Keanekaragaman hayati bukan sekadar kekayaan alam yang dapat dibanggakan, melainkan tanda nyata kebesaran Allah yang seharusnya mengantarkan manusia pada kesadaran iman dan tanggung jawab moral. Pesan inilah yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D. dalam khotbah jumat di Masjid Kampus UGM. Melalui tema “Tanda Keagungan Allah dalam Keanekaragaman Hayati“, khotbah ini mengajak jemaah untuk memandang alam bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai ayat-ayat Allah yang hidup dan berbicara kepada manusia.
Budi membuka khotbah dengan mengingatkan pentingnya rasa syukur atas nikmat iman, islam, kesehatan, dan kesempatan hidup. Kesempatan untuk hadir dalam salat jumat, menurutnya adalah nikmat besar yang sering luput dari kesadaran. Tidak semua manusia diberi umur panjang, tidak semua diberi kesehatan, dan tidak semua diberi peluang untuk terus memperbaiki diri. Kesadaran ini menjadi fondasi penting sebelum manusia berbicara tentang tugas-tugas besar sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam perspektif keilmuan dan keimanan, Budi menegaskan bahwa Allah menciptakan bumi beserta seluruh isinya dalam keseimbangan yang sempurna. Keanekaragaman hayati mulai dari tumbuhan, hewan, hingga makhluk mikroskopis, bukanlah ciptaan yang berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam satu kesatuan ekosistem. Setiap makhluk memiliki peran dan fungsi yang unik, yang jika satu saja dirusak, akan berdampak pada keseluruhan sistem kehidupan. Inilah bentuk kasih sayang Allah yang nyata, sekaligus amanah besar bagi manusia.
“Allah menciptakan alam semesta berikut bumi yang diisi oleh makhluk hidup, mulai dari tumbuhan, hewan, hingga mikroba untuk melengkapi tugas manusia sebagai khalifatullah,” tutur Budi.
Baca juga: Ketua Departemen Antropologi FIB UGM Kritik Penggunaan Istilah “Bencana Alam”
Indonesia, menurut Budi adalah salah satu negara yang dianugerahi kekayaan hayati luar biasa. Bahkan, secara global, Indonesia menempati posisi teratas dalam hal kekayaan dan keanekaragaman hayati. Hutan, laut, gunung, dan berbagai ekosistem telah ada jauh sebelum manusia modern hadir. Manusia tidak menciptakan hutan, tetapi hutan diciptakan untuk manusia. Ironisnya, kekayaan ini justru sering diabaikan, dieksploitasi, bahkan dirusak atas nama kepentingan jangka pendek.
“Kita tidak pernah menanam hutan, tetapi Allah menciptakan hutan bagi bangsa kita,” kata Budi.
Ironisnya, kekayaan yang menjadi karunia tersebut justru sering diabaikan, dieksploitasi, bahkan dirusak demi kepentingan jangka pendek.
Khotbah ini juga menyoroti bagaimana keberkahan alam dapat berubah menjadi musibah ketika manusia gagal menjaga amanah. Hujan yang sejatinya membawa rahmat, dapat berubah menjadi bencana ketika hutan ditebang, tanah dirusak, dan keseimbangan alam diabaikan. Peristiwa banjir dan kerusakan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia menjadi cermin bahwa masalahnya bukan terletak pada alam, melainkan pada perilaku manusia yang lalai dan serakah.
Melalui ayat-ayat Alquran, Budi mengingatkan bahwa di bumi dan pada diri manusia sendiri terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau berpikir. Alam tidak pernah berhenti memberikan pelajaran, tetapi manusialah yang sering menutup mata dan hati. Keanekaragaman hayati seharusnya mendorong manusia untuk semakin tunduk, bukan semakin sombong; semakin menjaga, bukan semakin merusak.
Tanggung jawab manusia terhadap alam dirumuskan secara jelas dalam tiga prinsip utama: menjaga, merawat, dan melestarikan. Menjaga berarti tidak merusak dan tidak melampaui batas. Merawat berarti memanfaatkan alam secara harmonis dan berkelanjutan. Sementara melestarikan berarti memastikan bahwa generasi mendatang memiliki hak yang sama untuk menikmati kekayaan ciptaan Allah. Alam bukan warisan dari nenek moyang, melainkan titipan untuk anak cucu.
Budi juga menguatkan pesan khotbah dengan teladan Rasulullah ﷺ yang sangat menghargai kehidupan. Menanam pohon, menurut hadis, bukan sekadar aktivitas ekologis, tetapi bernilai sedekah yang pahalanya terus mengalir selama makhluk lain memanfaatkannya. Bahkan, ketika hari kiamat telah dekat, manusia tetap dianjurkan untuk menanam, sebagai simbol harapan dan tanggung jawab.
Kisah tentang seorang kakek yang tetap menanam pohon meski usianya renta menjadi penutup reflektif khotbah ini. Tindakan tersebut menggambarkan keimanan yang matang: berbuat baik bukan demi diri sendiri, tetapi demi keberlanjutan kehidupan. Pesan ini relevan bagi masyarakat modern yang sering terjebak pada orientasi instan dan keuntungan sesaat.
Melalui khotbah ini, Budi menegaskan bahwa menjaga keanekaragaman hayati bukan semata tugas ilmuwan, aktivis, atau pemerintah, melainkan kewajiban setiap insan beriman. Merawat alam adalah bagian dari ibadah, dan merusaknya adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah Allah. Kesadaran inilah yang diharapkan tumbuh, agar manusia kembali menempatkan diri bukan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai penjaga kehidupan.(Alkansa Fauziyah / Editor: Indra Oktafian Hidayat)