Perkembangan teknologi informasi yang luar biasa telah mengubah cara manusia menerima, memproses, dan memaknai realitas. Melalui gawai pribadi, segala bentuk informasi baik yang dapat dipercaya maupun yang tidak dapat dipercaya dengan mudah masuk tanpa sekat. Hal tersebut mengemuka dalam kajian Mimbar Subuh, yang disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Dr. Machasin, M.A.
Hukum sejatinya adalah instrumen negara untuk melayani warganya. Namun, realitas yang terjadi di Indonesia justru kerap memperlihatkan wajah hukum yang hanya melayani kepentingan kekuasaan dan abai terhadap suara rakyat.
Peringatan tajam ini disampaikan oleh pakar hukum dan aktivis HAM, Haris Azhar, S.H., M.H., dalam acara Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM pada Senin (23/2). Mengangkat tema “Kondisi Hukum Indonesia: Sebuah Laporan tentang Keadilan“. Haris mengajak jemaah untuk membedah kritis dua pilar utama hukum yang langsung berdampak pada kehidupan warga, yaitu legislasi dan penegakan hukum.
Arus informasi yang melimpah dan pengawasan publik yang sangat ketat di era digital ternyata belum menjamin tegaknya nilai-nilai etika dalam kehidupan bermasyarakat. Fenomena paradoksial justru sering muncul, misalnya saja kritik bebas yang bertebaran di linimasa tidak dibarengi dengan penguatan standar moral. Persoalan krisis moral ini menjadi sorotan utama Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum.
Menurutnya, situasi tersebut tidak hanya menghadirkan berbagai dampak positif, tetapi juga berkontribusi pada lahirnya masyarakat yang semakin abai terhadap nilai-nilai moral. “Kita hidup di zaman paradoks. Kita saksikan begitu banyak informasi, kita saksikan juga kemarahan dengan mudah tersulut. Semakin tinggi pendidikan tidak berbanding dengan empati yang semakin tipis di mana-mana. Masalahnya tidak sekadar kurang pengetahuan, tapi kurang refleksi,” ungkapnya dalam Kajian Samudra pada Senin (23/2).
Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E. menegaskan pentingnya meneladani kepemimpinan para sahabat Nabi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu disampaikannya dalam Ramadan Public Lecture di Masjid Kampus UGM pada Ahad (22/02) dengan tema “Bagaimana Alquran Memandu Kehidupan Bernegara?”.
Dalam ceramahnya, Dahnil mengaitkan hikmah Ramadan, khususnya nilai kesabaran dengan etika politik dan tata kelola negara. Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan spiritual untuk membentuk empati dan ketakwaan.
“Puasa itu jalan untuk mengenyangkan rohani melalui kelaparan fisik. Dari sana lahir empati sosial. Dan empati itulah fondasi keadilan dalam bernegara,” ujarnya.
Kajian Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (Samudra) kembali digelar di Masjid Kampus UGM pada Ahad (22/2). Mengangkat tema “Kesehatan untuk Semua: Mimpi, Tantangan, dan Jalan Panjang Indonesia Sehat”, kajian ini menghadirkan Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., M.P.H., Ph.D., Sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM tersebut menegaskan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat dilepaskan dari dinamika demografi, kualitas sumber daya manusia, serta kesiapan sistem kebijakan nasional.
“Lima tahun dari sekarang, generasi muda akan mencapai seperempat populasi dan usia produktif bisa menyentuh 70 persen penduduk. Ini peluang besar, tetapi juga bisa menjadi beban jika tidak dikelola dengan serius,” ujarnya.
“Apapun yang kita lakukan harus berpegang teguh pada niat karena kunci kemenangan jiwa adalah memahami maksud hati agar kita dapat menentukan niat yang benar.”
Demikian salah satu penekanan yang disampaikan oleh Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog, President of the International Association of Muslim Psychologist, dalam agenda Mimbar Subuh hari kelima Ramadan, Sabtu (22/2). Kajian bertajuk “Menjadi Muslim Tangguh Akhir Zaman dengan Menjaga Cahaya Iman” tersebut mengajak jamaah merefleksikan cara menjaga ketenangan jiwa di tengah berbagai kesulitan zaman.
Dengan bahasa yang ringan namun menyentuh, Bagus menekankan bahwa kekuatan seorang Muslim tidak hanya terletak pada capaian lahiriah, melainkan pada kejernihan hati dan kelurusan niat.
Ramadan Public Lecture (RPL) yang diselenggarakan panitia Ramadhan di Kampus (RDK) pada Sabtu (21/2) menghadirkan Ir. Adiwarman Azwar Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P., ahli ekonomi syariahdengan membawakan topik “Ekonomi Inklusif dan Mobilitas Sosial dalam Pembangunan Manusia Indonesia”. Dalam pemaparannya, Adiwarman menyajikan materi dengan kuis interaktif dengan sejumlah hadiah menarik.
Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental dan derasnya arus distraksi digital, sebuah pertanyaan mengemuka: benarkah puasa memiliki dampak nyata bagi ketenangan jiwa? Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA) pada Sabtu (21/02) yang berlangsung secara dinamis dengan mengusung tema “Hikmah Puasa untuk Menjaga Kesehatan Mental” dan diselenggarakan di Masjid Kampus UGM. Dosen Fakultas Psikologi UGM, Dr. Ridwan Saptoto, S.Psi., M.A., Psikolog hadir membawakan topik kesehatan mental yang kini tengah menjadi perhatian publik.
Di tengah tantangan degradasi moral dan kompleksitas sosial modern, pendidikan karakter kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai materi tambahan dalam kurikulum formal, melainkan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Guru Besar FMIPA Bidang Kimia, Prof. Dr. Chairil Anwar, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan karakter di Indonesia sangat bergantung pada integrasi antara nilai religius, keteladanan nyata, dan praktik sosial yang konsisten di luar kelas.
Pendidikan tinggi Indonesia kini dituntut tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga menjadi inkubator solusi bagi persoalan nyata di masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Rektor UGM periode 2017–2022, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng, D.Eng, IPU., ASEAN Eng., dalam kajian Safari Ilmu di Bulan Ramadan (Samudra) di Masjid Kampus UGM, Jumat (20/2).
Mengusung tema “Membangun Kemandirian Bangsa melalui Inovasi Pendidikan Tinggi”, kajian sore itu membahas isu yang dekat dengan tantangan Indonesia hari ini. Dalam pemaparannya, Panut membuka kajian dengan optimisme sumber daya yang dimiliki Indonesia. “Indonesia kaya raya. Kita punya emas, mineral, batu bara, flora, dan fauna. Jumlah penduduk kita lebih dari 240 juta jiwa,” tuturnya.