Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Prof. Dr. Zuly Qodir, S.Ag., M.Ag. menegaskan bahwa keberagaman merupakan fondasi utama dalam membangun manusia Indonesia yang inklusif dan harmonis. Hal ini ia sampaikan dalam Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM pada Jumat (27/2).
Dalam pemaparannya, Zuly menjelaskan bahwa pluralitas Indonesia, baik dari sisi agama, etnis, kelas sosial, maupun ekspresi sosial adalah sunatullah yang tidak dapat diingkari. Upaya menyeragamkan masyarakat dalam satu identitas tunggal justru bertentangan dengan prinsip penciptaan yang telah digariskan Allah dalam Alquran, khususnya Surah Al-Hujurat.
“Kalau Allah menghendaki manusia seragam, tentu tidak diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Perbedaan itu untuk saling mengenal dan saling menolong,” ujarnya.
Resolusi Konflik dan Penguatan Ukhuwah
Merujuk Surah Al-Hujurat ayat 9 dan 10, Zuliymenekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog dan musyawarah. Ia mengkritik fenomena polarisasi dan pertentangan yang sering kali dipicu kepentingan duniawi, termasuk dalam konteks politik dan organisasi sosial-keagamaan.
Menurutnya, semangat persaudaraan (ukhuwah) tidak boleh runtuh hanya karena perbedaan pandangan. Prinsip innamal mukminuna ikhwatun harus diwujudkan dalam praktik sosial yang menjunjung kohesi dan menghindari perpecahan.
“Perbedaan itu wajar, tetapi jangan berubah menjadi permusuhan. Kepentingan duniawi jangan sampai merusak persaudaraan,” tegasnya.
Kritik atas Klaim Kebenaran Tunggal
Zuly juga menyoroti kecenderungan sebagian kelompok yang memonopoli definisi iman dan keselamatan. Ia menilai pendekatan eksklusif semacam itu berpotensi melahirkan sikap saling merendahkan dan menghakimi.
Dalam perspektifnya, iman tidak semata-mata diukur dari identitas formal, melainkan dari komitmen pada Tuhan dan praktik kebajikan sosial. Karena itu, pembangunan manusia yang inklusif menuntut kerendahan hati dan kesediaan menghargai perbedaan.
“Yang berbahaya bukan keberagaman, tetapi kesombongan merasa paling benar,” katanya.
Baca juga: Anggito Abimanyu: Generasi Muda Perlu Pahami Prinsip Syariah dan Waspada Penipuan Investasi
Etika Digital dan Larangan Fitnah
Dalam konteks kekinian, Zuly mengingatkan bahaya penyebaran hoaks dan informasi tanpa verifikasi di media sosial. Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan peringatan Alquran agar setiap berita diperiksa terlebih dahulu sebelum disebarkan.
Menurutnya, penyebaran informasi tanpa dasar evidensi bukan hanya pelanggaran etika komunikasi, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap nilai keimanan. Apalagi jika dilakukan oleh kalangan terdidik yang memiliki otoritas akademik.
“Kalau tidak berbasis data dan fakta, itu bisa menjadi fitnah. Dan fitnah merusak tatanan sosial,” ujarnya.
Moderasi dan Fastabiqul Khairat
Selain toleransi, Zuly menekankan pentingnya moderasi (wasathiyah) dalam beragama. Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada sikap ekstrem, baik dalam fanatisme sosial maupun dalam praktik ibadah yang berlebihan tanpa proporsionalitas.
Konsep fastabiqul khairat, menurutnya, harus dimaknai sebagai dorongan menghadirkan amal unggulan yang berdampak sosial luas. Ramadan menjadi momentum membangun kebiasaan baik yang berkelanjutan, tidak berhenti pada ritual individual.
“Berlomba dalam kebaikan bukan sekadar rajin ibadah, tetapi menghadirkan manfaat nyata bagi sesama,” jelasnya.
Menutup pemaparannya, Zuly mengajak jemaah menjadikan keberagaman sebagai energi pembangunan manusia. Inklusivitas, menurutnya, hanya dapat terwujud jika ditopang etika dialog, penghormatan terhadap perbedaan, serta komitmen pada kebajikan bersama.
“Jika keberagaman dikelola dengan iman dan ilmu, ia menjadi kekuatan. Tetapi jika dikelola dengan ego dan prasangka, ia berubah menjadi sumber konflik,” pungkasnya.
Oleh: Indra Oktafian Hidayat