• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Sekretaris MWA UGM Ingatkan Bonus Demografi Bisa Jadi Petaka Jika Abai pada Kesehatan Remaja

Sekretaris MWA UGM Ingatkan Bonus Demografi Bisa Jadi Petaka Jika Abai pada Kesehatan Remaja

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 23 Februari 2026, 17.42
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Kajian Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (Samudra) kembali digelar di Masjid Kampus UGM pada Ahad (22/2). Mengangkat tema “Kesehatan untuk Semua: Mimpi, Tantangan, dan Jalan Panjang Indonesia Sehat”, kajian ini menghadirkan Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., M.P.H., Ph.D., Sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, sebagai pembicara utama.

Dalam paparannya, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM tersebut menegaskan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat dilepaskan dari dinamika demografi, kualitas sumber daya manusia, serta kesiapan sistem kebijakan nasional.

“Lima tahun dari sekarang, generasi muda akan mencapai seperempat populasi dan usia produktif bisa menyentuh 70 persen penduduk. Ini peluang besar, tetapi juga bisa menjadi beban jika tidak dikelola dengan serius,” ujarnya.

Bonus Demografi dan Tantangan Siklus Kehidupan

Ia menjelaskan bahwa bonus demografi merupakan pisau bermata dua. Jika didukung kebijakan yang komprehensif, Indonesia dapat melompat jauh dalam produktivitas dan daya saing. Namun, tanpa reformasi yang terarah, peluang itu dapat berubah menjadi krisis sosial.

Uut, sapaan akrabnya, memaparkan pentingnya pendekatan siklus kehidupan. Fase paling krusial adalah 1.000 hari pertama kehidupan, sejak masa pralahir hingga awal kanak-kanak. “Pada akhir fase ini, ukuran otak manusia sudah mencapai sekitar 90 persen ukuran dewasa. Jika gagal di sini, dampaknya jangka panjang,” jelasnya.

Fase berikutnya adalah balita, yang membutuhkan stimulasi positif untuk tumbuh kembang optimal. Pengalaman negatif pada masa ini, lanjutnya, dapat terekam dan memengaruhi kesehatan mental di kemudian hari.

Adapun fase remaja menjadi tahap strategis karena terjadi pertumbuhan fisik, pematangan hormonal, sekaligus pencarian jati diri. “Di fase remaja, kesadaran moral, hukum, dan tanggung jawab sosial mulai terbentuk. Di sinilah masa depan bangsa dipertaruhkan,” tegasnya.

Baca juga: Presiden Asosiasi Psikolog Muslim Internasional Ingatkan Niat yang Lurus Lahir dari Jiwa yang Tenang

Remaja di Tengah Ancaman Multidimensi

Dalam kajian tersebut, ia juga menyoroti berbagai fenomena yang menjerat remaja Indonesia. Angka putus sekolah, obesitas, hingga peningkatan penggunaan rokok elektrik menjadi perhatian serius. Bahkan, ia menyebutkan bahwa prevalensi pengguna rokok elektrik di Indonesia telah melampaui sejumlah negara maju.

Persoalan kesehatan mental pun tak luput dari sorotan. “Sepertiga remaja kita mengalami gangguan mental, tetapi hanya sekitar 10 persen yang mendapatkan akses layanan. Ini kesenjangan yang sangat memprihatinkan,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa lebih dari 60 persen remaja dengan gangguan mental pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.

Di luar itu, isu lingkungan seperti deforestasi dan perubahan iklim turut menjadi ancaman laten. Laju pembalakan hutan yang mencapai sekitar 25 hektare per jam, menurutnya, bukan hanya persoalan ekologis, melainkan juga menyangkut keberlanjutan kesehatan generasi mendatang.

Dari sisi ekonomi, tingkat pengangguran usia 15–24 tahun yang masih tinggi serta dominasi sektor informal menunjukkan bahwa bonus demografi belum sepenuhnya diimbangi kesiapan lapangan kerja yang layak.

Tiga Langkah Menuju Indonesia Sehat

Menutup paparannya, Uut menawarkan tiga langkah strategis. Pertama, menciptakan lingkungan yang aman melalui sinergi lintas sektor. Kedua, menguatkan dan mengamplifikasi sistem yang telah ada, termasuk pemerataan kualitas layanan kesehatan dan sumber daya manusia. Ketiga, mengembangkan pendekatan inovatif dan integratif dengan prinsip no one left behind.

“Kesehatan untuk semua bukan sekadar slogan. Ia membutuhkan komitmen kebijakan, keberpihakan anggaran, dan keberanian untuk berbenah,” tandasnya.

Kajian yang berlangsung selama satu jam tersebut diikuti dengan antusias oleh jamaah yang didominasi mahasiswa serta masyarakat umum. Acara ditutup dengan pembagian konsumsi berbuka puasa di area masjid, menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya ruang ibadah spiritual, tetapi juga momentum refleksi atas masa depan bangsa.

Penulis: Rajendra Wibisana A.

Editor: Naila A. Cetta, Alkansa Fauziyyah

Post Views: 24
Tags: bonus demografi deforestasi Indonesia kesehatan generasi muda kesehatan mental remaja MWA UGM pendidikan dan kesehatan pengangguran usia muda Prof Adi Utarini rokok elektrik Safari Ilmu Ramadhan

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Empat Gagasan Memajukan Masjid di Era AI Dibahas dalam Bedah Buku Masjid Kampus UGM
  • Rahasia Manajemen Waktu Menurut Psikolog UGM: Awali Hari dari Magrib agar Lebih Produktif
  • Dokter Spesialis Anak Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pranikah sebagai Bekal Membangun Keluarga Sehat
  • Menilik Sejarah Tahun Baru Islam, Guru Besar Hukum UGM Ajak Jamaah Refleksikan Jejak Hijrah Indonesia
  • Self-Compassion bagi Mahasiswa: Pesan Aisha Sekar Lazuardini, Psikolog UGM, untuk Berdamai dengan Target dan Ekspektasi
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY