Di tengah meningkatnya isu kesehatan mental dan derasnya arus distraksi digital, sebuah pertanyaan mengemuka: benarkah puasa memiliki dampak nyata bagi ketenangan jiwa? Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA) pada Sabtu (21/02) yang berlangsung secara dinamis dengan mengusung tema “Hikmah Puasa untuk Menjaga Kesehatan Mental” dan diselenggarakan di Masjid Kampus UGM. Dosen Fakultas Psikologi UGM, Dr. Ridwan Saptoto, S.Psi., M.A., Psikolog hadir membawakan topik kesehatan mental yang kini tengah menjadi perhatian publik.
Gangguan Kesehatan Mental: Psikosis dan Neurosis
Secara umum, Ridwan membagi gangguan kesehatan mental menjadi dua kategori. Pertama adalah psikosis, yaitu gangguan kesehatan mental yang membuat penderitanya kehilangan kesadaran sehingga perlu bantuan pengobatan medis dari psikiater.
Kedua adalah neurosis, di mana seseorang merasakan ketegangan dalam dirinya namun yang bersangkutan masih memiliki kesadaran diri dan bisa diajak berkomunikasi. “Untuk teman-teman yang mengalami kondisi kedua ini masih bisa ditangani kami dari psikologi,” jelasnya.
Gangguan Kesehatan Mental di Era Kini
Ridwan menanyakan sebuah hal yang menarik, “Kok sekarang itu banyak disinyalir orang itu mengalami gangguan jiwa atau kesehatan jiwa atau kesehatan mental?” Beliau menambahkan, “Itu apakah yang pertama itu karena keimanannya kurang dan yang kedua apakah kemudian pengaruh gadget dapat membuat seseorang mengalami gangguan kesehatan mental?”
Perlu disadari bahwa ketika kita dilahirkan kemudian bertumbuh menjadi dewasa, kita memiliki proses pembelajaran yang berbeda-beda. Alih-alih menghakimi dengan berkata keimanan atau ketakwaan seseorang kurang dalam, lebih baik kita membersamai mereka sehingga keimanan dan ketakwaan mereka terhadap Allah SWT dapat meningkat.
Baca juga: Adiwarman Karim Soroti Ekonomi Inklusif dan Pentingnya Ikhtiar dalam Mengubah Nasib
Hormon Kortisol Menurun dan BDNF yang Terjaga
Sebuah fakta menarik disampaikan oleh Ridwan bahwa puasa terbukti menurunkan hormon kortisol atau hormon stres. Hormon ini biasanya keluar dan akan menyiapkan tubuh kita untuk bereaksi fight (bertempur) atau flight (melarikan diri) dari situasi yang menimbulkan stres. Jika kita selalu berada dalam situasi stressful terus menerus, hormon kortisol ini akan meningkatkan tekanan darah sehingga berada dalam kondisi yang konstan tinggi. Hal ini akan mengakibatkan sistem imun tubuh menurun. Oleh karena itu, orang yang mengalami kondisi stressful dalam jangka waktu panjang akan merasakan sakit secara psikologis maupun fisik.
Di sisi lain, puasa justru menjaga keberadaan protein unik tubuh kita yaitu, BDNF atau brain-derived neurotrophic factor. Protein ini berfungsi menjaga sinapsis atau hubungan antar neuron di otak sehingga koneksinya selalu terjaga. Apabila koneksi ini selalu terjaga maka ingatan seseorang akan semakin kuat dan fokus dalam melakukan suatu hal.
Puasa Menyadarkan Kita sebagai Manusia
Ibadah puasa menyadarkan posisi kita sebagai manusia. Dari Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56, kita dipahamkan bahwa ketika kita beribadah maka kita menyadari bahwa beribadah ke Allah SWT itu adalah tujuan hidup kita. Oleh karena itu, semua aktivitas kita harus kita niatkan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Selain itu, puasa juga akan membuat kita mengingat kembali akan pandangan dan keterikatan kita kepada Allah SWT sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al Baqarah ayat 155, yakni bahwa Allah SWT akan menguji kita. Karenanya, kita perlu menyadari bahwa yang terpenting adalah bagaimana dari ujian itu kita bisa belajar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam menghadapi ujian, manusiawi jika kita sedih dan kecewa. Namun, beliau juga mengingatkan agar jangan sampai berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan.
Brainrot: Otak yang Membusuk
Mendalami pertanyaan yang dilontarkan di awal kajian, “Apakah kemudian gadget bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang?”
Jawabannya adalah bisa, terlebih saat ini sedang ramai pembahasan mengenai brainrot atau otak yang membusuk. “Kok bisa otak itu membusuk?” tanyanya. Otak kita sering dijejali konten-konten receh namun konten ini menarik bagi kita. Akibatnya, otak kita mengeluarkan hormon dopamin, yaitu hormon terkait perasaan senang. Ketika konten receh ini terhenti maka hormon dopamin ikut terhenti sehingga kita selalu tergoda untuk melihat konten receh lainnya.
Bermula dari hal tersebut, otak kita kemudian akan malas berpikir lebih kritis karena hanya dengan melihat konten receh kita sudah bisa mendapatkan rasa bahagia. Padahal, hormon dopamin tidak keluar semudah itu. Hormon dopamin biasanya keluar ketika kita selesai melakukan usaha yang keras kemudian mendapat output dari hal tersebut.
Pengendalian diri dalam respon dan reaksi
Di bulan puasa ini, kita dilatih untuk mengendalikan diri, sehingga kita dapat membiasakan respons terhadap suatu hal dengan lebih teratur. Tak jarang, reaksi tanpa memikirkan kondisi lebih lanjut hanya akan menimbulkan penyesalan. Reaksi ini dipicu oleh situasi stressful. Apabila sedikit-sedikit kita memandang situasi sebagai situasi yang stressful, kita akan cenderung merespon otomatis secara tidak terstruktur.
“Dengan berpuasa ini kita menahan diri kita untuk tidak bereaksi dengan emosi-emosi sesaat yang mungkin akan senantiasa kita rasakan,” ujarnya menutup kajian.
Penulis: Nadia P. Ashira
Editor: Naila A. Cetta, Alkansa Fauziyyah