Dalam webinar bertajuk “Islam dan Strategi Pemerintah dalam Meningkatkan Produktivitas Masyarakat” yang diselenggarakan pada Rabu (13/5/2026), Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P. memaparkan pentingnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pilar utama kemajuan bangsa. Mengacu pada ajaran Islam, beliau menekankan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban agama yang luhur, sebagaimana termaktub dalam wahyu pertama (QS. Al-‘Alaq: 1-5) dan janji Allah untuk mengangkat derajat orang-orang berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11). Di tengah persaingan global yang semakin ketat, peningkatan kualitas SDM bukan sekadar urusan teknis pembangunan, melainkan bentuk ketaatan dalam menjalankan amanah agama untuk mencetak umat yang produktif dan berdaya saing.
Indonesia saat ini berada dalam periode krusial bonus demografi yang puncaknya diperkirakan terjadi hingga tahun 2030. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang mencapai lebih dari 60%, Indonesia memiliki peluang emas untuk melompat menjadi negara maju jika SDM-nya dikelola dengan tepat. Prof. Wahyudi mencontohkan bagaimana inovasi teknologi dapat memberikan nilai tambah yang luar biasa pada komoditas lokal, seperti kakao, yang jika diolah dengan keahlian yang tepat, harganya bisa melonjak berkali-kali lipat dibandingkan hanya menjual bahan mentah. Namun, tantangan besar membayangi di depan mata dengan hadirnya era Education 4.0 dan otomatisasi, di mana diperkirakan 23 juta pekerjaan di Indonesia akan digantikan oleh mesin pada tahun 2030, meskipun di saat yang sama akan tercipta hingga 46 juta peluang kerja baru bagi mereka yang memiliki keterampilan digital dan teknologi.
Baca juga: Sembelih Terlalu Cepat, Kurban Bisa Tidak Sah? Ini Penjelasan Pakar UGM
Namun, visi besar peningkatan produktivitas ini menghadapi kendala serius di sektor pembiayaan negara. Berdasarkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025, pemerintah melakukan efisiensi belanja negara dengan total potongan anggaran mencapai Rp 306,7 triliun. Dampaknya sangat terasa di sektor pendidikan, di mana anggaran pendidikan dikhawatirkan tidak lagi mencapai 20% dari APBN. Fakta-fakta di lapangan menunjukkan situasi yang memprihatinkan, seperti banyaknya sekolah di pelosok yang rusak berat, gaji guru honorer yang masih sangat rendah, hingga pemotongan dana literasi yang dialihkan untuk program lain. Pengurangan anggaran di lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian ini menjadi ironi di tengah ambisi pemerintah untuk mencetak generasi unggul yang kompetitif di tingkat Asia maupun global.
Sebagai kesimpulan, produktivitas masyarakat Indonesia hanya dapat ditingkatkan jika ada konsistensi antara nilai-nilai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dengan kebijakan anggaran yang berpihak pada pendidikan. Investasi pada manusia adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh dikorbankan demi efisiensi jangka pendek. Untuk memanfaatkan bonus demografi secara maksimal, pemerintah perlu menyeimbangkan kembali prioritas belanja negara agar sektor pendidikan dan riset tetap mendapatkan dukungan yang memadai. Dengan SDM yang berilmu dan bertakwa, Indonesia tidak hanya akan mampu menghadapi disrupsi teknologi, tetapi juga dapat mewujudkan kemandirian ekonomi yang membawa kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat secara berkelanjutan.
Penulis: Thareeq Arkan Falakh
Editor: Indra Oktafian Hidayat