Pendidikan tinggi Indonesia kini dituntut tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga menjadi inkubator solusi bagi persoalan nyata di masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Rektor UGM periode 2017–2022, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng, D.Eng, IPU., ASEAN Eng., dalam kajian Safari Ilmu di Bulan Ramadan (Samudra) di Masjid Kampus UGM, Jumat (20/2).
Mengusung tema “Membangun Kemandirian Bangsa melalui Inovasi Pendidikan Tinggi”, kajian sore itu membahas isu yang dekat dengan tantangan Indonesia hari ini. Dalam pemaparannya, Panut membuka kajian dengan optimisme sumber daya yang dimiliki Indonesia. “Indonesia kaya raya. Kita punya emas, mineral, batu bara, flora, dan fauna. Jumlah penduduk kita lebih dari 240 juta jiwa,” tuturnya.
Meskipun demikian, ia juga menyayangkan bahwa setelah 80 tahun merdeka, Indonesia belum mencapai kemajuan seperti yang diharapkan. Ia membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan yang merdeka hanya berselisih dua hari, tetapi mampu mencapai titik kemajuan yang jauh melampaui Indonesia.
Pendidikan sebagai Kunci Utama Persoalan
Menurut Panut, kunci utama pembangunan dan kemajuan terletak pada kualitas sumber daya manusia. “Bonus demografi yang kita miliki harus diubah menjadi demografi yang berkualitas. Kualitas itu, hanya bisa dicapai melalui pendidikan yang bermutu.” tegasnya.
Panut kemudian mengutip pernyataan Nelson Mandela, bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Ia juga menyinggung kisah Kaisar Hirohito yang memprioritaskan kebangkitan pendidikan pasca Perang Dunia II sebagai fondasi kemajuan Jepang dibandingkan perihal lain.
Memahami Hakikat Pendidikan dalam Islam
Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Panut mengingatkan bahwa wahyu pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah membaca QS. Al-‘Alaq ayat 1–5. Hal ini menunjukkan bahwa mencari ilmu adalah perintah agama. Ia juga mengutip QS. Al-Mujadilah ayat 11 yang dengan tegas menyatakan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu. “Belajar itu ibadah. Tidak ada alasan bagi umat Islam untuk malas belajar dan malas meneliti,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa nilai agama dan nilai keilmuan harus berjalan bersama. “Ilmu tanpa agama berisiko, agama tanpa ilmu bisa berubah menjadi fanatisme.” tegasnya.
Ia mengingatkan kembali kejayaan ilmuwan Muslim seperti Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina yang manfaat keilmuannya dapat umat manusia rasakan hingga hari ini, sekaligus menjadi tonggak perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Menurutnya, tokoh-tokoh tersebut seharusnya menjadi semangat dan pemicu umat Islam untuk giat melakukan penelitian demi kemajuan diri dan bangsa.

Baca juga: Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Soroti Fondasi Sekular dalam Konsep HAM Modern
Lebih Jauh tentang Pendidikan: Bukan Sebatas Transfer Ilmu
Pendidikan, lanjut Prof. Panut, tidak boleh berhenti pada transfer ilmu semata. Pendidikan harus membentuk manusia seutuhnya: berpengetahuan sekaligus berbudi pekerti. Ia menyebut bahwa pendidikan berperan mengolah rasa, karsa, dan karya. Kurikulum membentuk kemampuan kognitif, sementara teladan dari dosen dan tenaga kependidikan membangun karakter, etika, dan moralitas. Karena itu, suasana akademik di kampus menjadi faktor yang sangat menentukan.
Ia juga menyinggung Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya mendidik, tetapi juga menghasilkan individu yang beriman, bertakwa, berinovasi, dan mengabdi kepada masyarakat. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan visi Universitas Gadjah Mada sebagai pelopor perguruan tinggi nasional berkelas dunia yang unggul, inovatif, dan mengabdi kepada bangsa berdasarkan Pancasila. “Seharusnya, tidak ada alumni UGM yang tidak Pancasilais,” kelakarnya dengan nada hangat.
Tantangan Global dan Solusi Pendidikan
Prof. Panut juga menyoroti tantangan global saat ini, seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan bencana alam. Ia menekankan bahwa transformasi perguruan tinggi harus berfokus pada solusi nyata bagi persoalan sosial dan ekonomi, inovasi yang inklusif, serta kontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). “Kampus dituntut untuk bisa membangun kurikulum bersama masyarakat, industri, dan pemerintah,” ungkapnya.
Ia mengutip konsep Outcome-Based Education (OBE), yakni pendekatan pendidikan yang menitikberatkan pada hasil belajar yang benar-benar dikuasai mahasiswa, bukan sekadar pada materi yang diajarkan. Lebih lanjut, Prof. Panut menjelaskan pentingnya innovation driven economy dan teori pertumbuhan endogen, yang menunjukkan hubungan erat antara riset dan peningkatan GDP suatu negara.
Indonesia, katanya, baru mengalokasikan sekitar 0,25 persen dari GDP untuk riset—angka yang jauh tertinggal dibandingkan negara seperti Korea Selatan dan Israel. Padahal, inovasi adalah jalan untuk melahirkan sumber daya manusia yang kreatif dan mampu berkarya, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di kancah global.
Menjawab Tantangan Bangsa Dimulai dari Yogyakarta
Menutup kajian, Prof. Panut menegaskan bahwa perguruan tinggi harus hadir sebagai pemberi solusi nyata atas persoalan bangsa. Ia mengajak civitas akademika untuk memulai dari lingkup terdekat. “Kalau kita bisa menyelesaikan persoalan di Yogyakarta, maka kita akan punya bekal untuk menjawab persoalan yang lebih besar dan lebih kompleks,” pungkasnya.
Kajian sore itu menyampaikan gagasan yang menyadarkan kita tentang peran besar pendidikan dan inovasi serta manfaat besarnya kepada kita semua. Pesan-pesan pembicara pada kesempatan ini secara ringkas dapat disimpulkan: bahwa pendidikan bukan sekadar ruang belajar, ia hadir sebagai harapan dan secercah cahaya menuju kemandirian dan kebermanfaatan bersama.
Penulis: Renaldhi G. Pranyata
Editor: Naila A. Cetta, Aldi Firmansyah, & Indra Oktafian Hidayat