Rektor UIN Sunan Kalijaga. Prof. Noorhaidi Hasan, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D. menegaskan pentingnya integritas dan kejujuran dalam dunia akademik di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Hal tersebut disampaikan dalam Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM pada Ahad (15/3) dengan tajuk “Etika, Integritas, dan Tantangan Pendidikan Tinggi di Indonesia”.
Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa tujuan utama ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk manusia yang bertakwa. Takwa, menurutnya, berkaitan erat dengan nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.
“Puasa adalah kawah candradimuka spiritual yang melatih kita mencapai derajat takwa. Hakikat takwa itu adalah integritas dan akuntabilitas, yaitu kejujuran dan tanggung jawab,” ujarnya di hadapan jemaah salat Isya dan tarawih Masjid Kampus UGM.
Integritas sebagai Pilar Peradaban
Noorhaidi menekankan bahwa kejujuran dan tanggung jawab merupakan fondasi penting dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga hingga kehidupan berbangsa. Tanpa kedua nilai tersebut, sebuah peradaban bisa mengalami kemunduran. Menurutnya, banyak peradaban besar runtuh bukan semata karena kemiskinan, melainkan karena hilangnya integritas moral dalam masyarakatnya. Oleh sebab itu, nilai kejujuran harus terus dijaga dan ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia kemudian mencontohkan kisah sufi besar Abdul Qadir al-Jailani yang sejak kecil diajarkan ibunya untuk selalu jujur dalam kondisi apa pun. Kejujuran tersebut bahkan mampu menyentuh hati para perampok yang merampas rombongannya hingga akhirnya mereka bertobat.
“Kisah ini menunjukkan bahwa kejujuran tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga dapat menyelamatkan orang lain dan masyarakat di sekitarnya,” jelasnya.
Baca juga: Kepala BMKG Ungkap Dampak Perubahan Iklim, dari Krisis Pangan hingga Konflik Sosial
Tantangan Integritas di Dunia Akademik
Dalam konteks pendidikan tinggi, Norhaidi mengingatkan bahwa tuntutan publikasi ilmiah yang semakin tinggi sering kali memunculkan praktik tidak sehat. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memang mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah publikasi ilmiah. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia berhasil masuk dalam 20 besar dunia dalam produktivitas publikasi jurnal ilmiah dan berada di lima besar Asia.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan kuantitas publikasi tidak selalu diiringi kualitas dan integritas yang memadai. Beberapa laporan bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah publikasi di jurnal predatory atau jurnal abal-abal yang cukup tinggi.
“Ini menunjukkan masih ada kecenderungan mengambil jalan pintas untuk terlihat produktif secara akademik,” ujarnya.
AI dan Ancaman Jalan Pintas Akademik
Ia juga menyoroti fenomena penggunaan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT dalam dunia pendidikan. Menurutnya, teknologi tersebut memang tidak bisa dihindari dan dapat dimanfaatkan untuk membantu pencarian data atau referensi. Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan justru dapat mematikan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
“Kalau berpikir saja diserahkan kepada AI, maka masa depan ilmu pengetahuan bisa suram. Ilmu pengetahuan dibangun dari pemikiran logis, kritis, dan kreatif yang dilatih melalui proses panjang,” tegasnya.
Ia berharap momentum Ramadan dapat memperkuat integritas akademik civitas akademika sehingga mampu menempuh “jalan sunyi ilmu pengetahuan” melalui riset yang serius dan mendalam, bukan melalui jalan pintas.
“Dengan meningkatnya integritas dan akuntabilitas, kita akan mampu menjalani proses ilmiah secara jujur dan bertanggung jawab,” pungkasnya.