Membangun jiwa wirausaha dalam keluarga bukan sekadar mengejar profit semata, melainkan sebuah bentuk pengabdian kepada Allah. Pesan tersebut ditekankan oleh Direktur Operasional RZIS UGM, Taufikur Rahman, S.E., M.B.A., Ak., CA., dalam Sakinah Academy di Masjid Kampus UGM, Senin sore (12/1).
Bertajuk “Membangun Mindset Wirausaha dalam Keluarga: Dari Pencatatan Sederhana sampai Knowledge Management Keuangan”, Taufikur memaparkan bahwa paradigma bisnis Islam harus berlandaskan pada hakikat manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di bumi. “Kita memiliki misi. Selain beribadah kepada Allah swt., kita juga harus merealisasikan rahmatan lilalamin,” jelasnya.
Taufikur menjelaskan bahwa perdagangan adalah aktivitas yang halal dan sangat dianjurkan selama dilakukan dengan cara yang benar. Merujuk Q.S Al-Baqarah (2): 275, beliau menegaskan pemisahan yang jelas antara jual beli yang dihalalkan dan riba yang diharamkan.
Secara khusus, Dosen Akuntansi FEB UGM ini mengingatkan pada mahasiswa agar menjauhi utang-piutang yang kerap menjadi pintu masuk riba. “Utang piutang ini kalau tidak hati-hati setidaknya terjebak riba. Kedua, bisa terjebak di lingkaran setan yang membuat runyam diri sendiri,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa berdagang adalah cara paling ampuh untuk membentengi diri dari praktik riba.
Lebih lanjut Taufiqur mengutip Q.S An-Nisa: 29 dan Q.S Al-Mutaffifin untuk mengingatkan contoh-contoh perdagangan batil yang perlu dihindari. Ia menekankan bahwa dalam berdagang perlu ditempuh dengan cara yang makruf. “Kita tidak boleh zalim pada orang lain, misalnya mengakali hitungan dan takaran. Dalam Al-Quran, kita diperintahkan untuk berniaga dengan cara suka sama suka (makruf),” tuturnya.
Baca juga: Dekan Fakultas Biologi UGM: Alam Rusak karena Manusia Gagal Menjaga Amanah
Asas Bisnis Islam
Dalam membedah asas bisnis Islam, Taufiqur memaparkan bahwa dalam berniaga perlu dimulai dengan niat mencari saudara. “Dalam melakukan jenis usaha, perlu dimulai dengan niat mencari saudara bukan untuk mencari musuh atau pesaing,” ungkapnya.
Lebih lanjut, menurutnya, prinsip keadilan harus menjadi pilar utama agar bisnis membawa kebaikan bagi kedua belah pihak. Bisnis ddalam Islam tidak hanya berorientasi pada laba duniawi, tetapi juga pada investasi akhirat. “Kita berniaga bukan hanya untuk mencari dunia, tapi juga untuk urusan akhirat. Tidak hanya mencari laba, tapi mencari pahala atau rida Allah Swt.” paparnya.
Sebagai penutup, ia membagikan kiat bagi pemula yang ingin terjun ke dunia usaha. Taufikur menyarankan agar investasi dimulai dari kegiatan menabung. “Dari menabung, kita baru memikirkan bisnis yang tepat, kemudian memperhitungkan laba utuhnya,” pungkasnya.