahwa istilah logika, mistika, dan metafisika sering terdengar sangat filosofis. Namun, ketiga konsep tersebut sebenarnya memiliki hubungan erat dengan kehidupan keagamaan seorang Muslim. Menurutnya, logika mistika dapat dipahami sebagai cara berpikir orang beragama yang tidak hanya mengandalkan rasio, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman spiritual dalam mendekatkan diri kepada Allah.

“Logika mistika adalah cara berpikir orang beragama dengan menggunakan rasionalitasnya sekaligus menghubungkannya dengan pengalaman spiritual,” jelas Esar.

Keterbatasan Indra dan Akal

Esar menjelaskan bahwa dalam tradisi filsafat Islam, pengetahuan tidak hanya bersumber dari indra dan akal. Kedua instrumen tersebut memiliki keterbatasan dalam menjangkau kebenaran yang bersifat mutlak. Ia mencontohkan pandangan Imam Al-Ghazali yang menegaskan bahwa pengetahuan indrawi hanya mampu menjangkau realitas yang terbatas. Sementara kebenaran yang bersifat abstrak dan gaib memerlukan pendekatan yang lebih dalam, yaitu melalui penyucian hati dan pengalaman batin.

Menurut Al-Ghazali, manusia memerlukan pencerahan spiritual agar mampu menerima cahaya kebenaran yang hakiki.

Selain Al-Ghazali, Esar juga menyinggung pemikiran Ibnu Arabi yang memperkenalkan konsep tajalli, yakni gagasan bahwa alam semesta merupakan manifestasi tanda-tanda keberadaan Allah. Melalui alam semesta, manusia dapat memahami eksistensi Sang Pencipta. Segala sesuatu yang ada di dunia menunjukkan adanya sebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun.

“Alam semesta adalah ayat-ayat kauniyah yang terbentang di hadapan kita, yang menunjukkan bahwa Allah benar-benar ada,” ungkapnya.

Baca juga: Rektor Alma Ata: MBG Tetap Penting, tetapi Harus Lebih Terarah dan Tepat Sasaran

Gradasi Keberadaan Menurut Mulla Sadra

Esar juga menjelaskan pemikiran filsuf Islam lainnya, yaitu Mulla Sadra, yang memperkenalkan konsep gradasi keberadaan. Dalam pandangan ini, seluruh realitas memiliki tingkat keberadaan yang berbeda-beda. Ia mengibaratkan keberadaan tersebut seperti cahaya. Cahaya itu satu, tetapi memiliki intensitas yang berbeda seperti cahaya lilin, lampu, hingga matahari. Demikian pula dengan realitas keberadaan yang pada akhirnya bersumber dari satu wujud absolut, yaitu Allah.

Dari pemahaman metafisika dalam Islam tersebut, Esar menekankan bahwa kesadaran akan keberadaan Allah seharusnya melahirkan sikap rendah hati dalam kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan, jabatan, dan berbagai pencapaian duniawi pada hakikatnya hanyalah titipan dari Allah. Oleh karena itu, semua aktivitas manusia baik belajar, bekerja, maupun beribadah harus dilandasi niat untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

“Mahasiswa mengikuti perkuliahan, dosen menjalankan tugasnya, semuanya diniatkan sebagai ibadah kepada Allah,” tuturnya.

Dalam momentum Ramadan, Esarmengingatkan bahwa ibadah puasa tidak boleh dipahami hanya sebagai peristiwa biologis berupa menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa adalah proses spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan pemahaman tersebut, ibadah puasa diharapkan mampu membentuk manusia yang bertakwa, sebagaimana tujuan yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Menyeimbangkan Ilmu dan Spiritualitas

Di akhir kajian, Esar mengingatkan kalangan akademisi agar tidak terjebak pada pandangan positivistik yang hanya mengakui kebenaran berdasarkan hal-hal yang dapat diukur dan diamati secara empiris. Menurutnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara indra, akal, dan batin dalam mencari kebenaran. Melalui perpaduan ketiganya, manusia dapat memahami realitas secara lebih utuh sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.

Ia berharap pendekatan logika mistika dapat menjadi kerangka berpikir bagi umat Islam, khususnya kalangan akademisi, agar ilmu pengetahuan tetap selaras dengan nilai-nilai tauhid dan spiritualitas.

“Dengan menggabungkan indra, rasio, dan penyucian hati, kita dapat lebih dekat kepada kebenaran yang berasal dari Allah,” pungkasnya.

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Post Views: 48
Tags: filsafat Islam dan tasawuf gradasi keberadaan Mulla Sadra Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja kajian mimbar subuh UGM Kajian Ramadan konsep tajalli Ibnu Arabi logika mistika Islam Masjid Kampus UGM Masjid Kampus UGM kajian subuh Maskam UGM metafisika dalam Islam pemikiran Al-Ghazali tentang pengetahuan Ramadan rdk ugm spiritualitas Ramadan UGM Syamsuddin Arif UGM

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Menilik Sejarah Tahun Baru Islam, Guru Besar Hukum UGM Ajak Jamaah Refleksikan Jejak Hijrah Indonesia
  • Self-Compassion bagi Mahasiswa: Pesan Aisha Sekar Lazuardini, Psikolog UGM, untuk Berdamai dengan Target dan Ekspektasi
  • Jangan Jadi “Hamba Musiman”: Pesan Mendalam Ustaz Elan Kurniawan tentang Konsistensi Ibadah
  • Guru Besar Fisipol UGM Bahas Nasionalisme Indonesia di Era Digital dalam Menghadapi Narasi Kebencian
  • Dosen FISIPOL UGM Soroti Fenomena Umat Islam yang ‘Buta Politik’
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY