Pada khutbah Jumat, 3 Oktober 2025, Dr. Okrisal Eka Putra, Lc., M.Ag. membawakan tema “Sunnah-Sunnah Nabi dalam Politik dan Kekuasaan”. Pesan-pesan yang disampaikan menggugah kesadaran bahwa sunnah Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya sebatas persoalan ibadah ritual, tetapi juga mencakup tata kelola kekuasaan, kepemimpinan, dan pelayanan kepada umat.
Generasi muda, terutama mahasiswa dan pekerja generasi Z, seringkali berada dan terjebak dalam situasi tertekan atau stres yang biasa disebut quarter life crisis. Quarter life crisis menyebabkan krisis emosional dan berdampak pada timbulnya kecemasan tinggi yang memberikan tekanan pada individu. Beban akademik, ketidakpastian karir, tekanan sosial, dan harapan keluarga dapat memicu dorongan emosional yang keliru, seperti halnya pernikahan sebagai pelarian atau escape mechanism.
Pada Kamis, 2 Oktober 2025, Masjid Kampus UGM kembali menggelar Kajian Kamis Sore yang menghadirkan Habib Novel bin Muhammad Alaydrus. Acara ini diikuti oleh ratusan jamaah yang memenuhi ruang utama masjid. Dengan tema “Ketika Ibadah Bukan Lagi Beban tetapi Kebutuhan”, kajian ini berhasil membuka pandangan baru bagi banyak orang tentang bagaimana memaknai ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, Prof. Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si menegaskan bahwa krisis ekologi kontemporer memerlukan solusi yang melampaui batas-batas disiplin ilmu. Presentasi ini berfokus pada integrasi mendalam antara perspektif ilmiah yang didasarkan pada data, dengan perspektif spiritualitas yang memberikan landasan etika dan moral. Djati Mardiatno menekankan bahwa krisis ekologi saat ini merupakan cerminan nyata dari kegagalan manusia dalam menyeimbangkan kemajuan peradaban dengan tanggung jawab ekologis.
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D., mengupas tuntas rahasia di balik nafkah yang berkah. Menurutnya, besaran pendapatan bukanlah satu-satunya penentu, sebab ada orang-orang yang “memang gak bakat dapat berkah” karena karakternya. Hal itu disampaikannya dalam Kajian Sakinah Academy pada Senin, 29 September 2025 dengan tema “Mengubah yang Kecil menjadi Besar: Sebuah Hikmah tentang Nafkah dan Berkah” di Lantai 1 Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada.
Feri Amsari dalam acara Masjid Kampus UGM Public Lecture yang diselenggarakan pada Sabtu (27/9) menyatakan bahwa persoalan inti yang terjadi di Pati bukan sekedar kenaikan pajak, melainkan juga arogansi Bupati yang kian menjauhkan solusi. Oleh karena itu, perlu reformasi tata perilaku politisi dan wacana Californian demokrasi yaitu konsep recall by the people sebagai tawaran jangka panjang bagi rakyat.
Media Wahyudi Askar, S.I.P., M.Sc., Ph.D., memaparkan analisis tajam mengenai jurang ketimpangan ekonomi dan dampaknya terhadap stabilitas sosial-politik di Indonesia.
Dalam presentasinya dalam acara Maskam Public Lecture yang berjudul “Dari Pati ke Republik: Dialektika Harapan dan Keputusasaan Sipil”, Media Askar menyoroti lonjakan kekayaan kelompok ultra-kaya yang meningkat drastis dalam enam tahun terakhir. Data menunjukkan bahwa pada 2025, lebih dari 60 persen total kekayaan nasional terkonsentrasi pada sektor ekstraktif. Sementara itu, beban pajak justru lebih banyak dipikul oleh masyarakat berpenghasilan rendah.
Sastrawan sekaligus sosiolog, Okky Madasari, Ph.D. hadir dalam Maskam Public Lecture bertajuk “Dari Pati ke Republik: Dialektika Harapan dan Keputusasaan Sipil” pada Sabtu (27/9). Dalam pemaparannya, Okky menyoroti bagaimana peristiwa Pati bukan hanya menjadi kasus lokal, melainkan juga melahirkan solidaritas publik lintas daerah hingga lintas negara.
Menurut Okky, gelombang protes yang awalnya dipicu oleh kenaikan PBB dan kesulitan ekonomi masyarakat kemudian berkembang menjadi letupan kemarahan kolektif terhadap berbagai kebijakan pemerintah, termasuk rencana kenaikan gaji DPR RI. “Pati bukan lagi peristiwa Pati saja, tapi telah berhasil membangun keberanian rakyat untuk melawan, mempertanyakan, dan bergerak bersama,” tegasnya.
Ketua Panitia khusus (Pansus) Hak Angket Pemakzulan Bupati Pati, Teguh Bandang Waluyo, hadir dan memberikan pandangan mendalam dalam acara Maskam Public Lecture edisi September bertajuk “dari Pati ke Republik : Dialektika Harapan & Keputusasaan Sipil.” Sabtu (27/9).
Politikus PDIP ini kemudian menjabarkan secara rinci kronologi pembentukan Pansus Hak Angket Bupati Pati. Ia mengisahkan bahwa hak angket pertama kali disampaikan oleh Fraksi Gerindra sebagai pengusung Bupati Pati. Usulan ini dengan cepat disusul oleh fraksi-fraksi partai politik yang lain.
“Semua fraksi yang ada di DPRD Pati, yang terdiri atas 7 partai, membuat hak angket dan sepakat membentuk pansus yang terdiri atas perwakilan tiap partai.” tuturnya, menjelaskan legitimasti pansus sebagai representasi seluruh kekuatan politik parlemen daerah. Setelah kesepakatan itu dicapai dan pimpinan pansus dibentuk, hasilnya kemudian disampaikan dalam rapat paripurna.
Dr. Ridwan Saptoto, S.Si., M.A., Psikolog. mengisi Kajian Kamis Sore di Masjid Kampus UGM. Dengan nada tenang namun tegas, ia mengangkat topik yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Menuhankan Uang: Hilangnya Marwah Manusia Akibat Materialisme.”
Dalam paparannya, Ridwan mengingatkan bahwa zaman modern menghadirkan bentuk “kesyirikan” baru. Jika dulu manusia menyembah berhala, kini banyak yang justru “menyembah” uang. Fenomena itu, katanya, terlihat jelas di berbagai kasus: mulai dari korupsi kuota haji hingga gaya hidup yang mengukur harga diri dari kendaraan yang dikendarai.