Webinar Integrasi Ilmu dan Agama yang dilaksanakan pada Rabu (20/8), menghadirkan Dr. Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D., Dosen FISIPOL UGM dan Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Welfarism. Dalam kesempatan itu, Hakim mengulas tema “Diplomasi Profetik: Membangun Perdamaian Melalui Nilai-Nilai Kenabian”.
Sejak awal, Hakim menegaskan bahwa diplomasi tidak hanya urusan antarnegara. Ia menceritakan hasil riset bersama koleganya di Yogyakarta pada 2015–2017, ketika kota ini menempati peringkat kedua kota paling intoleran di Indonesia. Dari situ lahir istilah “diplomasi terkunci”, yaitu kondisi ketika pihak-pihak yang berbeda identitas tidak lagi bisa berdialog, bahkan sekadar menyapa.
Menurutnya, problem utama terletak pada prasangka dan keterbatasan pengetahuan. Ia mengutip pepatah Arab “an-nāsu a‘dā’ mā jahilū”. Manusia cenderung memusuhi apa yang tidak diketahuinya. Di era digital, situasi makin pelik karena algoritma media sosial membuat orang “tahu banyak tentang sedikit hal”, sehingga pandangan terhadap kelompok lain semakin sempit dan bias.
“Algoritma menutup ruang kita untuk benar-benar mengenal orang lain. Akibatnya, ketegangan identitas semakin tajam,” jelasnya.