Pancasila, ilmu pengetahuan, dan agama memiliki keterkaitan penting dalam membangun kultur akademik di perguruan tinggi. Nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga dapat menjadi pedoman etik dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya akademik. Hal ini dibahas dalam Webinar Serial Integrasi Ilmu-Agama (WIIA) Masjid Kampus UGM dengan tema “Reaktualisasi Pancasila dalam Pengembangan Kultur Keilmuan di Ruang Akademik”, Rabu (10/6).
Diskusi Paradigma Profetik
Nilai-nilai Islam dan Pancasila sejatinya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya memiliki orientasi yang sama, yakni menghadirkan kehidupan yang adil, bermartabat, dan penuh kemaslahatan bagi masyarakat. Gagasan tersebut disampaikan oleh Yudi Latif, M.A., Ph.D. dalam Webinar Integrasi Ilmu dan Agama (WIIA) yang diselenggarakan Masjid Kampus UGM dengan tema “Aktualisasi Nilai Islam dan Kebangsaan dalam Merumuskan Kebijakan Publik.”
Perubahan sistem kerja di era digital dinilai menghadirkan bentuk baru eksploitasi terhadap pekerja. Tidak hanya buruh pabrik, pekerja informal, pekerja kreatif, hingga pekerja platform digital kini disebut menghadapi tekanan kerja tanpa batas waktu yang semakin kompleks. Dalam situasi tersebut, Islam dinilai memiliki relevansi kuat sebagai ajaran yang berpihak pada pembebasan manusia dari penindasan.
Dalam webinar bertajuk “Islam dan Strategi Pemerintah dalam Meningkatkan Produktivitas Masyarakat” yang diselenggarakan pada Rabu (13/5/2026), Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P. memaparkan pentingnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pilar utama kemajuan bangsa. Mengacu pada ajaran Islam, beliau menekankan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban agama yang luhur, sebagaimana termaktub dalam wahyu pertama (QS. Al-‘Alaq: 1-5) dan janji Allah untuk mengangkat derajat orang-orang berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11). Di tengah persaingan global yang semakin ketat, peningkatan kualitas SDM bukan sekadar urusan teknis pembangunan, melainkan bentuk ketaatan dalam menjalankan amanah agama untuk mencetak umat yang produktif dan berdaya saing.
Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, profesionalitas, dan daya saing global. Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng. dalam kegiatan Webinar Serial Integrasi Ilmu–Agama: Seri Kajian Buruh yang diselenggarakan oleh Masjid Kampus UGM pada Rabu (6/5). Dalam pemaparannya, Rektor UGM periode 2017-2022 tersebut menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus tetap berlandaskan nilai-nilai akhlak dan kebangsaan.
Pemerataan layanan kesehatan masih menjadi tantangan besar di Indonesia, khususnya bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di tengah berbagai persoalan akses dan pemahaman masyarakat mengenai sistem jaminan kesehatan nasional, konsep gotong royong dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif bagi seluruh warga negara.
Masjid Kampus UGM kembali menyelenggarakan Webinar Integrasi Ilmu dan Agama dengan tema besar “Studi Pembangunan Nasional” pada Rabu (22/4). Pada kesempatan ini, diskusi mengangkat topik strategis bertajuk “Hilirisasi Industri sebagai Agenda Prioritas Nasional: Strategi Pembangunan dalam Kerangka Islam”, yang disampaikan oleh Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Industri, Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.
Kebijakan efisiensi anggaran pendidikan berpotensi menekan kualitas pembangunan sumber daya manusia (SDM) jika tidak dilakukan secara hati-hati. Guru Besar Bidang Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Prof. Dr. R. Agus Sartono, M.B.A. mengingatkan bahwa pendidikan merupakan sektor strategis yang tidak boleh menjadi korban penghematan fiskal. Hal itu ia tegaskan pada Webinar Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi Pembangunan Nasional dengan tema “Implikasi Efisiensi Anggaran Pendidikan terhadap Pembangunan Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Islam” pada Rabu (15/4).
Masjid Kampus UGM kembali menggelar Webinar Integrasi Ilmu-Agama (WIIA) pada Rabu (8/4) yang disiarkan melalui kanal YouTube Masjid Kampus UGM. Dalam Seri Studi Pembangunan Nasional kali ini, tema yang diangkat adalah “Islam dan Ketahanan Pangan: Menimbang Program Makan Bergizi Gratis sebagai Pilihan Kebijakan Prioritas”, dengan menghadirkan Prof. Dr. Ir. Sri Raharjo, M.Sc., Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM sebagai narasumber.
Masalah sampah di Indonesia dinilai semakin mendesak untuk ditangani secara serius. Banyak tempat pembuangan akhir (TPA) dilaporkan sudah tidak mampu menampung kiriman sampah harian, sehingga menimbulkan bau menyengat dan mencemari lingkungan sekitar. Di sisi lain, masyarakat juga menghadapi kenaikan biaya listrik seiring krisis energi global yang belum mereda.