• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Rektor UIN Sunan Kalijaga Peringatkan Bahaya Jalan Pintas Akademik di Era AI

Rektor UIN Sunan Kalijaga Peringatkan Bahaya Jalan Pintas Akademik di Era AI

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 17 Maret 2026, 09.15
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Rektor UIN Sunan Kalijaga. Prof. Noorhaidi Hasan, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D. menegaskan pentingnya integritas dan kejujuran dalam dunia akademik di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Hal tersebut disampaikan dalam Ramadan Public Lecture (RPL) di Masjid Kampus UGM pada Ahad (15/3) dengan tajuk “Etika, Integritas, dan Tantangan Pendidikan Tinggi di Indonesia”.

Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa tujuan utama ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk manusia yang bertakwa. Takwa, menurutnya, berkaitan erat dengan nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan.

“Puasa adalah kawah candradimuka spiritual yang melatih kita mencapai derajat takwa. Hakikat takwa itu adalah integritas dan akuntabilitas, yaitu kejujuran dan tanggung jawab,” ujarnya di hadapan jemaah salat Isya dan tarawih Masjid Kampus UGM.

Integritas sebagai Pilar Peradaban

Noorhaidi menekankan bahwa kejujuran dan tanggung jawab merupakan fondasi penting dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga hingga kehidupan berbangsa. Tanpa kedua nilai tersebut, sebuah peradaban bisa mengalami kemunduran. Menurutnya, banyak peradaban besar runtuh bukan semata karena kemiskinan, melainkan karena hilangnya integritas moral dalam masyarakatnya. Oleh sebab itu, nilai kejujuran harus terus dijaga dan ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia kemudian mencontohkan kisah sufi besar Abdul Qadir al-Jailani yang sejak kecil diajarkan ibunya untuk selalu jujur dalam kondisi apa pun. Kejujuran tersebut bahkan mampu menyentuh hati para perampok yang merampas rombongannya hingga akhirnya mereka bertobat.

“Kisah ini menunjukkan bahwa kejujuran tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga dapat menyelamatkan orang lain dan masyarakat di sekitarnya,” jelasnya.

Baca juga: Kepala BMKG Ungkap Dampak Perubahan Iklim, dari Krisis Pangan hingga Konflik Sosial

Tantangan Integritas di Dunia Akademik

Dalam konteks pendidikan tinggi, Norhaidi mengingatkan bahwa tuntutan publikasi ilmiah yang semakin tinggi sering kali memunculkan praktik tidak sehat. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memang mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah publikasi ilmiah. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia berhasil masuk dalam 20 besar dunia dalam produktivitas publikasi jurnal ilmiah dan berada di lima besar Asia.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan kuantitas publikasi tidak selalu diiringi kualitas dan integritas yang memadai. Beberapa laporan bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah publikasi di jurnal predatory atau jurnal abal-abal yang cukup tinggi.

“Ini menunjukkan masih ada kecenderungan mengambil jalan pintas untuk terlihat produktif secara akademik,” ujarnya.

AI dan Ancaman Jalan Pintas Akademik

Ia juga menyoroti fenomena penggunaan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT dalam dunia pendidikan. Menurutnya, teknologi tersebut memang tidak bisa dihindari dan dapat dimanfaatkan untuk membantu pencarian data atau referensi. Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan justru dapat mematikan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

“Kalau berpikir saja diserahkan kepada AI, maka masa depan ilmu pengetahuan bisa suram. Ilmu pengetahuan dibangun dari pemikiran logis, kritis, dan kreatif yang dilatih melalui proses panjang,” tegasnya.

Ia berharap momentum Ramadan dapat memperkuat integritas akademik civitas akademika sehingga mampu menempuh “jalan sunyi ilmu pengetahuan” melalui riset yang serius dan mendalam, bukan melalui jalan pintas.

“Dengan meningkatnya integritas dan akuntabilitas, kita akan mampu menjalani proses ilmiah secara jujur dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Post Views: 35
Tags: ChatGPT di kampus etika pendidikan tinggi integritas akademik integritas civitas akademika jurnal predatory Kajian Jogja Kajian Maskam Jogja kajian Ramadan UGM Masjid Kampus UGM Maskam UGM Norhaidi Hasan publikasi ilmiah Indonesia Ramadan tantangan AI

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Dokter Spesialis Anak Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Pranikah sebagai Bekal Membangun Keluarga Sehat
  • Menilik Sejarah Tahun Baru Islam, Guru Besar Hukum UGM Ajak Jamaah Refleksikan Jejak Hijrah Indonesia
  • Self-Compassion bagi Mahasiswa: Pesan Aisha Sekar Lazuardini, Psikolog UGM, untuk Berdamai dengan Target dan Ekspektasi
  • Jangan Jadi “Hamba Musiman”: Pesan Mendalam Ustaz Elan Kurniawan tentang Konsistensi Ibadah
  • Guru Besar Fisipol UGM Bahas Nasionalisme Indonesia di Era Digital dalam Menghadapi Narasi Kebencian
Universitas Gadjah Mada

Masjid Kampus UGM

Jl. Tevesia Bulaksumur No.1, 55281 Depok DIY

masjidkampus@ugm.ac.id
0812-2540-0933
@masjidkampusugm

© Takmir Masjid Kampus UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY