Webinar Integrasi Ilmu dan Agama pada Rabu sore menghadirkan Ketua Program Magister Manajemen Bencana UGM, Prof. Dr. Dina Ruslanjari, M.Si., sebagai narasumber. Kegiatan ini berlangsung melalui platform Zoom dan disiarkan langsung di kanal YouTube Masjid Kampus UGM.
Sakinah Akademy kembali menggelar kajian hukum keluarga dengan menghadirkan Fatma Amalia, S.Ag., M.Si., Dosen Hukum Keluarga Islam dari UIN Sunan Kalijaga dengan tema Konflik Kepemilikan Properti Akibat Perkawinan Tanpa Akta: Dampak Sosisal dan Keterbatasan Perlindungan Hukum
Pada Jumat, 19 September 2025, Masjid Kampus UGM kembali menjadi ruang perjumpaan gagasan melalui diskusi profetik. Forum ini menghadirkan sejumlah dosen lintas fakultas yang memiliki perhatian pada paradigma profetik, dengan merujuk pada pemikiran Prof. Kuntowijoyo.
Yogyakarta, 19 September 2025 – Masjid Kampus UGM resmi menandatangani kerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam bidang dakwah dan penguatan ekosistem ekonomi syariah di lingkungan kampus.
Penandatanganan kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mengembangkan program dakwah yang lebih inovatif dan inklusif. Melalui sinergi ini, Masjid Kampus UGM bersama BSI berkomitmen menghadirkan berbagai program kolaboratif, mulai dari pemberdayaan umat hingga pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung aktivitas dakwah.
Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si hadir sebagai narasumber pada Kajian Kamis Sore di Masjid Kampus UGM (21/8). Ia membedah fenomena “kabur aja dulu” yang ramai di awal 2025. Menurutnya, ungkapan itu muncul sebagai ekspresi kekecewaan generasi muda terhadap sulitnya mencari pekerjaan, mahalnya biaya hidup, dan ketidakpastian ekonomi.
“Banyak yang akhirnya berpikir peluang di luar negeri lebih menjanjikan. Ini bukan sekadar lemah mental, tapi juga bentuk strategi bertahan hidup,” ujarnya.
Webinar Integrasi Ilmu dan Agama yang dilaksanakan pada Rabu (20/8), menghadirkan Dr. Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D., Dosen FISIPOL UGM dan Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Welfarism. Dalam kesempatan itu, Hakim mengulas tema “Diplomasi Profetik: Membangun Perdamaian Melalui Nilai-Nilai Kenabian”.
Sejak awal, Hakim menegaskan bahwa diplomasi tidak hanya urusan antarnegara. Ia menceritakan hasil riset bersama koleganya di Yogyakarta pada 2015–2017, ketika kota ini menempati peringkat kedua kota paling intoleran di Indonesia. Dari situ lahir istilah “diplomasi terkunci”, yaitu kondisi ketika pihak-pihak yang berbeda identitas tidak lagi bisa berdialog, bahkan sekadar menyapa.
Menurutnya, problem utama terletak pada prasangka dan keterbatasan pengetahuan. Ia mengutip pepatah Arab “an-nāsu a‘dā’ mā jahilū”. Manusia cenderung memusuhi apa yang tidak diketahuinya. Di era digital, situasi makin pelik karena algoritma media sosial membuat orang “tahu banyak tentang sedikit hal”, sehingga pandangan terhadap kelompok lain semakin sempit dan bias.
“Algoritma menutup ruang kita untuk benar-benar mengenal orang lain. Akibatnya, ketegangan identitas semakin tajam,” jelasnya.
Sakinah Akademy Masjid Kampus UGM melanjutkan seri kajian finansial keluarga dengan tajuk “Hukum Waris dalam Islam: Memahami Dasar Legalitas dan Syarat Sah Terjadinya Waris” pada Senin (18/8/2025). Melanjutkan paparan sebelumnya, kembali hadir Dr. Ahmad Bunyan Wahib, M.Ag., M.A., dosen Hukum Keluarga Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau memaparkan pentingnya memahami hukum waris Islam tidak hanya sebagai aturan teknis, tetapi juga sebagai bagian integral dari keadilan keluarga.
Ahmad Bunyan menjelaskan bahwa hukum waris adalah bagian dari syariat Islam yang detail dan menyeluruh. Dasarnya berasal dari Al-Qur’an, Hadis, dan ijma’ ulama, yang mengatur siapa saja yang berhak menerima harta warisan serta bagaimana pembagiannya.
Zainal Arifin Mochtar Soroti Paradoksal Negara: Klaim Menyejahterakan, Nyatanya Malah Menyengsarakan
Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M., hadir sebagai pembicara pada Kajian Kamis Sore di Masjid Kampus UGM, Kamis (14/8/2025). Kajian bertema “Sudahkah Sejahtera? Kilas Balik 80 Tahun Indonesia Merdeka” ini mengajak jemaah menelisik makna sejati kesejahteraan, sekaligus mengkritisi paradoksal negara yang atas nama kesejahteraan justru menindas rakyat.
Dalam pemaparannya, Zainal menegaskan, kesejahteraan bukan sekadar angka statistik, tetapi mencakup terpenuhinya kebutuhan dasar, rasa aman, dan martabat warga. “Kesejahteraan adalah tugas negara,” ujarnya, sebelum menjelaskan tiga kewajiban utama negara: menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak rakyat.
Dosen Fakultas Hukum UGM, Fajri Matahati Muhammadin, S.H., LL.M., Ph.D., hadir dalam Webinar Integrasi Ilmu-Agama (WIIA) Seri Studi Perdamaian dan Keamanan, Rabu (13/08/2025). Dalam ceramahnya yang bertajuk “Jihad Sosial sebagai Tindakan Profetik: Redefinisi Perlawanan di Tengah Ketidakadilan Global,” Fajri mengajak merefleksikan peran kesadaran kolektif dalam melawan kezaliman.
Fajri membuka pemaparan dengan ilustrasi ketidakadilan global yang diibaratkan sebagai puncak gunung es. Menurutnya, akar kezaliman justru tersembunyi di “bongkahan dasar” gunung es itu. Bermula dari hal-hal kecil yang sering kali berasal dari diri kita sendiri. Fenomena ini selaras dengan ciri-ciri akhir zaman, di mana akan terjadi peningkatan kezaliman, permusuhan, dan ketidakadilan yang semakin meluas.
Masjid Kampus UGM menggelar seri perdana Kajian Kamis Sore sebagai bagian dari rangkaian Refleksi Kemerdekaan Indonesia pada Kamis (7/8/2025). Mengangkat tema “Degradasi Intelektual: Budaya Literasi, Filter Informasi, dan Etika Media Sosial”, kajian ini menghadirkan Dosen Ilmu Komunikasi UGM Dr. Budi Irawanto, S.I.P., M.A.
Dr. Budi membuka pemaparan dengan refleksi atas kondisi Indonesia yang memasuki usia kemerdekaan ke-80. Kebebasan informasi yang dahulu diperjuangkan kini hadir melalui media sosial dengan akses cepat dan real time. Namun, di balik peluang yang luas, masih tersimpan banyak tantangan serius, yaitu degradasi intelektual, etika digital yang tergerus, serta maraknya bias dan disinformasi. Dengan lebih dari 80% penduduk Indonesia menjadi pengguna media sosial, platform digital kini bukan hanya memengaruhi cara berkomunikasi, tetapi juga cara memahami realitas yang sering kali melalui sudut pandang yang telah disaring oleh algoritma dan kepentingan kapitalisme digital.