Pemberdayaan ekonomi umat melalui sektor pertanian dan peternakan dipandang sebagai pilar vital bagi ketahanan nasional. Meski profesi petani dan peternak kerap dipandang sebelah mata, peran mereka sangatlah sentral. Hal ini terbukti secara nyata, tidak hanya melalui kontribusi strategis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga sebagai fondasi utama kedaulatan pangan bangsa. Refleksi ini menjadi titik awal pembahasan khutbah yang disampaikan oleh Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D, IPM. (Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Peternakan UGM) pada Jumat (23/1) di Masjid Kampus UGM.
Pertanyaan “mengapa sebuah krisis terjadi?” menjadi pembuka reflektif dalam Kajian Kamis Sore Masjid Kampus UGM, Kamis (22/1). Guru Besar Fakultas Filsafat UGM sekaligus Ketua Senat Akademik, Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D of Arts., mengajak jemaah menelaah akar krisis kemanusiaan dalam perspektif agama dan etika publik. Dalam kajian bertema “Krisis Kemanusiaan dalam Perspektif Agama dan Etika Publik” itu, Mukhtasar menegaskan bahwa krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini bukan sekadar isu konseptual, melainkan realitas sosial yang nyata.
Isu energi tidak lagi sekadar persoalan teknis, tetapi telah menjadi persoalan moral dan peradaban. Hal itu dijelaskan dalam Webinar Integrasi Ilmu dan Agama Seri Studi Energi bertajuk “Strategi Pengembangan Sistem Energi Nuklir di Indonesia dalam Perspektif Islam” yang diselenggarakan pada Rabu (21/1) via Zoom Meeting.
Pada Sakinah Academy (19/1), Dr. Rangga Almahendra, S.T., M.M. (Dosen Departemen Manajemen FEB UGM) menyampaikan materi mengenai “Strategi Bisnis Keluarga dalam Menghadapi Dinamika Pasar dan Keberlanjutan Ekonomi Rumah Tangga”. Kajian tersebut berangkat dari pengalaman beliau dalam membangun usaha bersama istrinya, yang kemudian melahirkan sejumlah karya berupa buku dan film.
Di tengah arus globalisasi dan datangnya teknologi, umat Islam sering kali dihadapkan pada dilema bagaimana mendudukkan teks agama yang sudah final dengan realitas zaman yang terus berubah? Isu inilah yang disampaikan oleh Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. (Dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi FT UGM) dalam Khotbah Jumat di Ruang Utama Masjid Kampus UGM, Jumat (16/1) dengan tema “Inovasi dan Ijtihad: Menjawab Tantangan Umat di Era Modern”, Ridwan menekankan urgensi ijtihad sebagai jembatan antara teks suci dan konteks realitas masa kini.
Praktik pembangunan berbasis ekstraktivisme dinilai menjadi akar persoalan kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc., Ketua Senat Akademik Fakultas Kehutanan UGM, dalam Kajian Kamis Sore Masjid Kampus UGM bertema “Keadilan Ekologis: Kritik atas Ekstraktivisme dan Degradasi Lingkungan”, Kamis 15/1).
Webinar Serial Integrasi Ilmu-Agama Seri Studi Energi dengan tajuk “Hidrogen sebagai Sumber Energi Masa Depan: Studi tentang Transisi Energi Berkelanjutan dalam Kerangka Islam” diselenggarakan pada Rabu (14/1) secara daring melalui Zoom Meeting dan kanal YouTube Masjid Kampus UGM. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr.Eng. Ir. Deendarlianto, S.T., M.Eng. Dewan Pengarah Pusat Studi Energi UGM sebagai narasumber utama.
Membangun jiwa wirausaha dalam keluarga bukan sekadar mengejar profit semata, melainkan sebuah bentuk pengabdian kepada Allah. Pesan tersebut ditekankan oleh Direktur Operasional RZIS UGM, Taufikur Rahman, S.E., M.B.A., Ak., CA., dalam Sakinah Academy di Masjid Kampus UGM, Senin sore (12/1).
Bertajuk “Membangun Mindset Wirausaha dalam Keluarga: Dari Pencatatan Sederhana sampai Knowledge Management Keuangan”, Taufikur memaparkan bahwa paradigma bisnis Islam harus berlandaskan pada hakikat manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di bumi. “Kita memiliki misi. Selain beribadah kepada Allah swt., kita juga harus merealisasikan rahmatan lilalamin,” jelasnya.
Keanekaragaman hayati bukan sekadar kekayaan alam yang dapat dibanggakan, melainkan tanda nyata kebesaran Allah yang seharusnya mengantarkan manusia pada kesadaran iman dan tanggung jawab moral. Pesan inilah yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D. dalam khotbah jumat di Masjid Kampus UGM. Melalui tema “Tanda Keagungan Allah dalam Keanekaragaman Hayati“, khotbah ini mengajak jemaah untuk memandang alam bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai ayat-ayat Allah yang hidup dan berbicara kepada manusia.
Di tengah meningkatnya frekuensi banjir bandang, rob yang menenggelamkan pesisir, serta kerusakan lingkungan yang kian meluas, manusia kerap berlindung di balik istilah “bencana alam”, seolah semua peristiwa tersebut sepenuhnya berada di luar kendali dan tanggung jawab manusia. Pandangan inilah yang secara tajam dikritisi oleh Prof. Dr. Drs. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A. (Ketua Departemen Antropologi FIB UGM) dalam Kajian Kamis Sore di Masjid Kampus UGM, melalui tema “Relasi Manusia dan Lingkungan dalam Perspektif Ekologi Budaya“.