Arus informasi yang melimpah dan pengawasan publik yang sangat ketat di era digital ternyata belum menjamin tegaknya nilai-nilai etika dalam kehidupan bermasyarakat. Fenomena paradoksial justru sering muncul, misalnya saja kritik bebas yang bertebaran di linimasa tidak dibarengi dengan penguatan standar moral. Persoalan krisis moral ini menjadi sorotan utama Dekan Fakultas Filsafat UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum.
Menurutnya, situasi tersebut tidak hanya menghadirkan berbagai dampak positif, tetapi juga berkontribusi pada lahirnya masyarakat yang semakin abai terhadap nilai-nilai moral. “Kita hidup di zaman paradoks. Kita saksikan begitu banyak informasi, kita saksikan juga kemarahan dengan mudah tersulut. Semakin tinggi pendidikan tidak berbanding dengan empati yang semakin tipis di mana-mana. Masalahnya tidak sekadar kurang pengetahuan, tapi kurang refleksi,” ungkapnya dalam Kajian Samudra pada Senin (23/2).
Kekuatan Moral sebagai Fondasi Demokrasi
Konsep supremasi sipil kerap dipahami secara sempit sebagai dominasi masyarakat atas kekuasaan negara. Padahal, secara filosofis, supremasi sipil bertumpu pada kualitas moral individu. Murti menegaskan bahwa demokrasi hanya dapat berdiri kokoh apabila warga negaranya mampu mengendalikan diri dan bertanggung jawab atas kebebasan yang dimiliki.
Pakar Filsafat yang kerap disapa Murti tersebut kembali menggarisbawahi korelasi antara integritas moral dan esensi bulan Ramadan. Menurutnya, tujuan akhir dari segala proses berpikir dan berkeyakinan bukanlah perdebatan, melainkan upaya menjaga kemanusiaan. “Tujuan akhir itu bukan perdebatan, tetapi menjaga kemanusiaan. Begitu pun dengan Ramadan, seharusnya membuat kita lebih lembut kepada sesama dan diri sendiri,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengamati bahwa di era yang penuh kemajuan ini, pembahasan tatanan makro sering kali hanya mencakup ekonomi, politik, dan teknologi saja. Padahal, terdapat satu hal yang sering terabaikan, yakni berkenaan dengan krisis kompas moral manusia. “Di antara krisis yang sering dibicarakan, terdapat hal yang terabaikan, yakni krisis kompas moral manusia. Informasi terbuka dan kritik dapat disampaikan dengan mudah, tapi mengapa kita sering kali menyaksikan pelanggaran moral meskipun pengawasan publik sudah begitu ketat?” tanyanya retoris pada jemaah yang hadir.
Baca juga: Wamen Haji Dahnil Anzar Refleksikan Kisah Umar dan Ali tentang Cermin Pemimpin dan Rakyat
Dua Kompas Moral Manusia
Dalam pemaparannya, Murti membedah dua kompas moral manusia, yakni budaya malu yang bersumber dari penilaian luar dan budaya bersalah yang berakar pada hati nurani.
Budaya malu merupakan bentuk moralitas yang bertumpu pada penilaian publik. Ukurannya sederhana, yakni apa kata orang. “Rasa malu biasanya muncul ketika kesalahan terlihat dan diketahui orang lain. Karena itu, yang dijaga seringkali hanya hal-hal yang tampak dan sumber moralitasnya berada di luar,” jelasnya.
Lain hal, budaya bersalah berakar pada hati nurani dan ketakwaan. Moralitas tumbuh dari dalam diri, sehingga seseorang tetap menjaga sikap meski tidak diawasi. “Pendidikan yang tidak disertai kesadaran kritis hanya akan melahirkan kepatuhan formal, bukan tanggung jawab. Dalam kerangka supremasi sipil, dibutuhkan keberanian moral untuk berkata tidak terhadap hal yang keliru. Dari keberanian itulah tanggung jawab publik menemukan maknanya,” paparnya.
Lebih jauh, Murti mengaitkan budaya bersalah tersebut dengan konsep ihsan, yakni kondisi manusia yang selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Di tengah sistem demokrasi yang memberikan kebebasan luas, konsep ini menjadi sangat krusial. Hal ini karena jika hati nurani telah mati hukum dan kritik hanya sekadar permainan tanpa makna. “Sebagaimana banyak fenomena yang kita saksikan, publik sudah mengkritik keras, media sosial penuh kecaman, tetapi sebagian pemegang kekuasaan tetap tidak berubah,” ungkapnya.
Peran Kampus dan Masjid Kampus
Pada kesempatan ini, Murti memperingatkan bahwa krisis moral saat ini menunjukkan gejala yang lebih serius dibandingkan masa-masa sebelumnya. Menurutnya, melemahnya budaya bersalah kini diikuti dengan mulai menghilangnya rasa malu, dan hal ini menandai rapuhnya fondasi etika sosial. “Bukan hanya budaya bersalah yang melemah, budaya malu pun mulai menghilang. Akibatnya muncul pribadi yang tidak merasa bersalah dan tidak merasa malu, tetapi tetap percaya diri. Fenomena ini menandai rapuhnya fondasi etika sosial,” ungkapnya.
Murti berpendapat, pembahasan mengenai supremasi sipil menjadi penting di lingkungan masjid kampus. Hal ini karena kampus merupakan tempat lahirnya elite masa depan. Oleh karena itu, pembahasan moral menjadi hal yang penting di masjid kampus sebagai ruang pembentukan karakter. “Jika kampus gagal membangun kompas moral, bangsa ini hanya melahirkan orang pintar tanpa nurani. Pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada kecerdasan intelektual semata,” pungkasnya.
Penulis: Farah
Editor: Naila A. Cetta, Aldi Firmansyah, Indra Oktafian Hidayat